Mental Jawara Ayam Petarung di Yogyakarta dan Perawatannya

Seorang peternak ayam petarung di Yogyakarta menceritakan hal-hal yang bisa dicontoh dari ayam-ayam aduan tersebut.
Roesbiyanto, 48 tahun, sedang memegang salah satu ayam petarung miliknya, Senin siang, 22 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Sejumlah kandang bambu berisi ayam jantan aduan berjejer di salah satu rumah di kawasan Kadipiro, Kelurahan Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, siang itu, Senin, 22 Februari 2021.

Sesekali ayam-ayam itu berkokok nyaring, seolah ingin mengejek dan menantang ayam lain untuk bertarung. Kokoknya dibalas oleh ayam lain yang seperti tidak mau kalah.

Pemilik ayam-ayam di peternakan ayam aduan Suro Bledheg itu sengaja dijemur oleh pemiliknya, Roesbiyanto, 48 tahun, sebagai salah satu perawatan wajib bagi para petarung tersebut.

Roes, sapaan akrab Roesbiyanto sudah 25 tahun menjadi peternak ayam aduan, tepatnya tahun 1996.

“Kalau di sini baru sekitar 4 tahun, tapi kalau di rumah yang timur sudah sejak 1996,” ucap pria yang berprofesi sebagai perawat ini menjelaskan.

Mental Petarung

Roes mengaku, awalnya dia hanya memelihara beberapa ekor ayam saja sebagai hobi. Dia tertarik pada ayam aduan karena dari ayam-ayam petarung tersebut banyak hal yang bisa dipelajari dan dicontoh.

Menurutnya, ayam-ayam petarung memiliki berbagai karakter, tetapi dari seluruh ayam petarung, ada beberapa kesamaan, yakni mereka lebih tahan sakit daripada manusia.

Ceruta Ayam petarung 2Salah satu anakan ayam petarung yang diternakkan oleh Roesbiyanto, 48 tahun, di kawasan Kadipiro, Kelurahan Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Senin, 22 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Banyak pelajaran bisa diambil dari ayam petarung, termasuk karakter. Jadi, kalau ayam itu dia lebih tahan sakit dibandingkan manusia.”

Sebagian ayam-ayam petarung itu juga memiliki mental yang patut dicontoh, yakni mental untuk tidak mudah menyerah. Dia mencontohkan salah satu ayam yang matanya pecah saat bertarung melaean ayam lain.

“Untuk mental fighter, ayam itu meskipun sampai matanya pecah saat bertarung, dia masih tetap melajutkan pertarungan. Mental berjuangnya itu yang patut dicontoh,” kata Roes menambahkan.

Ada juga ayam yang memberikan psy war atau perang psikis sebelum bertarung. Kata Roes, ayam itu seperti menggertak lawannya dan memberikan pesan, “Kamu pergi dari sini atau kamu saya matikan”.

Jenis ayam petarung yang diternakkan oleh Roes ada beberapa jenis, mulai dari jenis Plaker, Magon, Bangkok, Birmaa, dan Manadaeng.

Dari jenis-jenis ayam itu, sebagian merupakan ayam berdarah murni, dan lainnya merupakan darah campuran. Ayam berdarah keturunan murni adalah ayam Bangkok dan Birma. Sementara jenis lainnya merupakan ayam hasil kawin silang.

Magon itu silangan antara Birma dan Saigon. Ayam Saigon berasal dari Saigon, Vietnam.

Ayam Saigon mempunyai ciri khas berupa kepala yang botak. Ayam jenis itu memiliki pukulan yang kuat dan tubuh yang keras, hanya saja ayam jenis Saigon kurang agresif saat bertarung. Sementara, ayam Birma memiliki tubuh yang lebih kecil dengan tulang yang kecil. Kelebihan ayam Birma adalah mereka lebih agresif dan cepat saat bertarung.

“Makanya disilangkan dengan Birma yang tulangannya kecil tapi agresif dan pukulannya cepat. Kalau untuk adu otot ayam Birma kalah karena tulangannya tipis, makanya di-upgrade dengan Saigon. Magon itu tubuhnya seperti Saigon tapi pukulannya cepat seperti Birma.”

Cerita Ayam Petarung 3Dua ayam petarung milik Rosebiyanto, 48 tahun, saling berhadapan dan saling menantang, Senin, 22 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Selain ayam Wagon, Roes pun beternak ayam petarung jenis Manadaeng yang juga merupakan hasil perkawinan silang atau berdarah campuran.

Meskipun merupakan kawin silang, ayam jenis Manadaeng yang ada saat ini sudah menjadi ras baru, artinya saat ayam jenis ini diternakkan, keturunannya akan memiliki karakter yang sama dengan indukannya. Kelebihan ayam Manadaeng adalah gaya bertarungnya yang brutal.

“Tapi sekarang sudah jadi ras tersendiri. Kalau diternakkan, keturunannya gaya memukulnya sama seperti indukannya, agak brutal dan agresif. Manadaeng itu diprediksi akan tren pada akhir tahun 2021,” ucap Roes sambil menunjukkan ayam-ayamnya.

Roes menambahkan, saat ini ayam miliknya hanya tersisa sekitar 60 ekor saja, sebagian ayam-ayamnya sudah laku terjual. Dulu dia sempat memelihara hingga 350 ekor ayam aduan di tempat itu.

Melatih Ayam

Menjadi peternak ayam petarung menurutnya tidak terlalu rumit, sebab ayam-ayam petarung tanpa dilatih pun mereka sudah memiliki jiwa petarung atau insting untuk bertarung. Tetapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merawat ayam-ayam itu agar memiliki otot dan fisik sesuai dengan harapan.

Selain menjemur ayam di bawah sinar matahari dan melepaskannya dari kandang selama dua jam, hal yang harus diperhatikan adalah pemberian pakan, agar berat badan ayam tidak berlebihan.

Cerita Ayam Petarung 4Roesbiyanto, 48 tahun, memasukkan jamu ke dalam paruh ayam petarung miliknya, Senin, 22 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Pakan untuk ayam petarung itu harus mencukupi kebutuhan nutrisi. Kita kan mau cari atlet, jadi jangan sampai kegemukan, karena bobot memengaruhi perform,” kata Roes sambil memberi jamu pada salah satu ayamnya. Bobot ayam tidak boleh terlalu kurus dan tidak boleh terlalu gemuk.

Pada event kontes ayam aduan, berat badan menjadi sesuatu yang penting. Sebab berat badan ayam menjadi patokan untuk mengikuti kelas kontes, mulai dari berat 2,6 kilogram, 2,8 kilogram, 3 kilogram, 3,2 kilogram, hingga 3,4 kilogram.

Perawatan lain adalah mengadunya dengan ayam lain sebagai ajang latihan fisik untuk menghadapi pertarungan yang sesungguhnya. Biasanya pada sesi latihan, ayam-ayam itu hanya diadu selama tiga hingga lima menit.

Setelah ayam-ayam bertarung dalam kontes, mereka akan diistirahatkan selama minimal dua pekan untuk memullihkan kondisi dan luka yang dialami.

“Kalau di ajang pro susah dapat yang legal, di situ los jalu. Jadi tajinya tidak dibungkus. Kalau di kelas kontes, taji ayamnya dibungkus supaya kalau mengenai lawan efek cederanya tidak parah, yang dinilai cuma angka, seperti tinju atau karate. Petinju kan pakai sarung.”

Durasi pertarungan ayam di kontes resmi mulai dari 15 menit hongga 20 menit. Para juri di kontes resmi dibekali dengan alat penghitung pukulan ayam. “Ada alat penghitung pukulan, siapa yang paling banyak masuk pukulannya. Yang fatal-fatal itu nilainya dobel. Kalau di karate ada ipong dan waseri,” ucap Roes menambahkan.

Cerita Ayam petarung 5Salah seekor ayam petarung milik Roesbiyanto, 48 tahun, sedang bertengger di atas kandang dari anyaman bambu, Senin, 22 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Latihan fisik lain yang dilakukan pada ayam sebelum memasuki arena kontes adalah mememgang ekor dan mengangkatnya beberapa sentimeter dari tanah. Tujuannya untuk menguatkan cakarnya.

Sejak pandemi Covid-19, event-event kontes ayam petarung banyak yang dibatalkan. Hal itu, lanjut Roes, untuk mencegah terjadinya kerumunan. Sebab dalam event semacam itu hampir bisa dipastikan akan menimbulkan kerumunan.

“Yang dibatasi kan berkerumun, padahal kontes seperti itu kan pasti ada kerumunan. Event ayam aduan ya berhenti. Kalau di kontes, murni tidak ada judi,” jelasnya.

Mengenai harga ayam petarung, Roes mengaku tidak ada standar harga untuk ayam-ayam aduan, sebab itu berkaitan dengn hobi. Meski demikian, untuk anak-anak ayam hasil ternaknya, dia membanderol dengan harga termurah antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Dalam memelihara dan merawat ayam-ayam petarung miliknya, Roes dibantu oleh sang istri, Utami, 41 tahun. Utami bertugas memberi makan setiap pagi dan sore, yakni pukul 08.00 dan pukul 16.00.

Kata Utami, ayam-ayam itu sudah tahu waktu makannya. Mereka akan ogah-ogahan memakan pakannya jika diberikan di luar waktu makan tersebut.

Awalnya, kata Utami, dirinya sama sekali tidak tertarik memelihara ayam. Bahkan pada awal sang suami beternak ayam, Utami sempat menangis saat diminta memberi makan ayam-ayam itu.

“Dulu aku pernah disuruh kasih makan ayam karena Mas Roes masuk sore, tapi kan aku nggak suka, jadi ayamnya nggak aku kasih makan,” ucapnya menceritakan.

Saat sang suami pulang kerja dan menanyakan perihal makanan ayam, Utami dengan percaya diri mengatakan ayam-ayam itu sudah diberinya pakan. Tapi sang suami mengecek tembolok ayam-ayam itu, dan menemukan bahwa tembolok mereka masih kosong.

“Jadi aku disuruh kasih makan. Dari rumah pakai payung, jam sembilan malam. Aku kasih makannya sambil nangis-nangis,” kata Utami sambil tertawa.

Tapi kini dia sudah terbiasa dengan rutinitas memberi makan ayam, dan justru menyukai aktivitas tersebut. “Sekarang malah suka,” ucapnya. []

Berita terkait
Jumat Kelabu di Kediaman Pendiri Tagar.id Viktor S Sirait
Langit kelabu memayungi perumahan keluarga pendiri Tagar.id Viktor S. Sirait di Cibinong, Jumat itu. Tanah basah menghampar, jejak hujan pagi.
2 Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Yogyakarta
Raja-raja Mataram di Yogyakarta memiliki pemakaman khusus yang disiapkan oleh kerajaan, yakni Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri dan Kotagede
Makna 64 Beringin di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta
Ada filosofi dari 64 pohon beringin di sekitar Alun-alun Utara Yogyakarta, termasuk sepasang beringin yang terletak tepat di tengah alun-alun.
0
MAKI Daftarkan Uji Materi soal TWK Pegawai KPK ke MK
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia mengajukan uji materi soal tes wawasan kebangsaan pegawai KPK ke Mahkamah Agung yang saat ini menjadi polemik.