Tagar News – Kevin Wibisana dan Husni Mubarrak A Latief sama-sama tahu rasanya berpuasa di tengah cuaca ekstrem Afrika. 

Kevin Wibisana seorang pekerja di sebuah perusahaan konstruksi milik pemerintah, dan Husni Mubarrak A Latief Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar Raniry Banda Aceh.

Pada Juwita Trisna Rahayu dari Antara, Kevin menceritakan pengalaman puasa di Aljazair, dan Husni dengan pengalaman puasa di Mesir dan Sudan. 

Saat Kerja di Lapangan

Kevin Wibisana beberapa bulan sebelum Ramadan, pihak perusahaan mengirimnya ke Aljazair.

Ia mengatakan baru kali ini berpuasa di sebuah negara di Benua Afrika. Negara dengan wilayah diliputi gurun dengan cuaca ekstrem serta durasi puasa lebih lama dari Indonesia.

"Cukup berat puasa dari pukul 03.50 sampai berbuka pukul 19.55. Suhunya juga cukup ekstrem, kalau lagi panas bisa mencapai 40 derajat," katanya.

Kevin tinggal Kota Ain Defla, Provinsi Ain Defla, sementara tempat kerjanya di Kota Khemis Milliana. Ia tidak selalu bekerja dalam kantor dengan pendingin ruangan.

"Jam kerja saya dari pukul 08.00 sampai pukul 19.00. Yang berat sekali saat saya kerja di lapangan, apalagi saat suhunya sedang panas" ujar Kevin.

Setelah berbuka pada pukul 20.00, langsung disambung ibadah Salat Tarawih pukul 21.30 hingga 23.00.

Kevin menceritakan menu buka puasa di Aljazair umumnya tidak banyak perbedaan, yaitu kurma dan manisan. Nyaris semua restoran serentak menjual makanan manis, seperti kue tart dan manis-manisan khas lokal.

"Restoran pizza atau shwarma di sini ketika bulan Ramadan, tidak menjual pizza atau shwarma, tetapi hanya menjual manisan," katanya.

Layaknya di Indonesia, kata Kevin, jelang buka puasa biasanya banyak orang membagikan takjil di jalan-jalan dan di masjid.

Ia juga bercerita, banyak pemilik restoran berbondong-bondong membagikan takjil di bulan berkah ini.

"Saya pernah beberapa kali diberi roti dan kue tart secara gratis untuk berbuka puasa," kata Kevin.

Untuk menu sahur, kata Kevin, umumnya adalah roti atau couscous yang sekilas mirip nasi, butiran kecil berasal dari gandum mentah yang dipecah dengan bentuk akhir menyerupai semolina, yaitu zat tepung dan biji gandum.

Couscous biasanya dihidangkan dengan olahan daging atau menjadi nasi kebuli.

"Saya kangen jajanan takjil di Indonesia, lebih beragam makanan untuk berbuka," katanya.

Selebihnya ia mengaku bersyukur bisa menjalankan puasa di negara mana pun berada.

Gelar Tikar di Halaman Rumah

Husni Mubarrak A Latief menempuh pendidikan S1 di Fakultas Syariah Al Azhar Kairo, Mesir, kemudian melanjutkan S2 dan S3 Studi Perbandingan Mazab atau Fiqih Muqaran di Omdurman Islamic University, Sudan.

"Perbedaan terbesar adalah faktor cuaca. Saya menjalani puasa di Mesir ketika musim dingin, harinya lebih singkat. Sedangkan ketika di Sudan sedang musim panas dengan hari lebih panjang," katanya.

Husni tidak mengeluh dengan apa yang ia alami itu. Ia justru bisa melihat sisi baiknya, seperti ia bisa merasakan suasana relijius yang hidup selama Ramadan, baik di Mesir maupun di Sudan.

Ia melihat orang-orang membaca Alquran di sudut-sudut kota dan di dalam bus.

Pemandangan itu, kata Husni, membuat makna Ramadan meresap ke sanubarinya.

Ia mengaku sangat jarang melihat restoran buka pagi hari di bulan Ramadan. Umumnya restoran buka selepas zuhur, dan sore orang-orang membagikan takjil gratis di jalanan. 

Di Mesir dan Sudan, kata Husni, momen buka puasa umumnya sangat ditunggu-tunggu karena biasanya melimpah tawaran buka puasa gratis. 

"Di Mesir namanya Maidatur Rahman, jamuan Tuhan. Kalau di Sudan, orang-orang suka mengajak buka bersama meskipun tidak kenal. Mereka menggelar tikar di halaman rumahnya, menyediakan makanan, pokoknya suasananya sangat terasa," kenangnya.

Waktu puasa di Sudan, Husni ingat hilwumur, minuman penyegar campur rasa manis pahit.

Sedang di Mesir ia sangat terkesan dengan vinus, yaitu lampu kelap-kelip dipasang sepanjang malam selama bulan suci Ramadan.

"Untuk menghidupkan suasana Ramadan, banyak vinus dipasang di rumah, pasar, dan toko," katanya. (af)