Jakarta - Sedikitnya 52 dari 60 warga Ponorogo yang memilih mengungsi ke Malang karena takut kiamat kini memberanikan diri kembali menginjak kampung halamannya, demi menyalurkan hak suara mereka pada Pemilu 2019.

Diketahui, kumpulan puluhan warga ini merupakan jemaah Thoriqoh Akhmaliyah As-Sholihiyah yang didorong, sekaligus difasilitasi kepulangannya oleh pemkab setempat, untuk mengikuti proses elektorat pada 17 April mendatang di Provinsi Jawa Timur.

Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Sumani menerangkan, pihaknya turut mengantar sekitar 40 warga ke Ponorogo, setelah mengantongi izin dari pengurus pondok. Sementara 12 lainnya memilih pulang menggunakan kendaraan pribadi.

Lebih lanjut kata dia, setelah merampungkan agenda nyoblos, maka puluhan warga ini diagendakan akan kembali lagi ke ponpes di Malang. Terkecuali pelajar, karena harus mengikuti ujian terlebih dahulu di Ponorogo.

"Yang dibawa rombongan Pemkab Ponorogo hanya 40 warga. Sementara pengendara mobil pribadi 12 warga. Yang cuma nyoblos ya langsung balik (Malang). Setelah pengajiannya selesai mereka memang mau kembali ke Ponorogo lagi," jelas Sumani.

"Ada 10 pelajar ya, 4 di antaranya mau ikut ujian. Kan tidak bisa ujian di Malang. Usai mengikuti ujian terserah pihak keluarga mau kembali (Ponorogo) atau tidak," sambungnya.

Sementara itu, Ahmad Jamroji, warga pengungsi, menegaskan bahwasannya setelah mengikuti Pemilu ia akan kembali ke Malang. Sebab, pengajian selama 3 bulan urung rampung. Diagendakan, mereka akan kembali ke kampung halaman saat memasuki bulan Ramadan.

Jamroji mengaku harus melakukan pencoblosan di Ponorogo sebab ia tidak mengantongi surat pengantar dari desanya untuk bisa mencoblos di Malang.

"Niatnya mau pulang ya nyoblos, nanti setelah nyoblos ya balik lagi ke sana (Malang). Ya akhirnya ke Ponorogo demi menggunakan hak pilih. Setelah 3 bulan ngaji ya balik lagi ke sini (Ponorogo)," tutup Jamroji.

Baca juga: