El Nino Terus Menguat Berpotensi Jadi yang Terkuat dalam 40 Tahun Terakhir

Fenomena cuaca El Niño diperkirakan terus menguat dan bertahan hingga Februari 2027
Warga berlindung dari terik matahari menggunakan payung di Yangon, Myanmar. (Foto: dw.com/id - Myo Kyaw Soe/Xinhua News Agency/picture alliance)

TAGAR.id - El Niño yang sedang berlangsung saat ini berpotensi menjadi yang terkuat sejak pencatatan dimulai sekitar 40 tahun lalu, demikian peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Fenomenanya mengalami penguatan luar biasa. Natalie Muller melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 3 September 2026).

Fenomena cuaca El Niño diperkirakan akan terus menguat dan hampir pasti bertahan hingga Februari tahun 2027, tegas Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) dalam pembaruan laporan yang disampaikan pada Kamis (03/09)

Badan cuaca PBB tersebut memperingatkan bahwa El Niño akan berkembang menjadi peristiwa "sangat kuat” ("supersized”) dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi ini meningkatkan risiko gelombang panas ekstrem, kekeringan, dan banjir, sekaligus mengancam mata pencaharian masyarakat dan perekonomian.

"El Niño sedang mengalami penguatan luar biasa di depan mata kita,” ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam sebuah pernyataan. "Ilmu pengetahuan tidak menyisakan ruang untuk keraguan: planet ini sedang memasuki wilayah yang belum pernah dipetakan sebelumnya, dan wilayah tersebut semakin memanas.”

Kepala WMO, Celeste Saulo, mengatakan dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, bahwa berdasarkan perkembangan saat ini,El Niño "mungkin lebih kuat dibandingkan apa pun yang pernah terjadi sejak pemantauan kami dimulai—secara harfiah berada di luar skala grafik yang telah kami gunakan selama empat dekade terakhir.”

Lahan di CibarusahLahan di Cibarusah, Jawa Barat, mongering. (Foto: dw.com/id - Donal Husni/NurPhoto/picture alliance)

Apa itu El Niño?

El Niño adalah fenomena iklim alami yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan bukan disebabkan oleh perubahan iklim. Namun, para ilmuwan mengatakan El Niño dapat memperburuk dampak pemanasan global yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil secara terus-menerus.

WMO mengklasifikasikan El Niño menjadi empat tingkat: lemah, sedang, kuat, dan sangat kuat. El Niño yang sedang berlangsung diperkirakan akan mencapai tingkat intensitas tertinggi dalam skala tersebut.

Fenomena ini dimulai ketika suhu permukaan laut meningkat di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik di sekitar khatulistiwa. Peningkatan suhu ini kemudian memicu perubahan pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di seluruh dunia.

Sebagai contoh, El Niño sering menyebabkan kondisi kering dan kekeringan di Australia, Indonesia, dan sebagian wilayah Amazon, sementara Afrika Timur dan Amerika Serikat bagian selatan dapat mengalami curah hujan yang tinggi.

El Niño biasanya mulai terjadi antara Maret dan Juni, mencapai puncaknya menjelang akhir tahun, dan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan.

Suhu laut sudah berada pada tingkat yang "luar biasa” tinggi

Kepala WMO Saulo mengatakan terdapat "kemungkinan yang sangat tinggi, hampir 100%, bahwa El Niño akan bertahan hingga Februari 2027.” Ia menambahkan bahwa ini adalah pertama kalinya organisasi tersebut menyampaikan tingkat kepastian sebesar itu.

Menurut badan PBB tersebut, suhu permukaan laut di wilayah tropis Samudra Pasifik—yang menjadi penggerak El Niño dan dapat mengubah pola cuaca serta iklim hingga ribuan kilometer jauhnya—sudah jauh di atas rata-rata dan masih terus meningkat.

"Suhu laut di bawah permukaan juga berada pada tingkat yang sangat tinggi. Di beberapa wilayah, suhunya bahkan lebih dari 8 derajat Celsius di atas normal selama Juli dan awal Agustus,” ujar Saulo.

Meskipun El Niño diperkirakan mencapai puncaknya menjelang akhir tahun, Saulo menambahkan bahwa dampak lanjutannya kemungkinan akan berlangsung hingga jauh memasuki tahun 2027.

Suhu rata-rata global biasanya sangat tinggi pada tahun setelah terjadinya El Niño. Sebagai contoh, El Niño 2023–2024 turut berkontribusi terhadap 2024 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.

"Kita tidak seharusnya terkejut jika rekor tersebut kembali terpecahkan,” kata Saulo. Ia mengatakan bahwa kekeringan, banjir, dan panas ekstrem sudah menyebabkan gangguan dan kehancuran, serta memperingatkan bahwa dampak tersebut akan "berlipat ganda dan saling memperkuat ketika El Niño semakin intensif.”

Saulo menekankan bahwa fenomena cuaca ini akan "memberikan pukulan besar terhadap masyarakat, perekonomian, dan rantai pasok di seluruh dunia.” Ia menyerukan agar berbagai pihak melakukan persiapan untuk melindungi sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap kondisi iklim. "Kita tidak punya waktu untuk menunggu,” pungkasnya. (Sumber: AFP, Reuters, dpa)/(Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris/Diadaptasi oleh: Ayu Purwaningsih/Editor: Yuniman Farid)/dw.com/id. []

Berita terkait
Ini Cara El Nino and La Nina Pengaruhi Cuaca
Sementara di Filipina, lebih dari setengah provinsi di seluruh negeri melaporkan kekeringan