UNTUK INDONESIA
Rasanya Menjadi Istri dan Anak Prajurit TNI
Ratusan prajurit TNI Kodam XIV Hasanudin berangkat ke Lebanon untuk misi perdamaian dunia. Kesedihan dari anak istri mengiringi kepergian mereka.
Seorang prajurit Kodam XIV Hasanudin tersenyum haru demi melihat tangis istri dan anaknya sesaat sebelum berangkat ke Lebanon, Selasa 3 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Makassar - Keharuan menyeruak di halaman Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar pagi itu. Isak tangis bercampur kebanggaan dari istri dan anak-anak mengiringi prosesi pelepasan ratusan tentara Kodam XIV Hasanuddin ke medan tugas di negeri orang.

Sebanyak 431 prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) di lingkungan Batalion Infanteri (Yonif) 726 Tamalatea mengikuti apel pelepasan penugasan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) satuan tugas kontingen Garuda Unifil di Lebanon. Mereka akan bertugas selama setahun ke depan untuk misi perdamian. 

Apel digelar Selasa 3 Desember 2019. Para prajurit TNI telah berkumpul di Pelabuhan Soekarno Hatta sejak pagi hari. Terlihat juga ratusan keluarga, baik itu istri, orang tua maupun anak-anak dari para tentara. Mereka turut hadir di apel untuk ikut melepas sosok yang dicintai.   

Pelaksanaan apel pelepasan dimulai pukul 08.58 Wita. Apel ini dipimpin langsung oleh Panglima Kodam Hasanuddin, Mayor Jenderal Surawahadi. Sekitar 15 menit lebih Surawahadi menyampaikan amanat dan memberikan motivasi kepada sejumlah prajurit yang akan segera berangkat.

Dalam amanatnya, Surawahadi meminta prajuritnya bisa fokus dan tidak terlalu terbebani dengan pikiran keluarga yang ditinggalkan. Hal serupa juga disampaikan mantan Danpussenif Kodiklatad itu kepada para istri tentara. Agar mereka bisa menahan diri untuk tidak membebani pikiran suaminya yang hendak bertugas.

Diakhir sambutan Surawahadi mengundang seorang istri tentara untuk memberikan sepatah dua patah kata. Istri tentara yang dipanggil itu ternyata tengah hamil dan tidak akan lama lagi akan melahirkan. Dia adalah Hardianty, istri dari Letnan Satu Infanteri Ormuzd Adji Wibowo.

Semoga selamat sampai tujuan dan kembali lagi ke asal dengan tanpa kurang seorang pun.

TNI 2Lettu Ormuzd Adji Wibowo memeluk istrinya Hardianti yang tengah hamil tua, dalam pelepasan kontingen Garuda Unifil Lebanon, di Pelabuhan Soekarno Hatta, Selasa 3 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Di atas panggung, saat memberikan semangat kepada suami dan ratusan prajurit lain, Anty, begitu biasa disapa, tidak mampu menahan kesedihannya. Air mata jatuh ke pipi. Suaranya sesekali terdengar suara berat saat mengucap kata. 

“Semoga selamat sampai tujuan dan kembali lagi ke asal dengan tanpa kurang seorang pun,” kata Anty sembari mengelap air mata yang membasahi pipi.

Apel rampung pukul 09.35 Wita. Usai apel, Tagar mencoba untuk menemui Anty yang duduk di tenda bersama tamu dan istri tentara lainnya. Kesempatan untuk wawancara terbuka. Dan dengan keramahannya, didampingi suami, ia menjawab semua pertanyaan. 

Seperti bagaimana perasaannya akan ditinggal oleh suami dalam kondisi hamil tua. Anty mengaku ikhlas meski dalam sanubarinya merasakan kesedihan. Apalagi menurut perkiraan dokter bulan Desember 2019 ini ia akan melahirkan anak pertamanya.

“Kalau mau jujur pasti sedih akan ditinggal oleh suami dalam waktu yang lama, apalagi saya sudah akan melahirkan dan tanpa ada suami di sisi saya,” ucap Anty dengan air mata yang ikut keluar.

Anty dan Adji, panggilan dari Ormuzd Adji Wibowo, menyebutkan mereka belum genap setahun menjalin bahtera rumah tangga. Keduanya menikah pada Maret tahun ini .

“Perasaan saat ini campur aduk,” ucap Anty. 

Sementara itu, Adji mengatakan sebagai prajurit TNI, siap tidak siap ia harus siap untuk meninggalkan istrinya dalam waktu yang lama. Karena kepergian ke Lebanon bukan untuk berwisata atau kegiatan senang-senang. Melainkan menjalankan misi perdamaian yang ditugaskan oleh negara.

“Sedih juga tidak bisa mendampingi istri untuk melahirkan. Tapi mau bagaimana lagi, tugas dari negara sudah memanggil dan sebagai sorang prajurit wajib menjalankan perintah itu,” kata dia.

Pria berbadan tinggi itu berharap, istrinya bisa melahirkan dengan selamat. Doa sehat untuk anak dan istrinya juga akan selalu ia panjatkan di tanah penugasan. Dan ia akan mendampingi istri saat melahirkan. Tentu menggunakan teknologi informasi, sambungan video call

“Saya bawa foto kenangan bersama istri, sebagai obat rindu saat berada di tempat tugas,” imbuh Adji. 

Kesedihan Anak

Berbeda dengan Adji dan Anty, Kopral Dua Jumaris pagi itu diantar dua anak beserta istrinya, Darmiati. Anak Jumaris, Almira Tungga Dewi berusia 8 tahun dan Ariska Savana 7 tahun terlihat tidak bisa menahan rasa sedihnya. 

Sedih rasanya ingin berpisah dengan ayah dalam waktu yang cukup lama.

TNI 3Kopda Jumaris menggendong dan mencium anaknya yang terus menangis sesaat sebelum berangkat penugasan ke Lebanon. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Waktu 15 menit untuk menemani sang ayah di kapal yang akan berangkat ke Lebanon itu terasa sangat pendek. Sepanjang waktu itu pula dua anak Jumaris terus menangis. 

“Sedih rasanya ingin berpisah dengan ayah dalam waktu yang cukup lama,” tutur Almira sesenggukan. 

Jumaris sendiri mengaku penugasan ke medan konflik bukan hal asing baginya. Sudah tiga kali ia menjalankan tugas ke luar Sulawesi Selatan. “Saya pernah bertugas di Merauke, perbatasan negara dengan Papua New Guinea, dan juga di Maluku Utara,” ujar pria asal Kabupaten Jeneponto itu.

Namun demikian, penugasan kali ini terasa berbeda. Karena selain jaraknya jauh, juga di luar negeri, tidak lagi di Indonesia. “Sedih juga rasanya akan meninggalkan keluarga selama setahun ke depan, tapi ini sudah tugas jadi harus dijalani dengan ikhlas,” sambung dia.

Jumaris bermunajat anak dan istrinya selama setahun ke depan selalu dilindungi Maha Kuasa, sampai dirinya kembali dengan selamat. “Saya pesankan agar meskipun saya jauh, istri bisa membantu merawat dan mendidik anak dengan baik,” tuturnya dengan tatapan mesra ke istri. 

Senada disampaikan Darmiati. Selama menikah, Jumaris sudah beberapa kali menjalankan tugas negara. Dan selama penugasan suaminya itu pula merangkap kepala rumah tangga dan ibu bagi anak-anaknya. 

Tapi penugasan suaminya kali ini beda dengan penugasan-penugasan sebelumya. Diakui pasti akan ada rasa rindu yang tertahan namun sebagai istri prajurit TNI ia harus kuat dan tabah. 

“Sejujurnya perasaan saya sedih tapi harus ikhlas karena ini tugas negara,” ujar Damiati dengan raut wajah yang spontan 

Untuk mengobati rasa rindu selama di Lebanon, Jumaris membawa foto anak istri yang akan ditempel di tempat tinggal penugasan. “Jadi kalau lihat fotonya bisa mengobati rindu. Juga membuat saya semakin semangat dalam melaksanakan tugas,” ucap dia.

Natal Tanpa Suami

Cerita beda datang dari prajurit lain, Kopral Dominggus. Penugasan ke Lebanon harus membuatnya berpisah dengan istri, Imelda dan Cinta Kristi empat tahun. Dominggus dan Imelda menikah pada tahun 2014 dan harus merelakan untuk tidak merayakan Natal bersama pada tahun ini.

“Ini kali pertama tidak merayakan Natal bersama suami. Momen Natal nanti akan saya rayakan bersama dengan anak tercinta,” kata Imelda, perempuan asal Sorowako itu.

Penugasan Dominggus juga merupakan yang pertama kalinya sejak menikah. Hal itu juga yang membuat kesedihan membekap hati Imelda “Saya pernah bertugas di Poso pada tahun 2005, tapi pada saat itu masih muda jadi tidak ada beban yang dipikirkan,” kata Dominggus.

Ini kali pertama tidak merayakan Natal bersama suami.

TNI 4Kopral Domingus bersama anak dan istrinya tidak bisa merayakan Natal bersama tahun ini. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Sebelum naik ke kapal yang akan mengangkutnya, Domingus terus menggendong Cinta. Ia mendekap dan sesekali ciuman mendarat halus di kening bocah itu. 

“Kalau kangen dengan anak istri, saya akan melihat foto-fotonya dan kalau memungkinkan juga akan melakukan video call sebagai pengobat rindu,” ujar dia. 

Terpancar jelas dari wajah Dominggus maupun Imelda sebuah kesedihan yang tak bisa terukir dengan kata. Namun keduanya harus saling menguatkan. Dan tentu ikhlas sementara, untuk satu tahun depan. Agar bisa menjadi sebuah momen kebanggaan, Tidak hanya di mata keluarga tapi juga dapat membanggakan negara.

Semoga 431 prajurit TNI yang bertugas di Lebanon mampu menjalankan tugas sebagaimana semestinya, tanpa memihak pada pihak yang bertikai. Semoga mereka pulang dengan selamat sesuai jumlah yang sama ketika berangkat.

Selamat jalan prajuritku. Selamat bertugas di Lebanon. Bikin bangga keluarga dan negaramu. 

Baca juga: 

Lihat foto: 

Berita terkait
Aksi TNI AD Menghijaukan Gunung Sibayak Karo
TNI AD menggelar kegiatan penghijauan di seputaran Gunung Sibayak, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Tentara Gagalkan Aksi Begal di Makassar
Dua anggota TNI AD berhasil menggagalkan aksi jambret di kota Makassar, begini kronologisnya.
Keringat Prajurit TNI di Desa Terpencil Lebak Banten
TMMD 2019 di Kabupaten Lebak, Banten, berhasil membangun akses dua desa terpencil. Jalan tersebut menjadi karya nyata TNI di pembangunan.
0
AHY Restui Bupati Barito Utara Maju Pilkada Kalteng
AHY memberi sinyal positif kepada Bupati Barito Utara Nadalsyah untuk maju di Pilkada Kalimantan Tengah 2020.