UNTUK INDONESIA
Pesan Kang Emil Untuk Pengurus Apdesi Jawa Barat
Pengurus Apdesi masa jabatan 2019-2024 dilantik Gubernur Jabar RIdwan Kamil. Kang Emil berpesan agar pengurus Apdesi meningkatkan kompetensi
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (tengah) bersama pengurus Apdesi masa jabatan 2019-2024 (Foto: Tagar/Humas Pemerintah Provinsi Jawa Barat).

Bandung - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, berpesan kepada seluruh pengurus DPD Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia atau Apdesi Jawa Barat masa bakti 2019-2024 agar selalu meningkatkan kompetensi, profesional dalam melayani masyarakat terutama integritas diri mengingat saat ini kepala desa berikan tanggung jawab mengelola dana desa.

“Kepada para pengurus Apdesi Jabar yang merupakan kepala desa dari 18 kabupaten. Jadi banyak tanggung jawab seperti harus meng-update diri dari sisi integritas jangan sampai tergoda oleh hal yang kurang baik, harus profesional,” tuturnya usai pelantikan pengurus Apdesi wilayah Jawa Barat 2019-2024 di Aula Barat Gedung Sate Bandung, Selasa, 18 Februari 2020.

Selain itu, Kang Emil sapaan dari Ridwan Kamil menitipkan pesan kepada pengurus Apdesi Jawa Barat yang baru agar paham bagaimana pengelolaan pemerintahan digital. Dimana desa saat ini punya sistem mengatur anggaran dan sepertiga dari seluruh di Jawa Barat sudah cashless. “Pengurus Apdesi pun harus bisa melayani masyarakat dengan baik, karena mereka dipilih rakyat,” pinta dia.

Aspirasi Warga Desa Harus Didengar

Saat ini kata Gubernur yang akrab disapa Kang Emil ini, dirinya pun telah menugaskan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa untuk menghimpun aspirasi dari seluruh masyarakat desa.

“Ada sembilan program yang akan dijadikan anggaran terbaik di tahun 2021. Tadi kan dengan anggaran kita dan komitmen dalam setahun saja status desa-desa melompat. Kami ingin ngebut mudah-mudahan tahun ini melompat lagi. Tahun pertama kan pondasi, tahun kedua akselerasi, tahun ketiga prestasi,” kata dia.

Bercermin dari data dalam kurun waktu 12 bulan jelas dia, status desa sangat tertinggal di Jawa Barat awalnya berjumlah 48 kini sudah nol. Kemudian 929 desa tertinggal kini menyusut sepertiganya yaitu 326 desa. Sementara desa berkembang yang awalnya berjumlah 3.600 desa saat ini meningkat menjadi 3.656 desa. “Untuk desa maju meningkat dua kali lipat dari 695 menjadi 1.232 desa. Kemudian desa mandiri dari 37 menjadi 98 desa,” jelas dia.

Lompatan-lompatan status desa tersebut tambah Kang Emil, tak lepas dari efektivitas sejumlah program dan inovasi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat yang berbasis perekonomian desa. Seperti program OVOC (One Village One Company), Desa Digital, OPOP (One Pesantren One Product), Sadesha (Satu Desa Satu Hafidz), Kredit Mesra, Mobil Maskara untuk desa mandiri, hingga Sapa Warga.

"Kita punya program satu desa satu perusahaan, tidak boleh ada desa di Jabar yang tidak punya bisnis dan usaha. Dua, program desa digital, membangun pusat digital desa dimana balai desanya dilengkapi komputer dan internet untuk jualan online. Tiga, satu pesantren satu produk karena pesantren banyaknya di desa, kini 1.200 pesantren sudah kita modali dan sekarang sudah punya pabrik roti, sabun, online pertanian dan lainnya. Kemudian satu desa satu hafidz, kredit mesra, mobil maskara,” tambah dia.

Terkait program OVOC, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat pada tahun lalu sudah mengirimkan 110 anak muda lulusan terbaik perguruan tinggi ke desa-desa. Mereka harus memiliki empat nilai yaitu kompetensi, kejuangan, kerakyatan dan keikhlasan.

"Tahun ini kita kirim lagi 300 orang patriot desa, yang akan tinggal di desa satu sampai dua tahun, kerjanya hanya satu membangun startup," ujar Kang Emil.

Atas terobosan dan inovasi dalam membangun desa, DPD Apdesi Jabar yang kini diketuai Dede Kusdinar merasa tidak salah tahun lalu menjuluki Kang Emil sebagai ‘Gubernur Desa’. "Tidak ada keraguan lagi untuk memberikan penghargaan kepada Bapak Ridwan Kamil sebagai Gubernur Desa" ucap Dede. []

Berita terkait
Kang Emil Mengeluh Dana Transfer ke Daerah Kecil
Gubernur Jawa Barat mengeluhkan dana transfer daerah untuk Jawa Barat dari pemerintah pusat kecil dibandingkan dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur
0
Denny Siregar: Di Balik Ngamuknya FPI
Yang ngamuk-ngamuk seperti anggota FPI itu pasti tidak paham makna puasa di bulan Ramadan ini. Makanya sibuk minta dihormati. Denny Siregar.