Pembelajaran Jarak Jauh Masih Terkendala Fasilitas Belajar

Selain itu, terdapat perbedaan signifikan yang dialami guru antara Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Ilustrasi - (Foto: Tagar/Haodoc)

Jakarta - Guru SMAN 1 Sumbang Jawa Barat, Marni Hartati, mengatakan selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), para di-supply dengan materi-materi yang dimuat dalam classroom, teks yang bervariasi, infografis, penjelasan melalui video, maupun games untuk memberikan kebebasan siswa eksplor pengetahuan lebih.

Namun, dalam proses PJJ pada kenyataannya tetap mengalami beberapa kendala seperti jaringan yang terkadang tidak bisa ditebak maupun fasilitas seperti laptop atau HP yang tidak semua anak dapat memiliki.

“Mungkin karena letak lokasi kami yang bisa dibilang tidak terlalu kota dan tidak terlalu pedalaman ya, berada di antara gunung dan laut, kemudian dari sisi background orang tua secara sosio ekonomi sangat heterogen sekali. Kendala jaringan, gak punya laptop atau HP, dan kalaupun ada harus berbagi waktu bergantian dengan adik dan orangtuanya,” ujar Marni kepada Tagar, Kamis, 29 Juli 2021.

Marni menjelaskan, bahwa ada rasa kesulitan dalam penyesuaian kecepatan belajar antar anak semenjak diadakannya program zonasi sekolah.

“Sekarang input kami terasa berat karena dibandingkan yang dulu berdasarkan hasil seleksi, itu rata-rata hampir semua anak kemampuan berpikir dan otaknya sudah bisa kita ngikutin. Tapi, begitu adanya program zonasi sekolah ini, inputnya itu dari A-Z. Guru-guru perlu menyeimbangkan kecepatan belajar siswa kami yang ada di kelas. Ada yang cepat nangkap, ada yang tidakkan,” ujar Marni.

Selain itu, terdapat perbedaan signifikan yang dialami guru antara Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

“Perbedaan signifikannya yaitu ya perubahan polanya terbalik, kan PJJ sekarang kebanyakan guru itukan hanya memberikan tugas, terus menagih tugas. Terkait mengerti atau tidaknya materi tersebut diserahkan malah kepada orangtuanya. Sementara dulu kan, orang tua yang menagih ke sekolah. Anak saya gimana Bapak Ibu, mampu gak anak saya mengikuti materi yang ada? ini sih,” ujarnya.


Kendala jaringan, gak punya laptop atau HP, dan kalaupun ada harus berbagi waktu bergantian dengan adik dan orangtuanya.


Walau demikian, kata Marni, untuk mendukung keberhasilan PJJ selama pandemi Covid-19, kesadaran guru untuk dapat keluar dari zona nyamannya untuk mau tau dan belajar aktif mengajar dalam menggunakan teknologi sangat dibutuhkan.

“Kerjasama yang baik antara pimpinan sekolah, guru, orangtua dan siswa. Pimpinan sekolah memberikan pengajaran, selalu mengevaluasi, mempersiapkan plan-plan, fasilitas bimbingan untuk tenaga pengajar mau belajar menggunakan dan aktif dalam mengajar dengan teknologi seperti zoom, gmeet, classroom, penggunaan e-book, video yang menuntun semangat belajar siswanya,” tutup Marni. []


Baca Juga: Siswa Lebih Terampil Kuasai Teknologi, Literasi Meningkat


(Christina Butarbutar)

Berita terkait
Belajar Daring Belum Ideal Tingkatkan Kecakapan Literasi
Dengan sistem daring, para siswa wajib membutuhkan media pembelajaran seperti handphone, laptop, atau komputer.
RI Dorong Kecakapan Literasi Digital di Masa Pandemi
Kecakapan literasi digital menjadi perhatian serius pemerintah meningkatkan literasi di masa pandemi Covid-19.
Keluarga Berperan Besar Dalam Tingkatkan Literasi Siswa
Di masa pandemi Covid-19, orang tua bertindak sebagai advokat untuk kepentingan anak, juga memberikan masukan kepada guru.
0
Pembelajaran Jarak Jauh Masih Terkendala Fasilitas Belajar
Selain itu, terdapat perbedaan signifikan yang dialami guru antara Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).