UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Pidato Jokowi, RAPBN 2020 dan Ancaman Resesi
Hari ini Presiden Jokowi menyampaikan pidato Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara RAPBN 2020 di Gedung DPR RI.
Presiden Jokowi foto bersama Ibu Negara Iriana dan pejabat DPR-MPR, sebelum menyampaikan pidato kenegaraan di Gedung MPR, Jumat, 16 Agustus 2019 (Foto: Tagar/Gemilang Isromi Nuari).

Oleh: Abra el Talattov*

Hari ini 16 Agustus 2019 Presiden Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi memberikan pidato Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2020 di Gedung DPR RI.

Tantangan pembangunan nasional pada 2020 menjadi sangat berat karena perekonomian global berada dalam bayang-bayang resesi. Buktinya, Dana Moneter Internasional (IMF) terus memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global pada 2019 dari 3,3 % menjadi 3,2 %, begitupun dengan proyeksi tahun 2020 yang dipangkas dari 3,6 % menjadi 3,5 %.

Kekhawatiran terjadinya resesi juga diperkuat dengan peringatan dari sejumlah lembaga internasional seperti Moody’s Analytics yang memperingatkan bahwa potensi terjadinya resesi global dalam 12 bulan hingga 18 bulan ke depan naik dari 40 % menjadi 50 %. Begitupun dengan Goldman Sachs Groups yang mewanti-wanti adanya potensi terjadinya resesi ekonomi akibat eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

Kembali ke kondisi perekonomian Indonesia, angka pertumbuhan ekonomi yang tertahan di level 5 % juga membuktikan bahwa tantangan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi akan semakin berat. Target pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 5,3 % semakin mustahil dicapai dengan melihat realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan I dan triwulan II 2019 yang hanya sebesar 5,07 % dan 5,05 %.

Penyebab utamanya karena kinerja ekspor yang terus memburuk tercermin dari pertumbuhan negatif selama Semester I-2019 sebesar -8,57 %.

Anjloknya pertumbuhan ekspor tersebut tidak lepas dari lesunya permintaan pasar global terhadap komoditas Indonesia baik akibat perang dagang maupun tren peningkatan kebijakan proteksionis dari negara-negara mitra utama perdagangan Indonesia seperti Uni Eropa dan India.

Apalagi, ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap AS dan China juga relatif tinggi yang tercermin dari porsi ekspor Indonesia ke AS dan Tiongkok cukup tinggi yaitu masing-masing sebesar 10,87 % dan 15 % pada tahun 2018. Artinya, 25 % ekspor Indonesia sangat bergantung dengan pasar AS dan Tiongkok.

Buktinya, realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2018 saja meleset jauh dari target, yaitu hanya mencapai 5,17 %, padahal targetnya 5,4 %.

Apabila, kedua negara tersebut bersitegang sehingga menyebabkan penurunan produksi dan permintaan akan bahan baku dari Indonesia maka kinerja ekspor Indonesia pun akan sangat rentan terpapar.

Bukan itu saja, bahkan pasar domestik Indonesia pun sangat rawan menjadi sasaran pengalihan produk-produk Tiongkok yang tidak terserap di AS. Artinya, impor Indonesia dari Tiongkok akan semakin besar dan defisit neraca perdagangan Indonesia juga akan semakin dalam.

Melihat besarnya tantangan tersebut, pemerintah perlu cermat dan berhati-hati dalam mematok asumsi makro 2020 yang tentunya berimplikasi pada postur RAPBN 2020.

Dalam pembahasan awal antara pemerintah dan DPR terkait asumsi makro 2020, disepakati target pertumbuhan ekonomi 5,2-5,5 %. Dengan melihat target APBN 2019 yang sebesar 5,3 % maka akan sangat sulit dicapai di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Buktinya, realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2018 saja meleset jauh dari target, yaitu hanya mencapai 5,17 %, padahal targetnya 5,4 %.

Berbagai persoalan fundamental ekonomi domestik masih menjadi penghalang utama upaya mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi.

Pertama, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi terhadap 55 % PDB, tumbuh stagnan di level 5,05 % pada 2018.

Kedua, investasi sebagai pembentuk 32 % PDB hanya tumbuh 6,67 % (2018), padahal investasi sebagai motor utama penggerak ekonomi riil mestinya tumbuh dobel digit agar pertumbuhan ekonomi tinggi bisa terakselerasi. Data BKPM juga mengkorfimasi kian lesunya investasi langsung di Indonesia yang hanya tumbuh 4,11 % (2018), bahkan Penanaman Modal Asing (PMA) tumbuh negatif yaitu -9,8 % (2018).

Ketiga, kinerja ekspor makin memburuk dengan pertumbuhan hanya 6,48 % (2018), hanya separuh dari pertumbuhan impor yang mencapai 12 %. Selain itu, rilis BPS per semester I-2019 memperlihatkan bahwa Indonesia masih kesulitan keluar dari problem defisit transaksi perdagangan yang mencapai USD 1,93 miliar atau meningkat 61 % dibandingkan defisit perdagangan pada semester I-2018 yang sebesar USD 1,19 miliar.

Keempat, defisit neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) mencatatkan kinerja yang memburuk yaitu minus USD 7 miliar per triwulan I-2019 atau 2,6 % terhadap PDB, membengkak dibandingkan triwulan I-2018 yang minus USD 5,2 miliar (2,01 % terhadap PDB).

Begitupun dengan defisit CAD triwulan II-2019 yang membengkak hingga US$ 1,4 miliar menjadi US$ 8,4 miliar (3,0 % dari PDB). Memburuknya defisit neraca transaksi berjalan ini menjadi tekanan berat bagi upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Melihat beragam tantangan ekonomi tersebut sudah sepatutnya menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam mendesain asumsi makro 2020 secara lebih rasional sehingga tidak mengorbankan postur APBN 2020 baik dari sisi penerimaan maupun belanja.

Jangan sampai karena over estimasi terhadap asumsi makro menyebabkan defisit fiskal semakin lebar yang berimplikasi terhadap peningkatan jumlah utang pemerintah atau bahkan mengorbankan belanja-belanja untuk kepentingan publik seperti belanja subsidi maupun belanja sosial.

Sebagai tahun pertama periode pemerintahan kedua Presiden Joko Widodo, maka sudah seharusnya postur APBN 2020 merefleksikan komitmen pemerintah untuk menunaikan aneka janji pada masa kampanye yang lalu.

*Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Berita terkait
Pidato Lengkap Presiden Terpilih Jokowi 'Visi Indonesia' di Sentul
'Ini bukan tentang aku, atau kamu. Juga bukan tentang kami, atau mereka. Ini saatnya memikirkan bangsa kita bersama.' - Jokowi
Pidato Politik SBY Mensyukuri Sikap Jokowi-Prabowo
SBY menyebut Prabowo champions of democracy, lega Jokowi akan jadi pengayom bagi semua. Ini pidato lengkap Susilo Bambang Yudhoyono.
Pidato Kemenangan Jokowi Usai Pengumuman KPU
Pidato kemenangan itu disampaikan Jokowi di Kampung Deret Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa 21 Mei 2019.
0
Gara-gara Handphone Suami Tega Bunuh Istri di Bandung
Hanya masalah handphone, seorang suami di Bandung tega membunuh istrinya yang sedang hamil tujuh bulan.