Jakarta - Sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Rembug Nasional Aktivis (RNA) 98, melaporkan Prabowo Subianto ke Bareskrim Polri. Capres nomor urut 02 itu disebut bertanggung jawab sebagai dalang kerusuhan 21-22 Mei 2019.

Selain Prabowo, tokoh lain semisal Amien Rais, Rizieq Shihab, Fadli Zon, Titiek Soeharto, Neno Warisman, Haikal Hassan Dan Bachtiar Nasir juga turut dilaporkan oleh kelompok tersebut.

Untuk memperkuat laporan, RNA 98 juga menyertakan sejumlah barang bukti berupa tautan video di laman Youtube dan screen capture pernyataan tokoh-tokoh terlapor di media sosial.

"Kami (datang) untuk menyampaikan laporan secara resmi, formal, sebagaimana diatur dalam undang-undang, terkait dugaan, mereka-mereka yang kami anggap bertanggungjawab, bahkan menjadi aktor, dan juga penyandang dana dari kerusuhan yang terjadi (pada) tanggal 21-22 Mei di depan Bawaslu maupun daerah sekitar," kata anggota RNA 98 Benny Ramdani.

AdianSejumlah aktivis 98 memberikan keterangan kepada media atas kesiagaan mengawal pengumuman hasil Pemilu 2019. (Foto: Antara/Istimewa)

Menanggapi hal itu, pihak terlapor sekalgus anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Fadli Zon berencana melaporkan balik ke Bareskrim Polri.

"Saya kalau ada yang melaporkan akan saya laporkan balik, jadi tidak akan ada cerita. Saya juga sudah melaporkan banyak nama. Selama ini saya sudah ada dua belas laporan," tegas dia.

Rembug Nasional Aktivis 98 atau RNA 98 merupakan gerakan beberapa kelompok aktivis era 98 pendukung capres Joko Widodo.

Sewaktu dihelat pada bulan Juli tahun 2018 silam, salah satu poin rembug nasional adalah keputusan untuk mendukung pencapresan Jokowi pada pemilihan presiden 2019.

"Rembuk nasional aktivis 1998 pada 7 Juli 2018 menjadi awal membangun konsolidasi dengan aktivis 1998. Sebuah ikatan kuat mendasar dan rasional dalam menjaga serta menuntaskan cita bersama. Rembuk Nasional Aktivis '98 menjadi ruang yang tepat untuk membangun kesepakatan terhadap komitmen ikatan kebangsaan," kata salah satu aktivis pengagas Rembug Nasional Aktivis 98 Wahab Talaohu, di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Juli 2018.

Alumnus Universitas Jakarta (Unija) itu kemudian membacakan poin lengkap Rembuk Nasional 1998 sebagai berikut:

1. Tetap menjaga RI dari ancaman intoleransi, radikalisme, terorisme, dan menolak penggunaan isu SARA dalam praktik politik Indonesia;

2. Melanjutkan perjuangan reformasi '98 untuk melawan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam sendi kehidupan bernegara;

3. Menjaga demokrasi yang sudah terbuka saat ini yang merupakan buah perjuangan reformasi 1998 dari setiap ancaman otoritarianisme dan militerisme. Serta terus mendorong demokrasi politik dan demokrasi ekonomi agar menghasilkan masyarakat yang adil dan makmur;

4. Terus memperjuangkan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM dan mengusulkan penetapan aktivis mahasiswa yang menjadi korban peristiwa Semanggi, Trisakti, dan lain-lain sebagai pahlawan nasional;

5. Mengusulkan kepada pemerintah menetapkan 7 Juli sebagai Hari Bhinneka Tunggal Ika;

6. Mendukung penuh Ir Joko Widodo sebagai calon presiden periode 2019-2024. Karena kita semua yakin bahwa Jokowi memiliki kemampuan untuk mewujudkan cita-cita reformasi 1998. Kenapa, karena Jokowi tidak punya kejahatan ekonomi, tidak punya kejahatan politik, dan tidak punya kejahatan kemanusiaan;

7. Terkait hal-hal itu dan sebagai pertanggungjawaban negara, maka kami aktivis '98 menyatakan siap untuk turut serta memimpin dan mengemban tugas negara bersama Pak Jokowi.

Selain Wahab, Rembug Nasional Aktivis 98 juga digagas Direktur Eksekutif 98 Institute, Sayed Junaii Rizaldi, Sekjen Persatuan Nasional '98, Adian Napitupulu, Aktivis Benny Rhamdani dan Ari Maulana, serta 19 aktivis era 98 lain.

Baca Juga: