UNTUK INDONESIA

Pesanan Tas Rumahan di Sleman yang Mampet Saat Pandemi

Seorang perajin tas skela industri rumah tangga mengeluhkan tidak adanya pesanan tas sekolah dari pelanggan saat pandemi.
Suhargono, 42 tahun, sedang menjahit bahan plastik mika untuk dijadikan tas, Minggu, 9 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sleman – Tumpukan bahan-bahan tas tergeletak di lantai rumah Suhargono, di Tangkisan, Kelurahan Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Bahan-bahan lain juga bertumpuk di sekitar mesin jahit berwarna putih, di sudut ruangan berwarna krem.

Suhargono, pria berusia 42 tahun itu duduk di kursi di belakang mesin jahit. Jemari tangannya gesit mengatur bahan plastik berwarna hitam di bawah jarum jahit. Sesaat kemudian terdengar suara khas mesin jahit, seiring dengan gerakan tangannya mengatur posisi plastik hitam agar jahitannya rapi.

Tetesan gerimis di atap rumahnya siang itu, Minggu, 9 Januari 2021, menimbulkan suara gemeretak, mengiringi irama mesin jahit yang sesekali terhenti saat Suhargono memperbaiki letak bahan yang dijahitnya.

Setelah jahitan selesai, dia mengambil gunting untuk menggunting benang yang masih menempel pada plastik hitam tersebut, kemudian menunjukkan hasil jahitannya yang rapi sambil memulai ceritanya menjadi perajin tas sekolah.

Suhargono mengenal dunia pembuatan tas pada tahun 1993. Saat itu dia bekerja sebagai karyawan pada seorang temannya yang merupakan perajin tas.

Waktu itu yang ngetren tas batik. Kayaknya kalau tas itu kan lumayan, jadi saya belajar sampai bisa.

Sambil bekerja, Suhargono pun mempelajari seluruh tahapan pembuatan tas, dan dia memberanikan diri untuk mencoba membuat tas sendiri.

Diminati Guru Anaknya

Beberapa tahun kemudian dia berhenti dari pekerjaannya dan mencoba beralih profesi yang dianggap lebih menjanjikan. Namun pada tahun 2002 dia kembali mencoba peruntungan sebagai perajin tas sekolah.

Ketika itu Suhargono membuatkan tas sekolah untuk anaknya yang masih duduk di madrasah tsanawiyah atau setingkat sekolah menengah pertama (SMP).

Perajin Tas 2Suhargono menggunakan mesin jahit manual skala industri rumah tangga untuk memproduksi tas sekolah dan beberapa jenis tas lain, MInggu, 9 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Anak saya pakai tas buatan saya ke sekolah, terus gurunya tertarik. Waktu itu dia sekolah di MTS, terus gurunya pesen,” kata Suhagono mengenang.

Setelah tas pesanan guru tersebut selesai dan diantarkan, ternyata beberapa rekan guru juga tertarik dan memesan tas dengan model yang sama pada Suhargono. “Akhirnya saya bikin. Itu sekitar tahun 2003 kurang lebih. Itu sudah mulai produksi untuk dijual,” ujarnya menambahkan.

Berawal dari tas pesanan para guru, perlahan tas buatan Suhargono mulai dikenal. Pemasarannya melebar, tetapi semuanya merupakan pengguna langsung, bukan pesaan dari toko yang akan menjual kembali tas buatannya.

Kala itu Suhargono bahkan tidak berpikir untuk memasarkan tasnya di toko-toko. Dia merasa pesanan dari kenalannya yang ada di sejumlah instansi dan beberaapa pengguna langsung sudah cukup.

“Sampai ke sini itu pesanan banyak banget. Pernah di AAU sekitar tahun 2016. Kalau yang tas sekolah itu terus. Mulai dari situ ada seragam. Waktu itu Madrasah Mualimat juga masuk ke kita, seragam. Kalau di sekitar sini ya dari TK dan SD masuk ke kita. Kita kan cuma kerja sendiri jadi biaya produksi ngirit.”

Selisih harga jual tas buatannya cukup jauh dengan tsa-tas yang dijual di toko. Dia menyebut, tas kualitas tas sekolah buatannya yang dijual seharga Rp 120 ribu tidak kalah dengan tas sejenis dengan harga Rp 180 ribuan di toko.

Kualitas tas buatannya, lanjut Suhargono, sebanding dengan tas seharga Rp 200 ribuan di pasaran. “Pemakai biasanya membandingkan. Dia beli dari toko harga Rp 180 ribu dan beli dari saya Rp 120 ribu mungkin keawetannya lebih awet dari saya. Tas sekarang kalau yang bagus sekitar Rp 300 ribu lebih. Kalau kualitas tas saya sama dengan yang harga dua ratusan di pasaran,” dia menjelaskan.

Selain tas dengan model standar, Suhargono juga menerima pesanan tas dengan model yang diinginkan oleh pelanggan. Tetapi dia mengakui tidak bisa mengerjakan jika terlalu rumit, sebab peralatan yang digunakannya masih peralatan industri rumah tangga.

Dalam membuat tas, Suhargono menggunakan bahan tas semi polo double 1.680. Dari seluruh tahapan pembuatan tas, yang paling sulit adalah tahap pembuatan pola jika ada pemesan yang menginginkan pola berbeda.

Perajin Tas 3Suhargono menggunting bahan-bahan yang aakan digunakan untuk membuat tas, Minggu, 9 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Paling sulit itu ya kalau ada yang bawa model sendiri, berarti kita harus bikin pola yang semirip mungkin. Itu saja sih. Kalau pesanan harganya tergantung model, tapi selisihnya nggak banyak. Kalau pesan untuk seragam minimal 25 biji. Kalau perorangan mau pesan juga bisa satu atau dua, yang penting untuk batas kemampuan kita bikin polanya.”

Dalam sehari Suhargono bisa membuat tiga hingga empat tas dengan pola dan ukuran standar.

Mampet Akibat Pandemi

Pesanan tas yang tadinya cukup lancar, baik dari perorangan maupun instansi di sekitar tempat tinggalnya yang membutuhkan tas seragam, terpaksa mampet saat pandemi Covid-19 melanda.

Pandemi membuat hampir seluruh sekolah melaksanakan pembelajaran secara dalam jaringan (daring) atau online dari rumah, sehingga tidak ada siswa yang harus menggunakan tas.

“Tapi karena Corona ini jadi sekolah pada berhenti. Omzetnya menurun sampai 100 persen. Terakhir itu waktu mau masuk sekolah bulan Juli, ada beberapa SD dan TK yang memesan,” tuturnya.

Kondisi itu membuatnya sempat berpikir untuk menjual tas buatannya ke toko-toko. Tapi Suhargono mengaku terkendala modal jika harus menjualnya ke toko-toko. Sebab biasanya toko hanya mau jika perajin menitipkan produk mereka untuk dijual di situ.

“Kendalanya untuk masuk ke toko sebenarnya pada modal, karena kalau di toko itu modalnya harus dobel. Kita nitip dulu nanti kalau laku baru dibayar, kita masukin lagi. Terus terang itu kendalanya.”

Untuk menutupi penghasilannya yang berkurang akibat tidak adanya pesanan tas sekolah, Suhargono mencoba membuat model tas baru, yakni tas pancing dan tas gowes. Memancing dan bersepeda menjadi kegiatan yang banyak diminati saat pandemi.

Untuk memasarkan tas pancing dan tas sepeda itu Suhargono dibantu oleh seorang rekannya. Sebagian lagi dijual dengan sistem daring.

“Ada yang masukin ke komunitas gowes, sebagian kita titipin ke toko. Yang masih jalan itu. Kalau tas sekolah paling ada satu dua. Tas gowes dan tas pancing kita jual seharga Rp 50 ribuan,” ucapnya.

Seorang warga Kecamatan Berbah lainnya, Esti, 45 tahun, yang pernah memesan tas buatan Suhargono untuk kegiatan di kantornya, menilai meski dibuat oleh industri rumah tangga, kualitas tas-tas itu cukup bagus.

Perajin Tas 4Suhargono menunjukkan salah satu jenis tass buatannya, MInggu, 9 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dulu kantor Esti memesan tas tersebut sebagai hadiah untuk anak-anak yang mengikuti kegiatan sunatan massal. Esti sendiri juga menggunakan tas buatan Suhargono.

“Ini tas buatannya. Kualitasnya lumayan. Sampai saat ini masih bagus dan masih saya pakai,” ucapnya dengan bahasa Jawa sambil menunjukkan tas backpack berwarna cokelat.

Esti juga mengakui bahwa harga tas produksi Suhargono cukup berani bersaing dengan tas sejenis yang dijual di toko. “Memang harganya lebih murah.”

Esti menambahkan, perajin skala kecil dan menengah seperti Suhargono sebaiknya sering mengikuti pameran-pameran yang digelar oleh berbagai pihak, agar produk-produknya semakin dikenal dan berpotensi menambah pelanggan. []

Berita terkait
Jaket Kuning Pemberian Keluarga Penumpang Sriwijaya SJ 182
Seorang keluarga penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ-182 menceritakan saat-saat terakhirnya bertemu dengan kelima keluarganya itu melalui video call
Kulit Kerbau Toraja Jadi Kuliner Khas di Yogyakarta
Seorang pemilik usaha krecek, kuliner khas Jawa di Bantul, Yogyakarta, menggunakan bahan baku kulit kerbau yang dikirim dari Toraja dan Makassar.
Dihancurkan Gempa, Perajin Tas Bermodal Rp 230 Ribu Bangkit
Seorang perajin tas kulit di Yogyakarta mengaku sempat mengalami jatuh bangun dalam berusaha, termasuk dikhianati oleh karyawannya sendiri.
0
Pesanan Tas Rumahan di Sleman yang Mampet Saat Pandemi
Seorang perajin tas skela industri rumah tangga mengeluhkan tidak adanya pesanan tas sekolah dari pelanggan saat pandemi.