UNTUK INDONESIA
Pernusa: Dulu FPI Ditakuti, Sekarang Macan Ompong
Ketua Perjuangan Rakyat Nusantara (Pernusa) KP Norman Hadinegoro menilai ormas FPI dan PA 212 saat ini bak macan ompong, tanpa Rizieq Shihab.
Ketua Perjuangan Rakyat Nusantara (Pernusa). (Foto: Istimewa)

Jakarta - Ketua Perjuangan Rakyat Nusantara (Pernusa) KP Norman Hadinegoro menilai langkah yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) untuk melakukan aksi demonstrasi di depan Bareskrim Mabes Polri pada Jumat, 13 Desember 2019, akan berakhir sia-sia. Dia menganggap FPI saat ini bak macan ompong.

Perlu diketahui dulu FPI ormas yang ditakuti, sekarang jadi macan ompong.

Ormas yang sangat lekat dengan sosok Rizieq Shihab itu diagendakan akan melebur bersama massa Persaudaraan Alumni (PA) 212, mendorong Kepolisian untuk mempercepat proses penetapan tersangka kepada Sukmawati Soekarnoputri dan Gus Muwafiq yang mereka teriakkan sebagai penista agama. 

"Perlu diketahui dulu FPI ormas yang ditakuti, sekarang jadi macan ompong, karena beking-bekingnya pada kabur karena terlibat masalah," katanya kepada Tagar, Kamis 12 Desember 2019.

Baca juga: Sukmawati-Gus Muwafiq Bakal Didemo 10 Ribu Massa 212

Menurutnya, dengan adanya aksi yang akan dilakukan FPI, semakin membuat ormas tersebut terhimpit kian dibenci masyarakat, karena telah memanfaatkan kekebasan berpendapat demi kepentingan jualan isu agama.

"Negara yang demokrasi ini diberikan kebebasan (berpendapat). Akan tetapi kebebasan itu jangan dimanfaatkan dengan membawa misi-misi tertentu, bertujuan ingin memecah belah NKRI," ujarnya.

Dia juga mempertanyakan dan terheran-heran dengan langkah FPI yang berbeda haluan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU). Seakan ingin membuat poros Islam sendiri.

"Kenapa FPI tidak percaya dengan MUI? Kenapa sasaran FPI menciptakan permusuhan dengan ulama-ulama NU? Ulama mana yang FPI bela. Islam seperti apa yg diperjuangkan FPI! Pertanyaannya berani enggak FPI menantang orang-orang nasionalis," tuturnya.

Norman menyarankan FPI tidak terus membuat gaduh terkait persoalan penistaan agama. Sebaiknya, kata dia, diambil tindakan persuasif dahulu dengan jalur dialog.

Demonstrasi besok yang akan dilakukan FPI, dikatakan dia, dapat mengundang resistensi Banser NU untuk membela ulamanya, yakni Gus Muwafiq.

Poster Demo 212Beredar poster PA 212 akan melakukan aksi turun ke jalan. (Foto: Istimewa)

"Jangan ucapan seseorang diplintir lalu dicap menghujat agama. Seolah-olah orang itu salah harus didemo. Memaksakan kehendak itu bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Demo yang akan dilaksanakan FPI akan memaksa dan memancing ormas Banser turun membela ulamanya," kata Norman.

Dia menuding, ormas FPI dan PA 212 siap dimanfaatkan oleh pihak tertentu dengan bayaran, untuk menghadirkan momentum membuat kekacauan. Buktinya, banyak petinggi FPI yang memiliki catatan hitam hukum. Selain itu, jumlah massanya ia soroti semakin kempes.

"FPI dan PA 212 banyak dihuni oleh orang-orang bermasalah di republik ini. Akan dimanfaatkan pihak-pihak yang bermasalah ialah pengusaha kerah hitam, yang merampok uang negara," ucapnya.

Baca juga: Henry Yoso Bakal Kasuskan Andi Arief dengan UU ITE

212Bendera berukuran besar bergambar Habib Rizieq berkibar di acara Reuni Akbar 212 pada 2 Desember 2019 pagi hari. (Foto: Tagar/Nurul Yaqin)

"FPI dan PA 212 taringnya sudah tidak ada lagi dan keberadaan mereka tidak ada pengaruhnya dengan pemerintah yang kuat. Langkah mereka mubazir. Penggemarnya semakin sedikit. FPI dan PA 212 sebagai jualan demo semakin tidak diminati lagi," kata Norman.

Rakyat sekarang semakin cerdas. Orang ikut demo pasti dibayar tapi kalau bayarannya sedikit enggak ada yang mau ikut demo

Terkait adanya isu yang menyebutkan massa akan turun sebanyak 10.000 orang, Norman menilai kehadiran orang-orang tersebut tergantung pihak yang mensponsori. Hal itu menjadi kontraproduktif, karena semakin banyak yang sadar, sudah lelah menjadi pedemo jualan agama.

"Demo mereka pasti ada yang sponsori tergantung sponsornya. Gombal-gombal FPI dan PA 212 sudah tidak bisa jadi pegangan. Rakyat sekarang semakin cerdas. Orang ikut demo pasti dibayar tapi kalau bayarannya sedikit enggak ada yang mau ikut demo," kata dia.

Daripada melakukan aksi demonstrasi, Norman mengimbau agar FPI seharusnya memberikan semangat kepada Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab yang tidak bisa pulang ke Indonesia karena persoalan overstay.

"Demo kali ini mubazir bahkan menciptakan permusuhan. Sebaiknya FPI dan PA 212 mengurus Habib Rizieq Shihab, agar bisa pulang ke Indonesia. Karena Habib Rizieq pemberi semangat perjuangan FPI," ucap Ketua Pernusa. []

Berita terkait
Pernusa: Menteri Agama Tidak Punya Nyali Hadapi FPI
Ketua Pernusa, Norman Hadinegoro menilai Menteri Agama Fachrul Razi yang memperpanjang surat keterangan terdaftar (SKT) FPI melukai banyak orang.
Pernusa: Anies Perusak Tidak Senangi Rakyat Jakarta
Ketua Perjuangan Rakyat Nusantara (Pernusa) KP Norman Hadinegoro sebut Anies Baswedan hanya merusak dan tidak buat senang rakyat Jakarta.
Pernusa: Ijtima Ulama IV Tindakan Makar
Ketum Pernusa KP Norman Hadinegoro sebut hasil Ijtima Ulama IV merupakan tindakan makar.
0
Perjanjian Damai Batal, AS Gempur Taliban
AS melancarkan serangan udara pertama ke milisi Taliban di Afganistan Rabu (4/3/2020). Perjanjian damai antara keduanya batal.