PKS, Konflik Internal dan Peluang Gagal ke Senayan

PKS tengah menghadapi kisruh internal, yang dianggap bisa mempengaruhi penilaian publik bahwa internal PKS tidak solid.
Partai Keadilan Sejahtera (Foto: pks.id)

Jakarta, (Tagar 22/10/2018) - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi salah satu partai politik yang diprediksi tak lolos masuk Senayan di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019. Pasalnya, PKS tengah menghadapi kisruh internal, yang dianggap bisa mempengaruhi penilaian publik bahwa internal PKS tidak solid.

Namun, Politikus PKS Mahfudz Siddiq menampik kisruh di internal PKS, mempengaruhi elektabilitas partainya untuk mencapai ambang batas empat persen.

"Soal situasi konflik di internal PKS, saya kira tidak akan berpengaruh. Karena pimpinan PKS meyakini bahwa partai masih solid dan efektif bekerja," ujarnya kepada Tagar News, di Jakarta, Senin (22/10).

Apalagi, disangkut pautkan dengan organisasi masyarakat Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) yang diinisiasi Anis Matta. Menurutnya, GARBI sama sekali tak bersinggungan dengan urusan Pemilu.

"Kalaupun muncul GARBI, itu kan ormas yang tidak ikut-ikutan urusan pemilu," ujar loyalis Anis Matta itu.

Jika pun nantinya PKS gagal lolos ambang batas parlemen, menurut Mahfudz faktor penyebabnya bukan karena konflik internal. Tapi, karena perubahan sistem pemilu yang bisa menguras energi dan dana partai secara bersamaan.

"Kalaupun terjadi kegagalan dalam mencapai target pemilu, lebih karena faktor perubahan sistem pemilu," imbuhnya.

"Pilpres dan Pileg yang dilakukan bersamaan ini, menguras energi dan dana secara bersamaan. Tidak mudah buat partai-partainya, termasuk PKS. Juga karena PKS tidak punya capres atau cawapres dari kader sendiri," sambung Mahfudz.

Anggota Komisi IV DPR ini mengungkapkan dari pengalaman setiap pemilu, sebenarnya suara untuk PKS selalu meningkat. Meskipun, lembaga survei kerap kali memprediksi partainya tak mampu lolos Parlemen.

"Kan logika politiknya capaian suara pemilu PKS dari pemilu ke pemilu harus meningkat. Kalau survei, pengalaman PKS dari pemilu ke pemilu kan capaiannya selalu di atas angka elektabilitas di survei," terangnya.

Sebagai politikus senior PKS, ia tetap opitmis, PKS dapat melampaui elektabilitas, melebihi ambang batas parlemen.

"Jadi, kalau PKS sekarang pasang target 12 persen sementara angka di survei antara tiga sampai lima persen, sangat mungkin PKS masih bisa mencapai 10%," tandas Mahfudz.

Hasil Lembaga Survei
Sebelumnya, berbagai lembaga survei merilis hasil survei elektabilitas partai politik, diantaranya Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA dan Indikator Politik Indonesia (Indikator).

Berdasarkan hasil riset LSI Denny JA pada 12-19 Agustus 2018, ada lima partai politik yang mendapatkan elektabilitas di bawah ambang batas parlemen sebesar empat persen yaitu PKS, PPP, Nasdem, Perindo, dan PAN. Riset ini melibatkan 1.200 responden dengan metode multistage random sampling dan margin of error sebesar 2,9 persen.

Berikut rincian perolehan elektabilitas berdasarkan urutan tertinggi LSI Denny JA.

1. PDI Perjuangan sebesar 24,8 persen,
2. Gerindra 13,1 persen
3. Golkar 11,3 persen
4. PKB 6,7 persen
5. Demokrat 5,2 persen
6. PKS 3,9 persen
7. PPP 3,2 persen
8. NasDem 2,2 persen
9. Perindo 1,7 persen
10 PAN 1,4 persen

Sementara itu, Indikator Politik Indonesia (Indikator) merilis hasil suveinya pada Rabu (26/9). Survei Indikator sendiri dilakukan pada 1-6 September 2018 melibatkan 1.220 responden dengan margin of error survei sebesar 2,9 persen.

Berikut rincian perolehan elektabilitas berdasarkan urutan tertinggi Indikator.

1. PDI Perjuangan 22,9 persen
2. Partai Golkar 11,4 persen
3. Partai Gerindra 10,7 persen
4. Partai Demokrat 6,8 persen
5. PKB 6,2 persen
6. PKS 4 persen
7. PPP 3,7 persen
8. Partai Nasdem 3,4 persen
9. Perindo 2,5 persen
10. PAN 2 persen

Berita terkait