UNTUK INDONESIA
Pernikahan di Tepi Sawah dengan Protokol New Normal
Dua mempelai itu menjalani prosesi pernikahan di tepi sawah di Sleman, Yogyakarta. Acara digelar dengan menerapkan protokol new normal.
Prosesi akad nikah di luar ruangan dengan penerapan protokol kesehatan bagi semua orang, Minggu, 2 Agustus 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sleman - Suara ijab kabul terdengar lantang dan lancar pagi itu, Minggu, 2 Agustus 2020, di Organic Omah Bening, Jalan Nyamplung, Bodeh, Balecatur, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, menandai resminya pelepasan masa lajang sepasang kekasih.

Cuaca cukup cerah meski mendung pagi itu seolah berusaha menghalangi sinar matahari, yang sesekali pancarannya menelusup di sela gumpalan awan. Tapi setidaknya mendung mampu meneduhi orang-orang yang sedang berbahagia di tepi persawahan itu.

Hamparan padi berwarna hijau di sebelah tenggara tenda pengantin menambah suasana asri di situ. Dua sepeda ontel terparkir di sebelah timur tenda, menguatkan konsep alami dan tradisional pada acara pernikahan Ilham dan Prasasti.

Beberapa saat setelah acara ijab kabul dilaksanakan, kedua mempelai beserta keluarga besar melepas puluhan balon dan sepasang merpati, sebagai simbol lepasnya masa lajang.

Alunan lagu-lagu romantis terdengar lembut saat keduanya kembali menuju pelaminan, sambil menunggu kedatangan para tamu undangan.

Beberapa belas meter dari tenda pengantin, tepat di pintu masuk, dua pemuda yang bertugas menjadi penerima tamu memeriksa suhu tubuh tamu undangan yang datang.

Hampir seluruh orang yang ada di acara itu mengenakan masker dan menjaga jarak, serta tidak ada kerumunan. Kedua mempelai dan keluarga besar mereka menerapkan konsep pernikahan 'semi drive thru'.

Kebetulan di pinggir sawah dan view-nya bagus. Karena covid dan terbatas tamu undangannya, jadi supaya enggak ada kerumunan. Setelah tamu datang, foto, langsung pulang.

Pernikahan SlemanMempelai dan keluarga besar memilih lokasi acara pernikahan di ruang terbuka, di tepi persawahan untuk mencegah penyebaran Covid-19, Minggu, 2 Agustus 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tidak Boleh Lebih dari 30 Orang

Prasasti, sang mempelai perempuan, menyebut konsep pernikahannya di ruang terbuka atau outdoor itu dengan konsep 'semi drivethru'. Konsep itu muncul akibat adanya pandemi Covid-19.

Awalnya mereka merencanakan pernikahan bukan di tempat itu dan bukan dengan konsep seperti itu.

"Sebenarnya sih karena corona ya. Jadi kita sebenarnya enggak di sini, tapi karena corona, yang diundang cuma keluarga besar, jadi kita pakai rumah keluarga saja. Makanya di sini," ujar Prasasti.

Ia dan keluarga besarnya kemudian memilih konsep pernikahan di luar ruangan, yang dinilainya tidak ribet dan tidak terlalu heboh. "Jadi semi drive thru sih. Kita juga mikir-nya semoga bisa menjadi contoh warga sekitar dan teman-teman lain yang mau married sih. Jadi nikah itu enggak perlu yang mewah-mewah banget."

Senada dengan sang istri, Ilham mengaku konsep itu sengaja diterapkan karena mereka menikah di masa pandemi. Selain mencegah terjadinya kerumunan,  menggelar pernikahan di luar ruangan juga merupakan hal unik, apalagi didukung dengan view pesawahan di sekitar lokasi.

"Kebetulan di pinggir sawah dan view-nya bagus. Karena covid dan terbatas tamu undangannya, jadi supaya enggak ada kerumunan. Setelah tamu datang, foto, langsung pulang," kata Ilham.

Yoni, 30 tahun, kakak kandung mempelai perempuan, menambahkan, rencananya pernikahan adiknya tersebut akan digelar pada November 2020 karena adanya pandemi Covid-19. Tapi setelah dibicarakan kembali dengan mempelai dan keluarga besar mereka, akhirnya disepakati untuk tidak menunda hingga November.

Pernikahan SlemanKedua mempelai saat menandatangani buku nikah seusai ijab kabul di Omah Bening, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Minggu, 2 Agustus 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Keluarga besar mereka pun kemudian mencoba mencari konsep pernikahan yang sesuai dengan kondisi saat ini, yakni dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan mencegah penyebaran Covid-19.

Pihak keluarga sempat ingin melaksanakan pernikahan tanpa resepsi, atau cukup dengan akad nikah saja. Namun kondisi kehidupan di desa, kata dia, cukup sulit untuk dapat mewujudkan hal itu. Sebab dipastikan akan ada kerumunan dan kegiatan lain.

"Tadinya cuma mau akad saja, tapi kan di desa enggak bisa, Mas. Pasti ada acara lain-lain, akhirnya kita buatlah seperti ini. Kita punya keluarga trah Joyosentono, jadi kita cucu-cucunya yang rembukan," tutur Yoni.

Setelah konsep resepsi pernikahan selesai ditentukan, kemudian pihak keluarga membahas teknis pelaksanaan, mulai dari bagaimana teknis saat tamu tiba, saat ada di lokasi pernikahan, hingga saat tamu pulang. "Tamu datang dicek suhu, lalu pakai hand sanitizer, kemudian isi daftar hadir, lalu ketemu mempelai tapi tidak jabat tangan, kalau mau foto sebentar juga boleh."

Selanjutnya, jumlah tamu yang ada di area resepsi pernikahan juga dibatasi maksimal 30 orang dalam setiap sesi. Pihaknya juga membatasi waktu tamu berada di area, yakni maksimal 45 menit. Setelah itu, tamu dipersilakan mengambil bingkisan dan pulang melalui pintu keluar. "Satu sesinya maksimal 45 menit. MC sering mengumumkan bahwa area tidak boleh lebih dari 30 orang."

Pernikahan SlemanSeluruh tamu undangan yang hadir wajib diperiksa suhu tubuhnya menggunakan thermo gun, Minggu, 2 Agustus 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Alasan Memilih Organic Omah Bening

Selain teknis kunjungan para tamu undangan, pihaknya juga sengaja memilih lokasi resepsi di luar ruangan atau outdoor. Situasi dan kondisi di halaman Organic Rumah Bening yang kebetulan milik salah satu keluarganya, dinilai cocok dengan konsep yang akan diterapkan.

"Kita cari tempat yang terbuka juga. Jadi kebetulan Mbak Nur yang punya Omah Bening ini kan keluarga, akhirnya kami ngomonglah sama Mbak Nur," tuturnya.

Nur Eka, 42 tahun, pemilik Organic Omah Bening, membenarkan pernyataan Yoni. Kata Nur Eka, kedua mempelai dan keluarga besar sebenarnya sudah menyewa gedung untuk lokasi pernikahan. Tapi pandemi Covid-19 membuat acara batal dilaksanakan di gedung.

"Dia sudah sewa gedung, tapi karena kondisi pandemi seperti ini kan enggak memungkinkan, akhirnya bikin yang outdoor, gitu," kata Nur.

Dengan dilaksanakan outdoor, menurutnya penerapan protokol kesehatan akan menjadi lebih mudah, sebab menjaga jarak akan lebih memungkinkan, dan sirkulasi udara di luar ruangan juga lebih terbuka.

Nur Eka menuturkan resepsi pernikahan di Organic Rumah Bening baru pertama kali dilaksanakan. Pada hari-hari biasa, Organic Omah Bening digunakan sebagai tempat berkumpul anggota beberapa komunitas, termasuk komunitas yoga dan meditasi.

Pernikahan SlemanAcara pernikahan dengan konsep \'semi drivethru\' di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, untuk mencegah penyebaran Covid-19, Minggu pagi, 2 Agustus 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sebelum pandemi, ada beberapa kegiatan yang sering dilaksanakan di Organic Omah Bening, di antaranya pembuatan sabun organik, tempe organik, pengenalan pangan liar yang bisa jadi alternatif bahan pangan. Karena, kata Nur, selama ini banyak orang mengira makanan hanya sebatas nasi, sayur yang dijual di pasar, padahal banyak makanan lain.

"Pesertanya anggota komunitas dan siapa pun yang tertarik. Omah bening tujuan utamanya untuk bertumbuh bersama. Bening itu supaya bening hati, pikiran, yang jadi ikon sebetulnya yang ada di kandang sapi," kata Nur sambil menunjuk satu bangunan berbentuk kandang sapi.

Kandang sapi itu usianya sudah lebih dari satu abad. Dulunya kandang sapi itu milik seorang lurah. Nur Eka merupakan pemilik ketiga kandang sapi tersebut. "Kok pakai material kandang sapi? Karena di awal filosofinya bahwa kandang itu tempat untuk berkumpul kembali. Sapi itu simbol kemakmuran, menyusu gitu. Jadi di sini bisa menjadi tempat berkumpul untuk menyusu ilmu, ya ilmu apa pun."

Meski baru pertama kali digunakan sebagai lokasi resepsi pernikahan, Nur Eka mengaku akan membolehkan jika ada teman, keluarga, atau kerabat ingin menggelar acara serupa di lokasi ini. Tapi ada syarat yang harus dipenuhi bagi yang akan menggunakan Organic Omah Bening untuk acara semacam itu. Salah satunya adalah meminimalisir sampah plastik.

"Pada intinya boleh asal tetap menjaga kebersihan, khususnya penggunaan plastik sekali pakai. Karena di Omah Bening sendiri mengutamakan keselarasan dengan alam," ujar Nur.

Ia mencontohkan resepsi pernikahan yang digelar hari itu. Pihak keluarga menggunakan besek (kotak dari anyaman bambu) sebagai tempat makanan, dan paper bag atau kantong kertas, sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai untuk membawa pulang besek. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Tinggalkan Berita Covid, Nikmati Hidup Anda
Bagus Wasisto, istri dan enam anak terkena covid ketika berada di Madinah. Mereka sudah sehat, baik-baik saja hingga kini. Berikut kisah mereka.
Misteri Pemancar Tua di Jeneponto Sulawesi Selatan
Siapa sosok samar, berjalan bungkuk di antara kabut pekat di tengah dingin yang menggigit. Misteri pemancar tua di Jeneponto Sulawesi Selatan.
Peluh Keringat Buruh Gendong Usia Senja di Yogyakarta
Perempuan-perempuan berusia senja itu begitu perkasa, menjadi buruh gendong bahkan buruh panggul di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Ini kisah mereka.
0
Pernikahan di Tepi Sawah dengan Protokol New Normal
Dua mempelai itu menjalani prosesi pernikahan di tepi sawah di Sleman, Yogyakarta. Acara digelar dengan menerapkan protokol new normal.