Indonesia
PRJ, Riwayatmu Dulu Hingga Menjadi Acara Tahunan
Tahun ini PRJ atau Jakarta Fair bertepatan dengan Libur Idul Fitri 2019 dan berlangsung dari 22 Mei hingga 30 Juni 2019.
PRJ saat masih diselenggarakan di Gambir. (Foto: Instagram/fitraape)

Jakarta - Tahun ini Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair waktunya bertepatan dengan Libur Idul Fitri 2019. Perhelatan tahunan tersebut berlangsung dari 22 Mei hingga 30 Juni 2019.

PRJ berlangsung di Jakarta International Expo Kemayoran. Di acara itu pengunjung bisa berbelanja dan dimanjakan dengan diskon besar-besaran.

Diskon tersebut tidak hanya di PRJ saja. Salah satunya di Center Atrium Mal Taman Anggrek ada acara Back to School Ceria ke Sekolah #BersamaGramedia. Acara ini merupakan bazar buku lokal dan impor yang berlangsung hingga 16 Juni 2019.

Selain itu, Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta ikut mendukung program belanja ini dengan menawarkan paket Lebaran. Pihak MRT menyediakan tiket khusus berupa rute dari Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan sebaliknya. Dengan tiket seharga Rp 28 ribu, MRT juga menyediakan pemandu wisata untuk menceritakan seluk beluk Kota Jakarta. Paket Lebaran dari MRT itu berlaku hingga 9 Juni 2019.

PRJ dari Waktu ke Waktu

Tahukah Anda, kalau proses PRJ menjadi acara tahunan yang menguntungkan seperti sekarang ini cukup lama? Tentu tidak mudah untuk membuat sebuah acara akbar yang melibatkan banyak pihak dan memakan waktu berhari-hari. Apalagi saat itu banyak acara serupa yang sifatnya sporadis atau kedaerahan.

Adalah Syamsudin Mangan yang mengusulkan suatu ajang pameran besar untuk meningkatkan pemasaran produksi dalam negeri. Pria yang saat itu menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri itu beralasan produk dalam negeri mulai bangkit, setelah sebelumnya terpuruk di akhir pemerintahan Presiden Sukarno.

Syamsudin mengaku ide itu muncul karena terinspirasi dari berbagai pameran internasional. Pada tahun 1967, ide itu kemudian disampaikan kepada Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Ali Sadikin.

Pemerintah Provinsi Jakarta menyambut baik ide pria yang lebih dikenal sebagai Haji Mangan itu. Apalagi Ali selaku gubernur, juga memiliki keinginan untuk menyatukan berbagai pasar malam yang menyebar di sejumlah wilayah, seperti Pasar Malam Gambir yang berlangsung tiap tahun di kawasan Monumen Nasional (Monas).

Agar dianggap resmi atau sah, gubernur DKI yang akrab disapa Bang Ali mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) No. 8 Tahun 1968 yang antara lain menetapkan bahwa PRJ akan menjadi agenda tetap tahunan dan diselenggarakan menjelang Hari Ulang Tahun Jakarta, yaitu 22 Juni.

Bahkan, Pemerintah DKI juga mendirikan sebuah yayasan untuk penyelenggaraan itu yang dinamakan pengelola PRJ. Badan pengelola tersebut dibentuk sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) No.8 Tahun 1968 yang menyatakan tugas yayasan itu bukan hanya menyelenggarakan PRJ, tapi juga sebagai penyelenggara Arena Promosi dan Hiburan Jakarta (APHJ) yang dijadwalkan berlangsung sepanjang tahun.

Dimulai Tahun 1968

Usaha Haji Mangan tidak sia-sia, mengubah Pasal Malam Gambir menjadi PRJ. Perhelatan ini pertama kali diselenggarakan pada 5 Juni 1968 di kawasan Monumen Nasional (Monas). Pembukaan acara itu ditandai dengan pelepasan burung merpati oleh Presiden Soeharto.

Ternyata PRJ mampu menyedot kurang lebih 1,4 juta pengunjung. Kesuksesan mega perhelatan itu tidak lepas dari dukungan banyak pihak, baik dari pemerintah maupun swasta.

Penyelenggara juga selalu berkreasi agar PRJ selalu diminati oleh pengunjung. Salah satunya dengan menggelar acara unik yaitu pemilihan ratu waria yang dimeriahkan 151 peserta.

Pada tahun kedua yaitu tahun 1969 merupakan perayaan PRJ terlama dalam sejarah, yakni memakan waktu 71 hari. Saat itu Presiden Amerika Serikat (AS) Richard Nixon datang ke Indonesia dan mampir ke acara tersebut.

Perhelatan PRJ dari tahun ke tahun mengalami perkembangan, baik pengunjung dan pesertanya pun bertambah. Dari sekedar pasar malam berubah menjadi ajang pameran modern yang menampilkan berbagai produk. Bahkan area yang digunakan juga semakin diperluas.

Transaksi Sebesar Rp 7,3 Triliun

Sejak 1992 penyelenggaraan berpindah dari kawasan Monas ke kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Di Kemayoran, PRJ menempati area seluas 44 hektar. Selain menampilkan produk dalam negeri, PRJ juga membuka lapangan pekerjaan dan secara tidak langsung meningkatkan pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Masyarakat juga bisa menikmati tumpangan bus gratis dari Monas (seberang Kantor Gubernur DKI Jakarta). Bus tersebut berangkat setiap 30 menit sekali.

Selain sebagai ajang belanja, PRJ juga menjadi tujuan berwisata. Tidak bisa dipungkiri, banyak yang diuntungkan dalam acara tahunan itu.

PRJ biasanya dimeriahkan pentas musik selama 32 Hari Nonstop dengan 100 bintang top ibukota, pesta kembang api, Pemilihan Miss Jakarta Fair, panggung kesenian di Taman Budaya, karnaval, berbagai promosi, serta undian berhadiah sepeda motor dan mobil.

Produk-produk yang ditawarkan di stand tersebut seperti mebel, otomotif, kerajinan, pakaian, alat olah raga dan kesehatan, telekomunikasi, pameran keuangan, alat tulis dan berbagai produk unggulan lainnya.

Tahun lalu PRJ membukukan nilai transaksi sebesar Rp 7,3 triliun. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Pasca Penyerangan, Kondisi Aiptu Agus Membaik
Kondisi petugas kepolisian Aiptu Agus yang diserang di Surabaya berangsur-angsur membaik.