UNTUK INDONESIA

Dihancurkan Gempa, Perajin Tas Bermodal Rp 230 Ribu Bangkit

Seorang perajin tas kulit di Yogyakarta mengaku sempat mengalami jatuh bangun dalam berusaha, termasuk dikhianati oleh karyawannya sendiri.
Dwi Endarto, 44 tahun, duduk di ruang kerjanya dengan latar belakang alat dan bahan pembuatan tas kulit, Kamis, 7 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Gulungan kulit berwarna cokelat muda bertumpuk di salah satu sudut ruang kerja Dwi Endarto, 44 tahun, siang itu, Kamis, 7 Januari 2021. Sejumlah potongan kain batik berserak tidak jauh dari gulungan kulit tersebut.

Endarto, sapaan akrabnya duduk di belakang mesin jahit. Sebatang rokok terselip di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Sesekali dia mengisap dalam-dalam rokok filter kesukaannya, kemudian mengembuskan asap putih tipis dari bibirnya.

Sebagian rambut Endarto sudah memutih, tapi semangatnya saat bercerita masih tampak menggebu-gebu. Suaranya lantang dan terdengar jelas siang itu. Memecah sunyinya suasana di ruang kerja yang terletak tepat di belakang tempat tinggalnya, Kadipiro, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Endarto adalah seorang perajin tas kulit yang memulai usahanya dari nol. Dia sama sekali tidak pernah bekerja pada perajin tas lain. Endarto mengaku dirinya bisa memroduksi tas hanya karena sering melihat langsung perajin lain bekerja.

Saya tidak pernah ikut sama perajin tas lain. Jadi saya belajar cuma dari melihat mereka bekerja.

Dia memulai ceritanya dengan penuh semangat. Kata Endarto, sebelum menjadi perajin tas dirinya pernah bekerja sebagai buruh bangunan, tepatnya sekitar tahun 2011.

Bekerja sebagai buruh bangunan bukan keinginannya saat itu. Tapi kala itu dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonominya setelah usaha yang dirintisnya hancur pada tahun 2006.

Dihancurkan Gempa Bumi

Dulu, setelah tamat sekolah di salah satu sekolah teknik menengah (STM), Endarto sempat membuka usaha sebagai perajin handel tas berbahan kayu. Dia membuka usahanya di Solo, Jawa Tengah, dan memasarkan handel tas buatannya di Yogyakarta.

Perajin Tas Kulit 2Dwi Endarto, 44 tahun, seorang perajin tas kulit di Yogyakarta, sedang menjahit bahan tas, Kamis, 7 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Keterampilannya dalam bidang teknik membuatnya mampu berinovasi dan menciptakan alat yang memudahkan dan mempercepat produksi handel tas. Saat perajin lain yang menggunakan cara manual hanya mampu memroduksi 100 pasang handel tas per hari, dia mampu memroduksi hingga 500 pasang.

Saat itu Endarto sempat memiliki beberapa anak buah yang membantunya berproduksi.

“Tapi alat buatan saya yang bisa menggunakan cuma saya sendiri. Wong liyo ra iso, malah resikone tambah gede. (Orang lain tidak bisa, malah risikonya semakin besar),” ucapnya.

Dua anak buahnya menjadi korban dari alat yang dibuatnya, tangan mereka terluka saat mengoperasikan alat tersebut.

tas buatannya juga cukup laku di pasaran karena Endarto menggunakan teknik pewarnaan yang berbeda dengan perajin lain. Dia menggunakan bahan kimia tertentu.Handel tas buatannya juga cukup laku di pasaran karena Endarto menggunakan teknik pewarnaan yang berbeda dengan perajin lain. Dia menggunakan bahan kimia tertentu.

Banyaknya pelanggan membuat salah satu karyawannya mencoba berbuat curang. Dia mencoba mengambil beberapa pelanggan Endarto setelah berpura-pura meminjam ponsel milik Endarto.

“Dia pinjam hp, katanya mau buat main game. Ternyata dia ambil nomor-nomor ponselnya langganan saya. Dia produksi sendiri, tapi saya punya rahasia yang tidak bisa dicontoh, yaitu pewarnaan. Untuk pewarnaan saya pakai ruangan khusus. Sampai sekarang itu cuma saya yang bisa,” kata Endarto mengenang.

Hal lain yang dikenang oleh Endarto adalah saat beberapa kelompok perajin mengundangnya untuk berdiskusi. Mereka merasa keberatan karena Endarto menjual produk sejenis dengan harga yang lebih murah. Padahal menurt Endarto, dia bisa menjual lebih murah karena mampu memroduksi barang dalam waktu yang lebih cepat.

“Waktu itu orang jual Rp 2. 500 saya Rp 2.250. Akhirnya saya dipanggil sama kelompok perajin, mereka minta harga jual sama. Jadi saya bilang kualitas punyaku beda dengan produk mereka, kualitas mereka lebih bagus. Tapi saya lebih cepat berproduksi.”

Akhirnya Endarto menawarkan pada mereka untuk membeli bahan setengah jadi dari tempatnya, agar harga jual bisa stabil. Tetapi setelah beberapa waktu berjalan, mereka tidak sanggup menerima seluruh produksi setengah jadi dari Endarto, dan kembali menjual sendiri-sendiri.

“Hancurnya gempa tahun 2006, karena dari Solo saya setor ke Jogja, tapi kan Jogja hancur. Jadi saya ikut hancur,” ucapnya menambahkan.

Modal Rp 230 Ribu

Setelah itu Endarto menganggu dan kembali ke Yogyakarta. Rumah yang sudah dibelinya kembali dia jual, dan tinggal bersama orang tuanya di Kampung Ketanggungan.

Perajin Tas Kulit 3Dwi Endarto, 44 tahun, menunjukkan salah satu pola tas kulit yang berlapis kain batik model lama, Kamis, 7 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dia pun bekerja sebagai buruh bangunan dengan gaji Rp 33 ribu per hari. Sambil bekerja, dia mencoba menabung untuk kembali berusaha. Kala itu dia mengumpulkan uang sebesar Rp 230 ribu.

Dia bertanya pada kakaknya yang lebih dulu membuka usaha kerajinan tas, bagaimana cara membuat tas dengan modal Rp 230 ribu, sebab dia mempunyai satu motif yang dibuatnya sendiri dan diyakininya bakal laku jika dijual.

Setelah diberitahu, dia pun membeli bahan. Endarto menjahit tas kreasinya menggunakan mesin jahit milik kakaknya tersebut. Itu berlangsung selama beberapa waktu.

Vinil saya pahat dengan motif bunga. Awalnya saya pasarkan di Prambanan dan Borobudur tapi penjual nggak mau beli, jadi saya titip jual,” kata Endarto.

Dengan sistem itu pun awalnya para pedagang di sana tidak mau, mereka menawar dengan harga Rp 13 ribu. Endarto pun membolehkan, dengan catatan jika tas itu laku, pada pengambilan selanjutnya mereka harus membeli dengan harga normal, yakni Rp 16 ribu.

Seperti dugaan Endarto, ternyata tas buatannya laris manis. Para pedagang pun bersedia membeli ulang, tapi dengan harga Rp 13 ribu. Kali ini Endarto yang bertahan. Dia tidak mau melepas dengan harga itu. Akhirnya para pedagang mengalah.

“Saya tahu itu bakal laku karena tidak ada saingannya. Akhirnya mereka mau beli Rp 16 ribu. Jadi setelah itu setiap saya datang mereka rebutan.”

Tapi perjalanan menuju sukses tidak mulus. Endarto mengaku pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan. Waktu itu dia tidak punya motor. Jadi untuk mengantar barang ke Prambanan maupun Borobudur dia meminjam motor adiknya.

Suatu ketika, saat menuju Prambanan, ban motor yang dikendarainya boccor, bahkan sampai tiga kali. Yang terakhir, dia harus mengganti ban luar motor karena itu penyebab kebocoran.

“Karena saya tidak cukup uang, saya meninggalkan tas. Setelah barang sampai di Prambanan dan laku, tas itu saya ambil dan bannya saya bayar. Terus saya kembali ke Prambanan,” kenangnya.

Waktu itu hasil penjualan sekitar Rp 500 ribu tapi dia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 200 ribuan untuk ganti ban dan tambal. Dia pun meminta pada sang adik untuk patungan penggantian ban luar.

Setelah pemasaran di Borobudur dan Prambanan semakin lancar, Endarto tidak lagi mengecernya ke sana. Dia menjual produknya ke pedagang grosir di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Dalam sehari dia bisa menyetro hingga 200 tas.

Tas buatannya ternyata sempat digunakan oleh salah satu artis di salah satu acara televisi. Hal itu membuat tas buatan Endarto semakin meledak di pasaran.

Setengah tahun kemudian Endarto berhasil membeli tanah yang akhirnya dibangunnya sebagai rumah tempat tinggalnya.

Perajin Tas Kulit 4Dwi Endarto, 44 tahun, menunjukkan beberapa model tas yang diproduksinya, Kamis, 7 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Sebelumnya saya beli mobil untuk transportasi. Dulu waktu rumah saya jual, bapak saya pernah bilang nggak mungkin saya beli rumah lagi. Tapi itu saya jadikan penyemangat,” tuturnya.

Model Eksklusif

Endarto sempat merasa bosan dan capek menjadi perajin tas vinil Akhirnya dia beralih menjadi perain tas kulit yang disebutnya proses pengerjaannya bisa lebih santai.

Selain bekerja lebih keras saat menjadi perajin tas vinil, hal lain yang membuatnya berhenti adalah semakin banyaknya tas sejenis yang dijual dan menyebabkan harga menurun.

“Sampai sekarang saya kalau ada perajin lain yang jual barang sejenis dengan harga lebih murah, itu saya pahami, karena mereka butuh makan. Jadi biasanya saya gandeng mereka. Mereka bisa menjual barangnya ke saya tapi tidak boleh ke pasar. Biasanya awalnya mereka mau, tapi lama-lama mereka juga jual ke saya ke pasar juga,” ucapnya lagi.

Meski kerajinan tas kulit merupakan hal baru, tapi Endarto mengaku tidak merasa kesulitan dalam pemasaran. Sebab para pedgang tas vinil di pasar sudah siap menampung produknya.

Endarto pun berkreasi dengan beragam model baru. Dia membuat model sesuai dengan jumlah pedagang yang menjadi langganannya.

“Misalnya saya setor ke 10 pedagang, masing-masing saya antarkan model yang berbeda. Ada juga model bebas yang boleh dibeli oleh siapa pun. Saya juga punya model khusus yang harganya agak murah,” kata dia.

Kadang pedagang yang satu ingin menjual model yang sama dengan pedagang lain karena dinilainya cukup laris. Tapi Endarto tidak mau menjual model yang sama pada pedagang yang berbeda. “Kadang mereka bilang perajin kok barangnya mau dibeli nggak boleh.”

Dalam menjual produknya, Endarto mengaku menerapkan etika dagang. Dia mencontohkan, tak jarang saat tiba di area parkir pasar, ada orang yang ingin membeli tas dari dia langsung. Endarto selalu mengarahkan calon pembeli pada pedagang di dalam pasar.

“Kalau dia ngotot malah saya kasih harga mahal supaya nggak jadi beli. Jadi walahpun pedagang kadang tidak cocok sama cara saya, mereka pasti beli kembali di saya karena ada etika itu.”

Endarto memiliki ratusan model tas, termasuk beberapa model yang dibuat dari bahan limbah kain batik bekas. Dia memanfaatkan kain-kain perca sisa produksi tas berukuran besar untuk membuat model lain.

Perajin Tas Kulit 5Salah satu tas buatan Dwi Endarto yang merupakan pesanan salah satu butik. Foto diambil Kamis, 7 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Satu pola bisa jadi tiga model. Misalnya tas dengan limbah kain jarik ini. Dulu awalnya saya jual Rp 50 ribu karena saya pikir cuma limbah, tapi sekarang naik harganya jadi Rp 75 ribu karena bahan limbah habis jadi saya pakai kain baru.”

Dia mematok harga tas buatannya antara Rp 65 ribu hingga Rp 105 ribu. Tapi untuk pesanan khusus butik, dia mematok harga yang leih mahal karena bahan dan modelnya lebih rumit.

Seorang ibu rumah tangga penggemar tas kulit yang bernama Yuli, 41 tahun, mengaku terkesan dengan model tas yang diproduksi Endarto meski dia hanya melihat melalui foto.

Menurut Yuli, model tas buatan Endarto berbeda dengan tas sejenis yang beredar di pasaran, termasuk tas kecil yang sangat cocok untuk pegowes atau pesepeda.

“Tas yang kecil itu unik. Bisa buat HP dan uang. Cocok sekali kalau dipakai sama yang suka gowes,” ucapnya. []


Berita terkait
Mural Cantik Menambah Penghasilan Warga di Tangerang
Keindahan mural dan dinding rumah warga Kampung Bekelir, Tangerang, membuat banyak wisatawan yang berkunjung, dan berdampak pada ekonomi warga.
Selongsong Kertas Terbunuh Kantong Plastik di Yogyakarta
Selongsong atau pembungkus yang terbuat dari kertas sisa pembungkus semen pernah jaya di Yogyakarta,tapi sekarang tergeser oleh kantong plastik.
Bertahan Jual Alat Pertanian di Sukabumi Kala Pandemi
Seorang perempuan berusia 46 tahun di Sukabumi membuka usaha toko alat pertanian setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya.
0
43 Napi Kedungpane Semarang Dikirim ke Nusakambangan
Mengurangi overload kapasitas, 43 narapidana (napi) Lapas Kedungpane Semarang dipindah ke sejumlah lapas di Nusakambangan, Cilacap.