Indonesia
Penyebab Jokowi Kalah Telak di Sumatera Barat
Dibanding Pilpres 2014, suara untuk Jokowi di Sumatera Barat semakin turun pada Pilpres 2019. Apa penyebabnya?
Calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Ma'ruf Amin berbincang usai pertemuan koalisi dengan pimpinan partai yang tergabung Koalisi Indonesia Kerja di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (18/4/2019). Pertemuan tersebut untuk memonitor sekaligus mengamankan proses rekapitulasi suara Pemilu 2019 oleh KPU. (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra)

Padang - Ketua Forum Komunikasi Relawan Pemenangan Jokowi (FKRPJ) Sumatera Barat Mayjen (purn) Hartind Astrin mengatakan, Jokowi kalah telak di Sumatera Barat karena orang Sumbar dekat dengan politik identitas yang lebih mengutamakan ketokohan dibandingkan prestasi.

"Kita telah melaporkan ini ke pusat dan seluruh kerja keras relawan di lapangan disyukuri karena telah berbuat yang terbaik," ujar Hartind Astrin saat Syukuran Relawan Jokowi-Amin di Padang, Kamis malam 25 April 2019.

Perolehan suara Jokowi-Ma'ruf dalam Pilpres 2019 lebih rendah dibanding capaian suara Jokowi-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014.

Dari hitungan cepat suara kita di Sumbar saat ini hanya 16 persen dan paling tinggi itu 17 persen, hal itu tentu membuat kita kaget.

Hartrind mengatakan penurunan tersebut disebabkan beberapa hal, di antaranya karena faktor Jusuf Kalla sebagai pasangan Jokowi di Pemilu 2014.

Dulu Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla yang memiliki istri orang Minang dan mampu mendapatkan 23 persen suara dalam pemilu 2014.

"Ada kedekatan emosional karena Jusuf Kalla memiliki istri orang Sumbar sehingga mampu mencapai 23 persen suara dan saat ini Jokowi berpasangan dengan Ma’ruf Amin sehingga capaian suara turun," ujar Hartrind.

"Dari hitungan cepat suara kita di Sumbar saat ini hanya 16 persen dan paling tinggi itu 17 persen, hal itu tentu membuat kita kaget," lanjutnya.

Walaupun demikian, Hartrind mengatakan bersyukur dengan capaian suara pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin di provinsi ini.

Dalam kegiatan syukuran Hartrind mengatakan pihaknya berharap proses demokrasi berjalan dengan baik dan lancar hingga pengumuman pemenang pemilu hingga pelantikan presiden dan wakil presiden nantinya.

Ia menyatakan bersyukur atas hasil hitung cepat sementara berdasarkan lembaga survei nasional.

"Kami berharap semua berjalan lancar dan siapa pun yang kalah hendaknya dapat menerima dan bersikap negarawan. Jangan ada praktik turun ke jalan atau mengganggu kamtibmas serta stabilitas nasional jika KPU telah mengumumkan pemenang pemilu," ujar Hartrind.

Pemilihan presiden, data Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga Kamis 25 April 2019 pukul 15.30 WIB berdasarkan hitungan suara masuk dari 276.249 TPS atau 33,96 % dari keseluruhan 813.350 TPS. 

Real count KPU menunjukkan kemenangan Jokowi-Ma'ruf 56,09 % (29.123.044 suara). Sedangkan Prabowo-Sandiaga 43,91 % (22.795.516 suara). 

Pendapat Pengamat

Sementara itu, pengamat politik Universitas Andalas (Unand) Padang Edi Indrizal berpendapat, melihat hasil penghitungan suara sementara pelaksanaan Pemilu serentak 2019 merugikan partai koalisi pendukung capres-cawapres Jokowi-Maruf Amin di Sumatera Barat.

"Konsekuensi pelaksanaan pemilu legislatif serentak dengan pemilu presiden membuat partai koalisi pendukung Jokowi terkena dampak yaitu kehilangan suara di Sumbar karena daerah ini basis pendukung Prabowo," kata Edi Indrizal.

Ia menyampaikan salah satu partai yang paling dirugikan adalah Golkar yang sebelumnya merupakan pemenang Pemilu 2014 di Sumbar, namun kini harus merelakan dominasi tersebut kepada Gerindra.

"Tidak hanya untuk caleg DPR RI, dan provinsi, hingga tingkat kabupaten dan kota Golkar merasakan dampaknya," ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, kalau caleg yang diusung bukan tokoh yang populer di masyarakat.

Selain Golkar, yang juga terdampak pada pemilu kali adalah PDI P walaupun sebelumnya juga sulit mendapatkan suara di Sumbar. Kalau sebelumnya PDI P bisa mengantarkan dua wakil ke DPR RI dari Sumbar, tahun ini di daerah pemilihan Sumbar II diperkirakan partai berlambang banteng tersebut kehilangan kursi.

Sebaliknya ia melihat Partai Gerindra mendapatkan berkah pada pemilu legislatif kali ini karena memperoleh limpahan suara berkat efek ekor jas. 

"Yang paling diuntungkan di Sumbar adalah Partai Gerindra dan PKS," katanya.

Ia menilai selain efek ekor jas, salah satu penentu perolehan suara partai pada Pemilu 2019 adalah bagaimana mengusung caleg yang mempunyai tingkat keterpilihan tinggi di masyarakat.

Edi memberi contoh di daerah pemilihan Sumatera Barat II salah satu caleg untuk DPR RI yang mempunyai basis massa kuat adalah Mulyadi dari Demokrat.

Kendati perolehan suara Demokrat turun secara nasional, namun karena calegnya kuat tetap bisa meraup dan mempertahankan suara, ujarnya.

Ia menyimpulkan perolehan suara partai politik pada Pemilu 2019 paralel dengan perolehan suara calon presiden yang diusung. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Minta Maaf, Ormas Datangi Asrama Mahasiswa Papua
Ormas di Surabaya meminta maaf kepada mahasiswa dan masyarakat Papua atas insiden penyerbuan yang terjadi pada Jumat, 16 Agustus 2019.