Pemerintah Bayangan Myanmar Pamerkan Pasukan dan Senjata

Pemerintah bawah tanah atau pemerintah bayangan yang dibentuk oleh penentang junta militer Myanmar mengatakan gelombang rekrutan pertama
Perekrutan anggota angkatan bersenjata yang dibentuk oleh pengunjuk rasa di kamp pelatihan di daerah yang dikuasai oleh kelompok etnis bersenjata di Negara Bagian Karen, Myanmar, 9 April 2021 (Foto: voaindonesia - via Reuters)

Jakarta – Pemerintah bawah tanah atau pemerintah bayangan yang dibentuk oleh penentang junta militer Myanmar mengatakan gelombang rekrutan pertama telah menyelesaikan pelatihan untuk pasukan pertahanan baru. Mereka merilis video yang sedang melakukan berparade berseragam.

Pemerintah Persatuan Nasional telah mengumumkan akan membentuk Angkatan Pertahanan Rakyat untuk menantang tentara, yang merebut kekuasaan pada 1 Februari 2021, menggulingkan pemimpin de facto terpilih, Aung San Suu Kyi, dan menjerumuskan Myanmar ke dalam kekacauan.

Video upacara kelulusan dirilis pada hari Jumat, 28 Mei 2021, atas nama Yee Mon, menteri pertahanan pemerintah bayangan.

antikudetaPengunjuk rasa antikudeta unjuk rasa dengan membawa gambar pemimpin Myanmar yang digulingkan Aung San Suu Kyi, melewati pasar Kotapraja Kamayut Yangon, Myanmar, 8 April 2021 (Foto: voaindonesia.com/AP)

"Militer ini dibentuk oleh pemerintah sipil resmi," kata seorang perwira tak dikenal pada upacara tersebut. "Pasukan Pertahanan Rakyat harus sejalan dengan rakyat dan melindungi rakyat. Kami akan berjuang untuk memenangkan pertempuran ini."

Seorang juru bicara junta tidak menjawab panggilan untuk diminta komentarnya tentang Pasukan Pertahanan Rakyat.

Otoritas militer mengatakan Pemerintah Persatuan Nasional adalah pengkhianat. Baik Pemerintah Persatuan Nasional maupun Angkatan Pertahanan Rakyat telah ditetapkan sebagai kelompok teroris.

Video tersebut menunjukkan sekitar 100 pejuang berbaris di lapangan parade berlumpur di hutan. Mereka berbaris dengan seragam kamuflase baru di belakang bendera kekuatan baru, merah dengan bintang putih. Mereka tidak ditampilkan membawa senjata.

Protes anti-militer terjadi setiap hari di banyak bagian negara, pemogokan oleh penentang junta telah melumpuhkan bisnis dan pertempuran telah berkobar dengan kelompok-kelompok etnis bersenjata yang menentang junta dan milisi baru yang dibentuk untuk menentangnya.

gerilyawan karen bakar pos militer myanmarPasukan etnis minoritas Karen bakar sebuah bangunan di dalam pos militer Myanmar dekat perbatasan dengan Thailand, terlihat dari sisi Thailand di Thanlwin, juga dikenal sebagai Salween, tepi sungai di Provinsi Mae Hong Son (Foto: voaindonesia.com/Reuters)

Dua bom rakitan meledak di kota utama Yangon pada hari Sabtu, 29 Mei 2021. Pemboman tersebut tampaknya menargetkan sebuah pos polisi dan sebuah truk tentara, kata layanan berita Mizzima. Dikatakan satu orang yang berbicara dengan tentara telah terluka dalam insiden kedua.

Pasukan junta telah menewaskan lebih dari 800 orang sejak kudeta, menurut angka yang dikutip oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lebih dari 4.000 orang telah ditahan.

Pemimpin Junta, Min Aung Hlaing, mengatakan korban tewas sipil mendekati 300 dan mengatakan sekitar 50 anggota polisi telah tewas. Dia tidak memberikan angka korban untuk tentara. Kelompok-kelompok yang memerangi angkatan bersenjata mengatakan mereka telah menimbulkan banyak korban (ah)/Reuters/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Sejak Kudeta Jutaan Warga Myanmar Hidup dalam Kesusahan
Sejak militer Myanmar melakukan kudeta militer pada 1 Februari 2021 lalu, banyak warga kehilangan mata pencarian
Sejak Kudeta Lebih dari 800 Tewas oleh Pasukan Junta Myanmar
Kelompok aktivis Myanmar katakan lebih dari 800 orang telah dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar sejak gelombang protes meletus
Pemilu Myanmar Tahun 2020 Cerminkan Keinginan Rakyat
Pemilu Myanmar tahun 2020 cerminkan keinginan rakyat, dan militer tidak dapat dibenarkan gunakan alasan cacat pemilu untuk merebut kekuasaan
0
Biden Ingatkan Rakyat Amerika Terkait Pengorbanan Tentara
Presiden Biden beri penghormatan kepada korban perang AS dengan mengingat pengorbanan mereka untuk kebebasan Amerika