UNTUK INDONESIA
Penyandang Disabilitas Tetap Bisa Berpenghasilan
SLBN 1 Kulon Progo menjadi penerima manfaat SWP. Program ini menjadikan penyandang disabilitas tetap bisa mandiri dan berpenghasilan.
Kepala BBRSPDI Kartini Temanggung Murhardjani saat meluncurkan SWP "Kulon Progo Bangkit" di SLBN 1 Kulon Progo, Senin, 11 November 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Kulon Progo - Alumni Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Kulon Progo menjadi penerima manfaat Sheltered Workshop Peduli (SWP) "Kulon Progo Bangkit". Program ini merupakan kerja sama Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kulon Progo dengan Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BBRSPDI) Kartini Temanggung, Jawa Tengah.

Kepala BBRSPDI Murhardjani menyatakan SWP merupakan upaya memberikan kesempatan kerja dan perlindungan bagi penyandang disabilitas intelektual. Kegiatan SWP meliputi bimbingan, keaktifan sosial, dan keterampilan untuk usaha ekonomi produktif.

"Penerima manfaat program ini merupakan alumni SLBN 1 Kulon Progo," kata Murhardjani di sela peluncuran SWP "Kulo Progo Bangkit" di SLBN 1 Kulon Progo, Senin, 11 November 2019.

Kegiatan SWP di SLBN 1 Kulon Progo yang berada di Kecamatan Panjatan ini diikuti oleh 21 penyandang disabilitas intelektual, serta lima kader untuk mendampingi para penerima manfaat.

Dia menambahkan, SWP merupakan jalur alternatif pemberian kesempatan kerja yang paling sesuai untuk penyandang disabilitas intelektual. "Mereka masih bisa tetap berada di tengah-tengah keluarga tanpa menjadi beban karena sudah mampu berpenghasilan," ungkapnya.

Murhardjani berharap keberadaan SWP ini dapat didukung oleh organisasi perangkat dinas terkait maupun sektor swasta sehingga semakin berkembang dan berkelanjutan. Program ini sudah mendapatkan apresiasi dari Kementerian Pendayagunaan dan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) berupa Top 40 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2018.

Menurut dia selain di Kabupaten Kulon Progo, program ini juga dilaksanakan di sembilan lokasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 2019. "BBRSPDI pada tahun 2019 ini sebelumnya telah meluncurkan sheltered workshop di kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah," ujarnya.

SWP nantinya bisa direplikasi oleh SLB lain sehingga dampak positifnya lebih luas.

Staf ahli Bupati Kulon Progo Bidang Pembangunan Kemasyarakatan dan Sumber Daya Masyarakat (PKSDM) Bambang Sutrisno mengatakan program ini bisa menjadi jembatan bagi lulusan SLB untuk berkiprah di masyarakat dan dunia bisnis. Harapannya taraf hidup mereka dapat meningkat dan sejahtera serta tidak bergantung kepada orang lain.

Dia mengapresiasi kerja sama ini dan berharap berjalan baik. "Program ini sangat bagus. SWP nantinya bisa direplikasi oleh SLB lain sehingga dampak positifnya lebih luas," kata Bambang.

Menurut dia pemerintah daerah dan jajarannya sudah sepakat dan berkomitmen mendukung produk karya disabilitas dari proses produksi hingga pemasaran. Dia akan menyampaikan kepada bupati untuk membuat surat edaran agar tiap Organisasi Pemerintahan Daerah (OPD) membeli dan memakai batik ciprat geblek renteng. "Itu produk sheltered workshop ini," kata dia. []

Baca Juga:

Berita terkait
Penderita Stunting di Kulon Progon Cukup Tinggi
Angka stunting di Kabupaten Kulon Progo cukup tinggi, yakni 14,31 persen. Ini penyebabnya
Kulon Progo Tertinggi Gangguan Jiwa di Yogyakarta
Kulon Progo peringkat pertama dalam kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sedangkan DIY provinsi tertinggi kedua di Indonesia.
Stasiun Tugu Yogyakarta Ramah Disabilitas
Stasiun Tugu Yogyakarta kini disediakan kursi roda, guiding block, toilet khusus dan lainnya bagi penyandang disabilitas.
0
Rahasia Tara Basro Cantik Natural Tanpa Makeup
Aktris Tara Basro yang heboh di perbincangkan karena unggahan fotonya tanpa mengenakan busana di media sosial, punya rahasia cantik tanpa makeup.