UNTUK INDONESIA
Pesta DJ dan Bir di Danau Toba, Ini Kata Penyelenggara
Penyelenggara Volcano Floating Party menanggapi komentar soal pesta di Danau Toba dengan iringan musik DJ dan minum bir.
Halasan Maruli Manurung atau akrab disapa Hamlet. (Foto: Tagar/Dok. Pribadi)

Medan - Penyelenggara Volcano Floating Party menanggapi adanya komentar miring terhadap pesta di Danau Toba dengan iringan musik DJ dan minum bir sambil mengarungi danau naik kapal.

"Kalau yang kontra itu saya tidak ambil pusing, Lae," kata Halasan Maruli Manurung, penyelenggara Volcano Floating Party ketika dihubungi Tagar, Senin 22 Juli 2019 melalui WhatsApp. Sebab, menurut pria yang akrab disapa Hamlet itu, acara tersebut bernilai positif.

"Dance, minum, menikmati sunset di atas kapal itu aja, saya rasa itu masih hal yang wajar. Lagian pembukaan acara kita ada manortor juga hiburan sekalian kita sajikan makan malam juga," jelasnya.

Untuk menggelar acara itu, masih kata Hamlet, pihaknya tidak menjalin kerja sama secara resmi dengan Pemkab Samosir. Mereka menggunakan kapal itu dengan sistem sewa.

Lalu, mereka mempromosikan paket itu sendiri dengan gaya mereka untuk menarik sebanyak mungkin wisatawan yang membeli paket wisata itu.

"Tapi, Pemkab (Samosir) sangat setuju akan acara kita ini," kata Hamlet.

Kapal yang dimaksud Hamlet ialah kapal Rumah Batak Terapung yang memiliki ikon patung Sigale-gale. Kapal ini menyerupai rumah Batak dan memiliki fasilitas yang terbilang istimewa.

Selain memiliki ruang yang luas, kapal ini juga memiliki fasilitas mewah, seperti minibar dan fasilitas audio yang canggih.

Hamlet bersama timnya memasarkan paket ini secara online. Per orang mereka memasang harga Rp 300.000. Bedanya untuk tamu yang sudah berada di Samosir, ada potongan harga. Mereka tinggal datang ke Lasterjonys Guesthouse untuk membeli paket wisata.

Banyak juga tamu kita yang datang dari luar hanya untuk Volcano Floating Party

Batak Terlalu Fanatik

Apa yang dia lakukan menurut Hamlet, tidak lebih dari upaya untuk menjual pariwisata Danau Toba, menyandingkannya dengan budaya. Dia tidak bermaksud memasukkan tradisi orang Barat ke Danau Toba.

"Sebagai pelaku pariwisata kami harus lebih fleksibel tanpa menghilangkan sedikit pun budaya kami, bagaimanalah biar pariwisata semakin maju bersamaan dengan budaya kita yang semakin laku kita jual," katanya.

Terkait DJ yang diputar di atas kapal, pengiring musik disko itu dimainkan setelah terlebih dahulu membikin gelaran tortor Batak sebagai pembuka. Menurut Hamlet, dalam pariwisata, joget, minum bir atau alkohol itu merupakan hal yang biasa.

"Kita juga ada tuak, ada tortor, cuman minumannya beda merek. Dance-nya juga asal dance. Saya kurang setuju kalo masyarakat Batak terlalu fanatik," katanya.

Sampai sejauh ini, Volcano Floating Party sudah digelar empat kali, setiap Sabtu dan masih akan digelar hingga 31 Agustus 2019. Peminatnya ternyata juga banyak.

"Banyak juga tamu kita yang datang dari luar hanya untuk Volcano Floating Party," kata Hamlet. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Bos Lippo Group James Riady Mangkir Panggilan KPK
Bos Lippo Grup Tjahaja Riady mangkir dari panggilan KPK untuk diperiksa sebagai saksi kasus suap perizinan proyek pembangunan Meikarta.