TAGAR.id – PISA 2025 menunjukkan tren penurunan prestasi siswa di sejumlah negara. Jerman mencatat hasil terburuknya. Bagaimana dengan Indonesia? Temuan terbaru PISA memberi gambaran tentang kondisi pendidikan dan kemampuan siswa. Elizabeth Grenier* melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 8/9/2026).
Riset teranyar Program for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan penurunan tajam kemampuan membaca dan matematika siswa berusia 15 tahun di berbagai negara. Penurunan paling besar terjadi pada kemampuan membaca, sementara hampir sepertiga siswa di negara-negara OECD kini tergolong memiliki kemampuan rendah dalam membaca, matematika, dan sains.
PISA, yang pertama kali digelar pada 2000, mengukur kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan membaca, matematika, dan sains untuk menghadapi situasi kehidupan nyata. Pada 2025, lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara dan perekonomian mengikuti penilaian tersebut.
Kemampuan membaca dan matematika terus menurun
Di negara-negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), kemampuan membaca rata-rata turun 28 poin antara 2015 dan 2025. Di negara dan perekonomian peserta lainnya, penurunan mencapai 16 poin.
Matematika juga mengalami kemerosotan. Skor rata-rata negara OECD turun 22 poin dalam periode yang sama, sedangkan penurunan di negara dan perekonomian lainnya mencapai 8 poin.
Dalam sains, yang menjadi fokus penilaian PISA 2025, skor negara-negara OECD turun 7 poin. Sementara itu, performa negara dan perekonomian lainnya secara umum relatif stabil.
Sekitar 29% siswa berusia 15 tahun di negara-negara OECD kini diperkirakan masuk dalam kategori “berkemampuan rendah” pada ketiga bidang tersebut. Dalam sains, mereka kesulitan menafsirkan data sederhana atau membaca grafik. Dalam membaca, mereka kesulitan menemukan informasi dalam teks sederhana. Sementara itu, dalam matematika, mereka dapat mengalami kesulitan memahami hubungan antara satuan dan nilai.
Penurunan kemampuan membaca menjadi perhatian khusus. Skor membaca di negara-negara OECD turun rata-rata 25 poin. Studi tersebut menyebutkan sekitar 20 poin setara dengan satu tahun pembelajaran. Dengan demikian, sebagian besar siswa berusia 15 tahun menunjukkan kemampuan yang umumnya diharapkan dari siswa berusia 14 tahun.
Penurunan paling tajam di antara negara-negara OECD terjadi di Islandia dan Slovenia, dengan skor yang merosot lebih dari 50 poin. Hanya lima negara yang mencatat peningkatan kemampuan membaca: Qatar naik 11 poin, Brunei Darussalam 18 poin, Kamboja 26 poin, Filipina 27 poin, dan Zambia 50 poin.
Meski sistem pendidikan negara-negara tersebut masih berada di bawah rata-rata OECD, studi PISA menyebut mereka “layak mendapat pengakuan karena mencapai peningkatan yang terukur di tengah penurunan global yang lebih luas.”
Zambia telah mencapai kemajuan yang luar biasa dalam sistem pendidikannya. (Foto: dw.com/id - Emica Elvedji/PIXSELL/picture alliance)
Jerman kembali menghadapi penurunan
Jerman termasuk salah satu negara yang mengalami penurunan hasil PISA terbaru. Pada periode 2022-2025, skor membaca siswa Jerman turun 15 poin, skor matematika 11 poin, dan skor sains 7 poin.
Dalam kemampuan membaca, Jerman berada di peringkat ke-23, hanya sedikit di atas rata-rata OECD. Enam posisi teratas ditempati oleh negara-negara Asia. Amerika Serikat berada di posisi ke-13, Polandia di posisi ke-14, dan Turki di posisi ke-16.
Dalam matematika, Jerman berada di bawah rata-rata OECD dan menempati posisi ke-26, hanya satu tingkat di atas Amerika Serikat (AS). Tujuh posisi teratas kembali ditempati oleh negara-negara Asia, sementara Estonia berada di posisi kedelapan.
Untuk sains, Jerman menempati posisi ke-23, hanya 2 poin di atas rata-rata OECD. Turki berada di posisi ke-19 setelah mencatat kenaikan 18 poin dibandingkan dengan hasil PISA 2022.
Hasil tersebut kembali mengingatkan pada “kejutan PISA” yang dialami Jerman pada penilaian pertama pada tahun 2000. Saat itu, siswa berusia 15 tahun di Jerman mencatat skor di bawah rata-rata internasional. Dalam PISA 2022 yang hasilnya diterbitkan pada 2023, performa siswa Jerman kembali turun ke titik terendah baru.
Bagaimana dengan Indonesia?
Hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam sains dan membaca telah meningkat. Namun, capaian Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara di Asia Tenggara.
Indonesia mencatat skor 389 untuk sains, 365 untuk membaca, dan 364 untuk matematika. Dibandingkan dengan PISA 2022, skor sains naik 6 poin dan membaca 7 poin. Namun, matematika turun dua poin.
Indonesia bukan anggota OECD, namun termasuk negara mitra yang dilibatkan dalam studi PISA.
Di antara Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina, Indonesia berada di posisi terendah dalam membaca dan matematika. Untuk sains, Indonesia hanya berada di atas Filipina. Malaysia mencatat skor 419 untuk sains, 393 untuk membaca dan 397 matematika, sementara Thailand masing-masing 432, 392 dan 407. 73451bc5-en.pdf
Tantangan terlihat dari proporsi siswa berkemampuan rendah. Sebanyak 60,9 persen siswa Indonesia berada di bawah Level 2 dalam sains, membaca dan matematika. Sebaliknya, hanya 0,1 persen yang termasuk dalam kelompok berprestasi tinggi. Rata-rata OECD masing-masing 19,7 persen dan 11,9 persen.
Meski demikian, OECD mencatat perkembangan positif dalam dukungan terhadap guru di Indonesia. Indonesia termasuk dalam sistem pendidikan dengan peningkatan dukungan guru yang besar dibandingkan dengan tahun 2015. Lebih dari 90 persen siswa Indonesia juga menyatakan tertarik untuk berkontribusi dalam perlindungan lingkungan melalui pekerjaan mereka di masa depan.
Pandemi bukan satu-satunya faktor penurunan
Studi PISA menyatakan data yang tersedia tidak dapat menjelaskan secara langsung penyebab penurunan kemampuan membaca. Penutupan sekolah selama pandemi COVID-19 disebut mungkin menjadi salah satu faktor, tetapi tidak ditemukan hubungan langsung antara lamanya sekolah ditutup dan performa siswa dalam membaca.
Studi tersebut juga mencatat bahwa tren penurunan sudah terlihat di banyak negara jauh sebelum pandemi.
“Penurunan keterampilan dalam jangka panjang ini menunjukkan adanya persoalan struktural yang lebih mendalam dalam sistem pendidikan, dengan tantangan di tingkat sekolah maupun sistem,” kata studi tersebut. Tantangan itu mencakup dampak gangguan digital terhadap siswa serta meningkatnya ketidaktertarikan membaca buku.
Penggunaan akal imitasi (AI) juga menjadi bagian dari penilaian PISA 2025. Lebih dari 40% siswa mengatakan bahwa mereka menggunakan AI untuk membuat draf teks tugas menulis sekali atau dua kali seminggu, atau bahkan setiap hari. Siswa yang melaporkan menggunakan chatbot AI mencatat skor rata-rata sains yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakannya.
“Secara keseluruhan, data menunjukkan kelemahan dalam cara sistem pendidikan beradaptasi terhadap perubahan sosial, teknologi, dan ekonomi,” demikian kesimpulan studi tersebut.
Menurut PISA, tantangan pembuat kebijakan bukan sekadar memulihkan capaian yang hilang, tetapi juga memastikan sekolah mampu memenuhi tuntutan dunia yang terus berubah dengan cepat.
Di tengah penurunan tersebut, studi PISA juga menemukan kaitan antara keterlibatan orang tua dan kinerja siswa. Menanyakan kepada anak-anak apa yang mereka pelajari atau lakukan di sekolah, sekitar sekali sepekan atau lebih, berkaitan dengan peningkatan rata-rata 26 poin dalam performa sains setelah memperhitungkan status sosial ekonomi. (Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris/Diolah dan diadaptasi oleh Rahka Susanto/Editor: Rizki Nugraha)/dw.com/id. []
* Elizabeth Grenier Editor dan reporter DW Culture