UNTUK INDONESIA
Profil Suko Hartono, Dirut PGN Pilihan Erick Thohir
Suko Hartono ditunjuk sebagai Direktur Utama Perusahaan Gas Negara atau PGN. Ia adalah figur pilihan Menteri BUMN Erick Thohir. Ini profilnya.
Suko Hartono. (Foto: sulselsatu.com)

Jakarta - Suko Hartono terpilih sebagai Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Jakarta, Jumat, 15 Mei 2020. Ia merupakan figur yang dipercaya Menteri BUMN Erick Thohir, sehingga Erick menunjuknya dalam rapat pemegang saham tersebut.

Rapat pemegang saham menyetujui perombakan susunan pengurus perseroan. Pejabat yang diganti di antaranya Direktur Utama PT PGN Gigih Prakoso Soewarto, digantikan dengan Suko Hartono yang adalah mantan Direktur Utama PT Pertamina Gas (Pertagas).

Beberapa waktu belakangan, kinerja keuangan Perusahaan Gas Negara tidak bisa membuat tersenyum. Merujuk pada laba bersih PT Perusahaan Gas Negara Tbk. kuartal I/2020 diproyeksi berlanjut pada tahun ini sejalan dengan risiko rugi selisih kurs dan penurunan volume penyaluran gas akibat lesunya aktivitas manufaktur.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I/2020, emiten berkode saham PGAS itu membukukan pendapatan US$873,8 juta pada Januari-Maret 2020. Raihan itu turun tipis 0,28 persen year-on-year dari US$876,24 juta pada kuartal I/2019.

Pendapatan itu bersumber dari hasil penjualan gas sebesar US$693,4 juta, penjualan minyak dan gas US$76 juta, transmisi gas dan minyak US$70,4 juta, dan pendapatan usaha lainnya sebesar US$33,8 juta.

Di sisi profitabilitas, PGAS mengantongi penurunan laba bersih sebesar 26,26 persen yoy menjadi US$47,77 juta pada kuartal I/2020. Adapun, EBITDA perseroan pada kuartal I/2020 mencapai US$260,8 juta.

Sepanjang tahun lalu, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. membukukan pendapatan US$3,84 miliar pada 2019, terkoreksi tipis dari US$3,87 miliar pada 2018.

Berdasarkan laporan keuangan 2019, Perusahaan Gas Negara atau PGN membukukan pendapatan sebesar US$3,84 miliar, turun 0,56 persen dibandingkan 2018. Sementara itu, beban pokok tercatat naik 2,37 persen menjadi US$2,61 miliar.

Hal ini membuat laba kotor menurun 6,71 persen menjadi US$1,22 juta. Pada tahun sebelumnya perseroan membukukan laba kotor sebesar US$1,3 juta.

Sementara itu, laba bersih pada 2019 mencapai US$67,58 juta pada 2019, turun 77,84 persen dari US$304,99 juta pada 2018.

Pencatatan laba bersih menurun lebih tajam dari laba kotor lantaran adanya kenaikan pada sejumlah pos beban operasional. Beban keuangan misalnya, meningkat menjadi US$172,54 juta. Selain itu, beban umum dan administrasi meningkat menjadi US$269,78 juta.

Peningkatan beban ini juga dikontribusi adanya sejumlah beban tambahan, yakni penurunan aset keuangan sebesar US$98,29 juta dan provisi atas sengketa pajak yang mencapai US$127,72 juta. Perseroan juga mengalami rugi selisih kurs yang lebih besar pada 2019. Tercatat rugi selisih kurs mencapai US$27,99 juta, naik dari posisi pada 2018 sebesar US$18,83 juta.

Perolehan pendapatan dan laba pada tahun lalu, didapatkan dari pengelolaan aset sebesar US$7,37 miliar, turun 7,12 persen. Aset tidak lancar maupun aset lancar menurun masing-masing 10,72 persen dan 5,5 persen menjadi US$2,20 juta dan US$5,16 juta.

PGNRapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dilaksanakan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) di Jakarta, Jumat, 15 Mei 2020. (Foto: PT PGN)

Profil Suko Hartono

Suko Hartono lahir di Madiun, Jawa Timur, 18 November 1968. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung pada 1993, jurusan Teknik Kimia. Ia Direktur Utama Pertamina Gas (Pertagas) periode 17 Juli 2017 hingga 16 Mei 2018.

Suko Hartono memulai karier di PT Perusahaan Gas Negara atau PGN (Persero) Tbk. sejak 1997. Berbagai jabatan penting di PT PGN pernah diembannya, yaitu Direktur Utama PT Gagas Energi Indonesia, anak perusahaan PT PGN, 2011-2013); General Manager SBU Distribusi 1, 2013-2015; Kepala Divisi Pengembangan Bisnis, Produk dan Teknologi, 2015-2016; Vice President Senior Expert Residential, 2016 – 2017.

Berikut susunan Komisaris dan Direksi Perusahaan Gas Negara yang diputuskan dalam rapat pemegang saham, Jumat, 15 Mei 2020.

Susunan Komisaris

  • Komisaris Utama: Arcandra Tahar
  • Komisaris: Luky Alfirman
  • Komisaris: Mas’ud Khamid digantikan warih Sardono
  • Komisaris Independen: Paiman Rahardjo
  • Komisaris Independen: Christian H. Siboro
  • Komisaris Independen: Kiswodarmawan

Susunan Direksi

  • Direktur Utama: Suko Hartono
  • Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis: Syahrial Mukhtar
  • Direktur Infrastruktur dan Teknologi: Redy Ferryanto
  • Direktur Komersial: Fariz Azis
  • Direktur Keuangan: Arie Nobielta Kaban
  • Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum: Benny Syarif Hidayat

Perusahaan Gas Negara (PGN)Perusahaan Gas Negara (PGN) (Foto: pgn.co.id)

Tentang Perusahaan Gas Negara

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk disingkat PGN adalah sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang transmisi dan distribusi gas bumi.

Semula pengusahaan gas di Indonesia adalah perusahaan gas swasta Belanda yang bernama I.J.N. Eindhoven & Co berdiri pada tahun 1859 dengan memperkenalkan penggunaan gas kota di Indonesia yang terbuat dari batu bara.

Proses peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada sekutu. Kesempatan ini dimanfaatkan para pemuda dan buruh listrik melalui delegasi Buruh/Pegawai Listrik dan Gas yang bersama-sama dengan Pimpinan KNI Pusat berinisiatif menghadap Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan tersebut kepada Pemerintah Indonesia.

Pada 27 Oktober 1945, Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas dibawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW. Pada tahun 1958 I.J.N. Eindhoven & Co dinasionalisasi dan diubah menjadi PN Gas.

Pada tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas yang dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1965. Pada saat yang sama, dua perusahaan negara yaitu PLN sebagai pengelola tenaga listrik milik negara dan PGN sebagai pengelola gas diresmikan.

Selanjutnya pada tanggal 13 Mei 1965 berubah menjadi Perusahaan Gas Negara. Tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai hari jadi PGN pada tiap tahunnya.

Perusahaan ini yang semula mengalirkan gas buatan dari batu bara dan minyak dengan teknik Catalytic Reforming yang tidak ekonomis mulai menggantinya dengan mengalirkan gas alam pada tahun 1974 di kota Cirebon. Konsumennya adalah sektor rumah tangga, komersial dan industri. Penyaluran gas alam untuk pertama kali dilakukan di Cirebon tahun 1974, kemudian disusul berturut-turut di wilayah Jakarta tahun 1979, Bogor tahun 1980, Medan tahun 1985, Surabaya pada 14 Februari 1994, dan Palembang tahun 1996.

Berdasarkan kinerjanya yang terus mengalami peningkatan, maka pada tahun 1984 statusnya berubah menjadi Perusahaan Umum Gas Negara dan kemudian pada tahun 1994 statusnya ditingkatkan lagi menjadi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) dengan penambahan ruang lingkup usaha yang lebih luas yaitu selain di bidang distribusi gas bumi juga di bidang yang lebih ke sektor hulu yaitu di bidang transmisi, dimana PGN berfungsi sebagai transporter.

PGN kemudian memasuki babak baru menjadi perusahaan terbuka ditandai dengan tercatatnya saham PGN pada tanggal 15 Desember 2003 di Bursa Efek Indonesia dan namanya resmi menjadi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

PGNKaryawan PGN (Foto: pgn.co.id)

Anak Perusahaan

Perusahaan Gas Negara atau PGN memiliki anak perusahaan dan afiliasi sebagai berikut.

  • PT Transportasi Gas Indonesia (Transmisi Gas Bumi)
  • PT PGAS Telekomunikasi Nusantara (Telekomunikasi Fiber Optic)
  • PT PGN Solution (Konstruksi, Engineering, Operation & Maintenance)
  • PT Nusantara Regas (Terminal Penyimpanan dan Regasifikasi Terapung)
  • PT Saka Energi Indonesia (Kegiatan di Bidang Hulu Migas)
  • PT Gagas Energi Indonesia (Kegiatan di Bidang Hilir Gas Bumi)
  • PT Banten Gas Synergi (jasa, transportasi, perdagangan dan pertambangan)
  • PT PGN LNG Indonesia (Bisnis LNG dan Terminal Penyimpanan dan Regasifikasi Terapung)
  • PT Telemedia Dinamika Sarana (penyedia solusi teknologi berbasis internet)
  • PT Permata Karya Jasa (penyedia jasa penunjang migas)
  • PT Widar Mandripa Nusantara (jasa penunjang Kelistrikan, bidang pembangkit tenaga Listrik)
  • PT Solusi Energy Nusantara (layanan jasa engineering di industri oil dan gas)
  • PT Kalimantan Jawa Gas (jasa pengangkutan gas bumi)
  • PT Permata Graha Nusantara (perdagangan, konstruksi dan jasa)
  • PT Pertamina Gas (dilebur dari PT Pertamina menjadi anak usaha PT PGN). []

Baca juga:

Berita terkait
PGN Pasok Gas Agar Dapur RS Wisma Atlet Mengepul
PGN) siap memasok gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dapur umum Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta yang digunakan sebagai RS darurat virus corona.
PGN Berkongsi dengan Perusahaan China Perkuat Bisnis
PGN terus memperluas bisnis gas alam cair (LNG) di pasar internasional, kali ini berkongsi dengan perusahaan China, WnD Liaoning Heavy Industry.
Arcandra Tahar Disebut Bakal Jadi Petinggi PGN
Salah satu perusahaan gas berpelat merah akan mengalami pergantian bos. Nama eks Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar masuk bursa petinggi PGN.
0
Pria Botak di Sumut Diancam 15 Tahun Penjara, Ini Kasusnya
Pria botak di Deli Serdang, Sumatera Utara, nodai adik ipar. Penjara 15 tahun menantinya.