UNTUK INDONESIA
Profil Kiai Haji Hasyim Asy'ari, Pendiri Nahdlatul Ulama
Kiai Haji Hasyim Asyari, kakek Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini yang mendirikan Nahdlatul Ulama atau biasa disingkat NU.
Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari/. (Foto: tebuireng.online.com)

Jakarta - Nahdlatul Ulama lebih tua umurnya dari usia kemerdekaan Indonesia. Ada Kiai Haji Hasyim Asy'ari di belakang organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Kakek Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini yang mendirikan Nahdlatul Ulama atau biasa disingkat NU.

Profil KH Hasyim Asy'ari

KH Hasyim Asy’ari memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim. Kiai Hasyim lahir dari pasangan Kiai Asy’ari dan Halimah pada Selasa kliwon, tanggal 14 Februari tahun 1871 Masehi atau bertepatan dengan 12 Dzulqa’dah tahun 1287 Hijriah. Tempat kelahirannya berada di sekitar 2 kilometer ke arah utara dari kota Jombang, tepatnya di Pesantren Gedang. 

Garis keturunannya adalah ayahnya Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim atau yang populer dengan nama Pangeran Benawa bin Abdul Rahman yang juga dikenal dengan julukan Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatah bin Maulana Ishaq bin Ainul Yakin yang dikenal sebagai Sunan Giri. 

Sementara dari jalur ibu adalah Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabbar bin Ahmad bin Pangeran Sambo bin Pangeran Benawa bin Jaka Tingkir atau juga dikenal dengan nama Mas Karebet bin Lembu Peteng (Prabu Brawijaya VI). 

Ditinjau dari silsilah kedua jalur tersebut, Kiai Hasyim merupakan gabungan dari dua trah sekaligus. Pertama, bangsawan Jawa dan elite agama (Islam). Dari jalur ayah, merupakan bangsawan muslim Jawa (Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir) dan sekaligus elite agama Jawa (Sunan Giri). Sementara dari jalur ibu, masih keturunan langsung Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng) yang berlatar belakang bangsawan Hindu Jawa.

Di usia kanak-kanak, Kiai Hasyim hidup dalam lingkungan pesantren tradisional Gedang, salah satu pesantren yang pernah menjadi pusat perhatian terutama dari santri-santri Jawa pada akhir abad ke-19. Pesantren tersebut didirikan kakeknya dari jalur ibu, Kiai Utsman. Sementara kakek buyutnya bernama Kiai Sihah dikenal luas sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Tambak Beras Jombang. Ayahnya sendiri, Kiai Asy’ari adalah pendiri Pesantren Keras. 

Pada umur lima tahun Kiai Hasyim berpindah dari Gedang ke Desa Keras, sebuah desa di sebelah selatan kota Jombang mengikuti ayah dan ibunya yang sedang membangun pesantren baru. Di sini, Kiai Hasyim menghabiskan masa kecilnya hingga berumur 15 tahun, sebelum akhirnya meninggalkan Keras dan menjelajahi berbagai pesantren hingga ke Mekkah.

Pada usia 21 tahun, Kiai Hasyim menikah dengan Nafisah, putri Kiai Ya’qub, Siwalan Panji, Sidoarjo pada tahun 1892 M/1308 H. Tidak lama kemudian, Kiai Hasyim bersama istri dan mertuanya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Bersama istrinya, Nafisah, Kiai Hasyim kemudian melanjutkan tinggal di Mekkah untuk menuntut ilmu. 

Tujuh bulan kemudian, Nafisah meninggal dunia setelah melahirkan seorang putra bernama Abdullah. Namun, empat puluh hari kemudian, Abdullah turut menyusul ibunya dipanggil Allah SWT. Kejadian ini membuat Kiai Hasyim merasa sangat terpukul dan akhirnya memutuskan tidak berlama-lama di Tanah Suci dan kembali ke Tanah Air setahun kemudian.

Kiai Hasyim kemudian menikah lagi dengan Khadijah, seorang gadis putri Kiai Romli dari Desa Karangkates (Kediri) pada tahun 1899 M/1325 H. Pernikahannya dengan istri kedua juga tidak bertahan lama, karena dua tahun kemudian pada 1901, Khadijah meninggal.

Kiai Hasyim menikah lagi untuk ketiga kalinya dengan gadis Nafiqah, putri Kiai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari perkawinan ini, keduanya dikaruniai sepuluh orang anak, yaitu Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim, Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurah, dan Muhammad Yusuf. Namun pada tahun 1920 M Nyai Nafiqah juga meninggal dunia. Kiai Hasyim begitu sabar menghadapi cobaan tersebut. 

Untuk keempat kalinya, Kiai Hasyim menikahi Masrurah, putri Kiai Hasan pengasuh Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari perkawinan ini, Kiai Hasyim mendapat empat orang anak yaitu Abdul Qadir, Fatimah, Khadijah, dan Muhammad Ya’qub. Perkawinan dengan Masrurah ini merupakan perkawinan terakhir bagi Kiai Hsyim hingga akhir hayatnya.

Lambang Nahdlatul UlamaLambang Nahdlatul Ulama. (Foto: Instagram/@omah_bukustore)

Riwayat Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari

Berlatar belakang keluarga pesantren, Kiai Hasyim mendapat pendidikan agama dari sang ayah langsung. Kecerdasan Kiai Hasyim cukup menonjol, belum genap berumur 13 tahun, Kiai Hasyim mampu menguasai berbagai bidang kajian Islam dan dipercaya membantu ayahnya mengajar santri yang lebih senior.

Kiai Hasyim kemudian memulai menjelajahi beberapa pesantren. Pertama adalah Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), lalu berpindah ke Pesantren Langitan (Tuban). Lalu Pesantren Tenggilis (Surabaya), dan berlanjut ke Pesantren Kademangan (Bangkalan), yang saat itu diasuh Kiai Kholil. 

Setelah dari pesantren Kiai Kholil, Kiai Hasyim melanjutkan ke Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo) yang diasuh Kiai Ya’kub. Atas nasihat Kiai Ya’kub, Kiai Hasyim akhirnya meninggalkan Tanah Air untuk berguru pada ulama-ulama terkenal di Mekkah sambil menunaikan ibadah haji untuk kali kedua. 

Di Mekkah, Kiai Hasyim berguru pada syaikh Ahmad Amin al-Attar, Sayyid Sultan bin Hashim, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Attas, Syaikh Sa’id al-Yamani, Sayyid Alawi bin Ahmad al-Saqqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawi, Syaikh Salih Bafadal, dan Syaikh Sultan Hasim Dagastana, Syaikh Shuayb bin Abd al-Rahman, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Rahmatullah, Sayyid Alwi al-Saqqaf, Sayyid Abu Bakr Shata al-Dimyati, dan Sayyid Husayn al-Habshi yang saat itu menjadi multi di Mekkah. 

Selain itu, Kiai Hasyim juga menimba pengetahuan dari ulama asal Nusantara yang bermukim di tanah Arab seperti Syaikh Ahmad Khatib Minankabawi, Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Mahfuz al-Tirmisi. 

Prestasi belajar Kiai Hasyim yang menonjol, membuatnya kemudian juga memperoleh kepercayaan untuk mengajar di Masjid al-Haram. Beberapa ulama terkenal dari berbagai negara tercatat pernah belajar kepadanya. Di antaranya Syaikh Sa’d Allah al-Maymani (mufti di Bombay, India), Syaikh Umar Hamdan (ahli hadith di Mekkah), al-Shihan Ahmad bin Abdullah (Syiria), KH. Abdul Wahhanb Chasbullah (Tambakberas, Jombang), K. H. R Asnawi (Kudus), KH. Dahlan (Kudus), KH. Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang), dan KH. Saleh (Tayu).

Sejak masih di Mekkah, Kiai Hasyim sudah memiliki ketertarikan tersendiri dengan tarekat. Bahkan, Kiai Hasyim juga sempat mempelajari dan mendapat ijazah tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah melalui salah melalui salah satu gurunya, Syaikh Mahfuz.

Mendirikan Pesantren Tebuireng

TebuirengPintu masuk Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. (Foto: Instagram/@tebuireng.online)

Tahun 1899, Kiai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di sana Kiai Hasyim membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu atau dalam bahasa Jawa disebut tratak, sebagai tempat tinggal.

Dari bangunan kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Kiai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.

Komite Hijaz dan Pendirian Nahdlatul Ulama

Pada masa Raja Saudi Arabia Ibnu Saud berencana menjadikan mazab Wahabi sebagai mazab resmi Negara, dia juga berencana menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang selama ini banyak diziarahi kaum muslimin, karena dianggap bidah.

Di Indonesia, rencana tersebut mendapat sambutan hangat kalangan modernis seperti Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) di bawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang menghormati keberagaman, menolak pembatasan mazab dan penghancuran warisan peradaban itu. Akibatnya, kalangan pesantren dikeluarkan dari keanggotaan Kongres Al Islam serta tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekkah, yang akan mengesahkan keputusan tersebut.

Kiai Hasyim bersama para pengasuh pesantren membuat delegasi yang dinamai Komite Hijaz yang diketuai KH. Wahab Hasbullah untuk menghadap Raja Ibnu Saud untuk mengurungkan niatnya. Dari berbagai penjuru dunia juga menentang Ibnu Saud untuk membatalkan rencana tersebut. Hasilnya, hingga saat ini umat Islam bebas melaksanakan ibadah di Mekkah sesuai mazab masing-masing.

Tahun 1924, kelompok diskusi taswirul afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus syeikh KH. Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya, meminta waktu untuk mengerjakan salat istikharah, menohon petunjuk dari Allah.

Dinanti-nanti sekian lama, petunjuk itu belum datang juga hingga membuat Kiai Hasyim gelisah. Dalam hati kecilnya ia ingin berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif, Bangkalan.

Sementara Kiai Khalil telah mengetahui apa yang dialami Kiai Hasyim lalu mengutus seorang santrinya bernama As’ad Syamsul Arifin, kelak menjadi pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Situbondo, untuk menyampaikan sebuah tongkat kepada Kiai Hasyim di Tebuireng. As’ad juga dipesani agar setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kiai Hasyim.

Ketika Kiai Hasyim menerima kedatangan As’ad, dan mendengar ayat tersebut, hatinya langsung bergetar. ”Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan tercapai,” ujarnya lirih sambil meneteskan air mata.

Satu tahun kemudian (1925), pemuda As’ad kembali datang menemui Hadratus Syeikh. ”Kiai, saya diutus Kiai Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar pemuda Asad sambil menunjukkan tasbih yang dikalungkan Kiai Kholil di lehernya.

Tangan As’ad belum pernah menyentuh tasbih sersebut, meskipun perjalanan antara Bangkalan menuju Tebuireng sangat jauh dan banyak rintangan. Bahkan ia rela tidak mandi selama dalam perjalanan, sebab khawatir tangannya menyentuh tasbih.

”Kiai Kholil juga meminta untuk mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad.

Kehadiran As’ad yang kedua ini membuat hati Kiai Hasyim semakin mantap. Hadratus Syeikh menangkap isyarat bahwa gurunya tidak keberatan jika ia bersama ulama lain mendirikan organisasi/jam’iyah. Inilah jawaban yang dinanti-nantinya melalui salat istikharah.

Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M, organisasi Nahdlatul Ulama, yang artinya kebangkitan ulama secara resmi didirikan. Kiai Hasyim dipercaya sebagai Rais Akbar pertama.

Karya KH. Hasyim Asy’ari

Beberapa karya KH. Hasyim Asy’ari yang masih bisa ditemui dan menjadi kitab wajib dipelajari di pesantren-pesantren Nusantara sampai sekarang.

  1. At-Tibyan fi al-Nahy’an Muqatha’at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan
  2. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama
  3. Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah
  4. Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama
  5. Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim fi ma Yanhaju Ilaih al-Muta’allim fi Maqamati Ta’limihi
  6. Rasalah Ahl aas-Sunnah wa al-Jamaah fi Hadts al-Mauta wa Syuruth as-Sa’ah wa Bayani Mafhum as-Sunnah wa al-Bid’ah. []

Baca juga:

Berita terkait
Nahdlatul Ulama Batal Munas Karena Virus Corona
Sebagai upaya membangun kewaspadaan dan membantu pemerintah dalam mencegah meluasnya penularan virus tersebut. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Nahdlatul Ulama Berperan Besar Tangkal Radikalisme
Nahdlatul Ulama berperan penting dalam memerangi radikalisme di Indonesia.
Nahdlatul Ulama Aceh Singkil Terpukul Mufti As Wafat
Mufti As meninggalkan kenangan, utamanya bagi warga Aceh Singkil dan tokoh ulama Nadhlatul Ulama. Dia dicatat menjadi tokoh pemekaran kabupaten.
0
Pria Botak di Sumut Diancam 15 Tahun Penjara, Ini Kasusnya
Pria botak di Deli Serdang, Sumatera Utara, nodai adik ipar. Penjara 15 tahun menantinya.