UNTUK INDONESIA

Regenerasi Perajin Emping Melinjo Rendah Purin di Yogyakarta

Seorang pembuat eming mlinjo di Yogyakarta membuat emping rendah purin yang diklaim tidak akan menyebabkan asam urat.
Nur Mintari, 42 tahun, sedang menjemur emping mlinjo rendah purin di rumahnya, Tegalkenongo, Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Senin, 1 Maret 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Bantul – Sejumlah nampan besar yang terbuat dari anyaman bambu berjejer di atas semacam dudukan besi. Nampan-nampan itu berisi emping mlinjo yang dijemur. Siang itu, Senin, 1 Maret 2021, matahari bersinar cukup terik di kawasan sentra perajin emping mlinjo, Tegalkenongo, Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Seorang perempuan berkaus biru terlihat mengatur emping-emping yang dijemur agar keringnya merata. Sementara, tidak jauh dari perempuan bernama Nur Mintari, sang ibu tampak memberi arahan dari ruangan berisi etalase.

Seluruh etalase yang ada di situ berisi emping mlinjo beragam rasa, mulai dari rasa asin, manis, pedas, gurih, dan pedas manis. Selain emping beraneka rasa, juga ada emping yang rendah purin sehingga tidak memicu asam urat.

Cerita Emping 2Sukati, 63 tahun (kanan) dan Nur Mintari, 42 tahun (kiri) sedang menjemur emping mlinjo di rumahnya, Senin, 1 Maret 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Di halaman, Nur melanjutkan aktivitasnya. Dia menuju sudut halaman dan menyalakan kompor. Tangannya lincah menaikkan wajan kecil berisi pasir untuk menyangrai biji mlinjo. Biji mlinjo yang sudah selesai disangrai kemudian dikupas kulitnya dan ditumbuk menggunakan palu berukuran sedang.

Tak Sebabkan Asam Urat

Usaha pembuatan emping mlinjo itu milik Sukati, 63 tahun. Dia memulai usahanya pada tahun 1983 dan mengajarkan proses pembuatan emping pada warga sekitar.

Awalnya, kata Sukati, ide untuk membuat emping mlinjo muncul saat dia melihat pohon mlinjo milik tetangganya yang berbuah lebat tapi tidak dimanfaatkan.

Saya dimodali melinjo sebanyak 5 kilogram oleh tetangga saya yang punya pohon.

Saat itu warga kampungnya belum bisa membuat mlinjo. Sedangkan dia sudah sejak lama bisa membuat mlinjo setelah bekerja pada sang kakak yang juga peraji emping mlinjo di Wonogiri, Jawa Tengah.

“Waktu itu belum ada yang bisa bikin emping. Kemudian ibu-ibu di sini saya ajak untuk bikin emping, terus saya dimodali melinjo sebanyak 5 kilogram oleh tetangga saya yang punya pohon,” kata dia mengenang.

Usahanya sempat terhenti selama hampir dua tahun karena Sukati kekurangan modal. Tapi dia mencoba untuk bangkit dan memulai kembali usahanya. Dulu Sukati bahkan memiliki cukup banyak karyawan, yang kemudian membuka usaha yang sama setelah belajar dari dirinya.

Saat ini di kampung tersebut terdapat 34 orang yang menjadi perajin emping melinjo, dan Kampung Tegalkenongo menjadi sentra pembuatan emping melinjo.

Sukati dan 15 warga lain sempat membuat kelompok perajin emping mlinjo dan mengajukan permohonan bantuan pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul. Kala itu kelompoknya mendapat bantuan sevesar Rp 10 juta, dan digunakan sebagai modal produksi.

Cerita Emping 3Sukati, 63 tahun, memperlihatkan beberapa jenis emping mlinjo buatannya, Senin, 1 Maret 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Waktu itu dapat Rp 10 juta untuk 16 orang atau satu kelompok.”

Emping mlinjo buatannya pun bukan hanya emping mlinjo biasa, yang disebut-sebut sebagai pemicu asam urat. Sukati mulai memroduksi emping mlinjo rendah purin yang tidak menyebabkan asam urat sejak 6 tahun lalu.

“Sekitar 6 tahun lalu, kan ada warga Tegalkenongo yang bekerja sebagai dosen di UAD, dia mengusulkan untuk membuat emping yang tidak memicu asam urat. Bahannya tetap dari buah mlinjo, tapi dicampur dengan daun kepel dan daun suji,” ucap Sukati melanjutkan.

Dia menambahkan, sejak beberapa tahun terakhir dirinya hanya melayani pesanan emping mlinjo mentah atau belum digoreng. Padahal saat awal membuak usaha, dia menjual emping yang sudah digoreng kemudian dititipkannya di warung-warung.

“Tapi lama-lama banyak yang pesan emping mentah, jadi yang matang saya stop, tidak menitip ke toko lagi dan khusus memroduksi mentah,” tuturnya.

Pesanan emping mlinjo buatannya bukan hanya berasal dari sekitar Yogyakarta dan sekitarnya saja, tetapi juga sampai ke Bandung dan Jakarta. Bahkan dia melayani pesanan rutin dari pelanggannya di Mekah, Arab Saudi.

“Di Mekah minta setiap bulan dikirimkan, tapi sejak pandemi ini pesanannya berkurang. Selama pandemi rata-rata habis satu kuintal dalam sebulan, kalau sebelum pandemi sekitar1,5 sampai 2 kuintal per bulan,” ucapnya.

Biasanya emping mlinjo laris pada bulan Desember, pada bulan Ramadan, dan saat musim liburan tiba. Tak jarang para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta langsung menuju ke kediamannya untuk membeli oleh-oleh emping.

Proses Pembuatan

Proses pembuatan biji mlinjo menjadi emping tidak terlalu rumit. Pertama, biji mlinjo digoreng sangan (sangrai), setelah setengah matang diangkat dan dikupas kulitnya kemudian langsung ditumbuk. Setelah itu dijemur.

Cerita Emping 4Nur Mintari, 42 tahun, sedang menumbuk biji mlinjo yang telah digoreng sangrai, Senin, 1 Maret 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Proses penjemuran emping memakan waktu sekitar 2 hingga 3 jam jika matahari bersinar terik. Tetapi, saat cuaca mendung, bisa mencapai 2 hari. “Biasanya kalau panas, pagi djemur dan diberi garam, sore sudah bisa dibungkus.”

Sukati menjual emping original seharga Rp 80 ribu per kilogram, sedangkan emping rendah purin dibanderol dengan harga Ro 130 ribu per kilogram. Harga itu menurutnya tidak stabil dan dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung pada harga bahan baku.

“Biasanya saat bulan Ramadan itu harganya meningkat,” ucapnya.

Dalam sehari dia bisa memroduksi sekitar 5 kilogram mlinjo di rumahnya. Sedangkan untuk karyawan yang membantunya membuat emping mlinjo di rumah masing-masing, kata dia bisa menyetor 20 kilogram emping per pekan.

“Ada juga yang membawa pulang biji mlinjo, nanti disetor ke sini setelah jadi emping, itu seminggu habis 20 kilogram mlinjo. Ongkos pembuatan per kilogram Rp 10 ribu.”

Dari satu kilogram biji mlinjo bisa menghasilkan sekitar setengah kilogram emping, atau menyusut sekitar 50 persen.

Cerita Emping 5Proses pengupasan kulit biji mlinjo setelah disangrai setengah matang dan sebelum ditumbuk, Senin, 1 Maret 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Mengenai bahan baku, dia mengatakan saat ini mulai sedikit sulit. Beruntung Sukati sudah mempunyai langganan tetap penyuplai mlinjo. Biasanya dia membeli antara 20 hingga 50 kilogram sekali pesan. Bahan baku diambil dari Gamping, Bantul, dll. Semuanya dari area Yogyakarta.

“Sekarang bahan baku sedang mahal, sekilogram antara Rp 23 ribu hingga Rp 25 ribu. Kalau kemarin-kemarin sempat turun di kisaran Rp 10 ribu.”

Kini, selain dirinya, sanga anak pun melanjutkan profesinya sebagai perajin emping mlinjo. Bahkan salah satu anaknya sudah memiliki brand yang berbeda dengan sang ibu meski mlinjo bahan bakunya tetap diambil dari sang ibu.

“Awalnya cuma menjualkan punya saya. Sekarang dia sudah lengkap izin Industri Rumah Tangga juga.”

Sang anak, Nur Mintari, 42 tahun, mengatakan dirinya meneruskan usaha sang ibu sejak 2007. Proses tersulit untuk membuat emping menurutnya adalah pembuatan emping rendah purin.

“Susahnya karena menjemur dan membumbuinya satu per satu. Jadi setelah ditumbuk dan dikeringkan, kemudian bikin bumbu rendah purinnya. Bentuknya seperti bubur. Nah empingnya dimasukkan satu per satu dan dijemur satu per satu juga.”

Cerita Emping 6Proses penumbukan biji mlinjo untuk dibuat menjadi emping, Senin, 1 Maret 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sekilo daun kepel dan daun suji bisa digunakan untuk memroduksi 9 kilogram emping rendah purin, yang diproduksi selama satu hari.

Dia mengaku tertarik melanjutkan usaha emping karena sejak kecil sudah terbiasa membantu sang ibu membuat emping. Selain itu, dia sempat berhenti bekerja karena anaknya masih kecil-kecil. Sehingga dia memutuskan untuk membuat emping agar kegiatannya di rumah tetap bisa menghasilkan uang.

“Akhirnya karena di rumah ada produk, kita tinggal bantu pemasaran, packing, dll. Saya juga sekalian jual nasi goreng selama pandemi,” ucapnya.

Sementara, anak sulung Sukati, Maryati, 44 tahun, mengaku dirinya juga turut memasarkan emping produksi sang ibu di rumahnya, di kawasan Alun-Alun Selatan Yogyakarta.

“Produknya dari sini. Saya siapkan di rumah, di sekitar Alun-Alun Selatan, supaya orang nggak kejauhan ambil emping,” ucap Maryati yang mengaku saat masih kecil sering membantu sang ibu memasarkan emping ke warung-warung. []

Berita terkait
Berkah Limbah Ban Bekas Kala Pandemi di Yogyakarta
Seorang pemilik bengkel las di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menjadi perajin pot berbahan ban bekas akibat pandemi.
Band Punk Rebel Riot Protes Antikudeta di Myanmar
Salah satu band punk terkenal di Myanmar membuat video klip lagu terbaru sebagai bentuk aksi proter antikudeta di negara itu.
Rezeki dari Bongkahan Batu Berlubang di Yogyakarta
Pandemi Covid-19 menyebabkan seorang pemuda di Yogyakarta harus dirumahkan dari tempatnya bekerja. Dia pun memulai usaha barunya menjual batu.
0
Harapan Kepala BKKBN Pusat Hasto Wardoyo Terkait Stunting di Sulsel
Kepala Badan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Hasto Wardoyo berharap di 2021 angka stunting di Sulsel menurun.