Jakarta, (Tagar 19/3/2019) - Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo Subianto bakal bertarung dalam kontestasi Pilpres 2019. Meski berbeda latar belakang, yakni Jokowi dari keluarga rakyat jelata dan Prabowo dari kalangan bangsawan, keduanya mantap mengusung isu perbaikan ekonomi.

Melalui penelusuran Tagar News ke berbagai sumber, Jokowi lahir dari keluarga sederhana pada tanggal 21 Juni 1961, di Surakarta, Jawa Tengah. Jokowi adalah anak pertama dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo, sekaligus menjadi anak laki-laki satu-satunya dari dari empat bersaudara.

Orangtua Jokowi cuma orang biasa. Widjiatno Notomihardjo sang ayah, berasal dari Karanganyar, sedangkan Ibundanya, Sujiatmi dari Boyolali. Keduanya merupakan pengusaha kecil di bidang jual-beli kayu.

Bisnis kayu tersebut merupakan usaha milik kakek Jokowi dari jalur ibu. Dari usaha tersebut, ekonomi keluarga mereka membaik. Bahkan, mereka memiliki tempat pengolahan kayu sendiri yang dibangun dekat rumah mereka.

Namun begitu, Jokowi tumbuh ketika usaha kayu yang dikelola ayahnya masih berada di masa-masa perjuangan. Hal tersebut membuatnya begitu akrab dengan hidup yang sulit dan keras sejak kecil.

Jokowi bahkan disebut kerap menekuni profesi sebagai tukang kuli panggul, ojek payung dan pedagang kala masih duduk dibangku Sekolah Dasar Negeri 111 Tirtoyoso.

Pada usia 12 tahun, Jokowi sudah bekerja sebagai tukang gergaji kayu. Kala itu ia bersekolah di SMP Negeri 1 Surakarta. Selepas lulus, ia melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 6 Surakarta.

Jokowi kemudian mendaftar kuliah di perguruan tinggi dan diterima di jurusan Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM). Tempat dimana dirinya belajar banyak tentang teknologi pengolahan dan pemanfaatan kayu.

Menyelesaikan kuliah di UGM pada tahun 1985, Jokowi memutuskan untuk menikah dengan Iriana Jokowi setahun setelahnya.

Pria yang memiliki hobi naik gunung itu kemudian hijrah ke Solo. Di kota itu pula Jokowi memulai bisnis perkayuan, setelah sebelumnya mencuri ilmu dengan bekerja di perusahaan kayu milik pamannya.

Jokowi mendirikan usaha kayu sendiri dengan membuat badan usaha bernama CV. Rakabu dan dikenal sebagai juragan mebel.

Berbeda jauh dari Jokowi, Prabowo lahir dari keluarga mapan. Ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo merupakan seorang akademisi ekonomi dan mantan menteri. Sedangkan kakeknya, Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo adalah begawan ekonomi nasional sekaligus pendiri Bank Negara Indonesia (BNI). Tak ayal, darah biru mengalir dalam tubuh Prabowo.

Prabowo dilahirkan dengan nama lengkap Prabowo Subianto Djojohadikusumo pada tanggal 17 Oktober 1951, dari pernikahan Soemitro dengan ibu Prabowo, Dora Marie Sigar yang berasal dari Manado.

Kakek Prabowo dari jalur ibu juga bukan orang sembarangan. Dia adalah Philip FL Sigar, seorang anggota Gementeraad Manado (1920-1922) dan pejabat Sekretaris Residen Manado (1922-1924).

Lahir dari keluarga tajir, Prabowo mengenyam pendidikan di Sekolah Sumbangsih, Jakarta. Sayang saat usianya beranjak lima tahun, pecah pemberontakan PRRI pada tahun 1957.

Pemerintah orde lama dibawah kepemimpinan Soekarno kala itu mencurigai keterlibatan Soemitro dalam pemberontakan. Hal tersebut memaksa keluarga besar Prabowo hidup berpindah-pindah, di antaranya Padang, Singapura, Hongkong, Malaysia, Swiss dan Inggris.

Menurut beberapa sumber biografi Prabowo Subianto, saat berada di Singapura, Prabowo melanjutkan sekolah di British Elementary School. Tak lama, ia pindah saat ke Hongkong, kemudian kembali melanjutkan sekolahnya di Glenealy Junior School.

Di Malaysia, ia bersekolah di Victoria Institute. Di Zurich, Swiss, Prabowo bersekolah di American International School. Sedang di Inggris, ia kembali melanjutkan pendidikannya di American International School hingga tahun 1968.

Hidup berpindah-pindah menjadikan Prabowo banyak menguasai bahasa asing. Termasuk Inggris, Jerman, Perancis dan Belanda.

Selepas pulang ke Tanah Air, Prabowo memilih jalur militer untuk mengejar karir. Dirinya mendaftarkan diri di Akademi Militer Magelang dan lulus pada tahun 1974.

Baca juga: