UNTUK INDONESIA
Pekan Pencerahan Resistensi Antibiotik November 2019
Penggunaan antibiotik yang tidak realistis meningkatkan resistensi terhadap antibiotik, WHO menyelenggarakan pekan pencerahan antibiotik
Ilustrasi resistensi obat antibiotik (Foto: WHO)

Jakarta - “Maaf, ya, Pak, saya tidak bisa kasi antibiotik.” Inilah yang dikatakan seorang dokter di sebuah klinik di bilangan Pisangan Timur, Jakarta Timur. Dokter ini memilih memberikan obat lain yang bukan antibiotik untuk keluhan flu. Langkah yang tepat mengingat saat ini pemakaian antibiotik yang tidak rasional meningkatkan resistenti antibiotik yang mengakibatkan kematian.

Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) setiap tahun menyelenggarakan Pekan Pencerahan Antibiotik pada tanggal 18-24 November 2019. Kegiatan ini sebagai bagian dari kegiatan menyerukan kampanye global khusus untuk meningkatkan kesadaran publik dan pemahaman tentang resistensi antibiotik.

Pencerahan juga ditujukan tentang bagaimana antibiotik itu harus digunakan. Juga perlu diperhatikan peningkatan risiko resistensi antibiotik. WHO menilai saat ini kesadaran global terkait dengan antibiotik masih rendah.

Infeksi dan Antibiotik

Antibiotik adalah obat yang penting dan kuat. Tapi, perlu diingat antibiotik hanya boleh diminum jika diresepkan oleh dokter. Anda harus mengikuti dosis dan instruksi yang diberikan oleh dokter. Sering terjadi obat tidak lagi diminum karena merasa sudah sembuh, sehingga dosis yang diberikan doker belum dihabiskan.

Bakteri sendiri adalah sebagai bagian normal dari kehidupan sehari-hari yang ada di udara dan air, di kulit kita dan di dalam tubuh kita infeksi bisa terjadi. Infeksi sendiri ada dua jenis yaitu infeksi virus dan infeksi bakteri.

Saat ini dunia menghadapi resistensi antibiotik yang jadi penyebab kematian di seluruh dunia. Diperkirakan 700.000 kematian setiap tahun akibat resitensi antibiotik. WHO mengisyaratkan jika tidak ada upaya mengatasi resistensi antibiotik pada tahun 2050 diperkirakan terjadi 1 juta kematian secara global.

Pemakaian antibiotik yang tidak tepat akan membuat bakteri beradaptasi dengan obat-obatan sehingga sulit dimatikan di dalam tubuh. Inilah yang disebut resistensi antibiotik.

Apa yang bisa kita lakukan untuk memperlambat penyebaran resistensi antibiotik?

Paling tidak ada lima cara yang bisa mengurangi pemakaian obat antibiotik yaitu vaksinasi, seks aman, kebersihan makanan, mencuci tangan, dan air bersih,

Vaksinasi

Imunisasi rutin adalah dasar untuk sistem kesehatan yang kuat dan tangguh serta cakupan kesehatan universal.

Vaksin melindungi terhadap lebih dari 25 penyakit yang melemahkan, termasuk campak, tetanus, meningitis, dan tipus, dan setiap penyakit yang dicegah dengan vaksinasi adalah obat antimikroba yang dihindari.

Seks Aman

Lebih dari 1 juta infeksi menular seksual (IMS) terjadi setiap hari di seluruh dunia. IMS yaitu penyakit menular seksual yang ditularkan melalui hubungan seksual tanpa memakai kondom di dalam atau di luar nikah, seperti kencing nanah (GO), raja singa (sifilis), klamidia, virus hepatitis B, virus kanker serviks, dll.

Ketika digunakan dengan benar dan konsisten, kondom menawarkan salah satu metode perlindungan paling efektif terhadap IMS, termasuk HIV dan gonore, yang keduanya menunjukkan tingkat resistensi yang mengkhawatirkan terhadap pengobatan secara global.

Kebersihan makanan

Makanan dapat terkontaminasi di titik mana pun selama penyembelihan atau panen, pemrosesan, penyimpanan, distribusi, transportasi, dan persiapan.

Higiene makanan yang tidak memadai dapat menyebabkan penyakit yang berpotensi fatal akibat makanan dan kematian. Pendidikan yang lebih baik dalam penanganan makanan yang aman adalah langkah utama dalam mencegah penyakit-penyakit ini serta menahan penyebaran resistensi antimikroba.

Mencuci tangan

Infeksi, pencegahan dan kontrol (IPC) yang efektif, termasuk kebersihan tangan, adalah landasan perawatan kesehatan berkualitas tinggi dan salah satu cara paling efektif untuk mengurangi penyebaran organisme yang resisten antibiotik.

Ini khususnya benar dalam pengaturan layanan kesehatan, di mana pasien yang rentan dan sakit lebih rentan terhadap pengembangan infeksi yang resistan terhadap obat. Setiap infeksi yang dicegah melalui cuci tangan adalah obat yang dihindari dan ancaman resistensi berkurang

Air Bersih/Sanitasi

Sanitasi adalah komponen dasar dari perawatan kesehatan yang baik. Meskipun demikian, tingkat sanitasi global tidak konsisten. Sanitasi yang buruk terkait dengan penularan penyakit seperti kolera, diare, disentri dan hepatitis A dan membahayakan keselamatan pasien secara keseluruhan. Ini juga dapat memperburuk penyebaran infeksi yang resisten terhadap antimikroba

Kekurangan air bersih lebih lanjut mengganggu tingkat sanitasi. Buang air besar secara terbuka, pembuangan air limbah yang tidak diolah, dan kebocoran dari sistem sanitasi di tempat di fasilitas layanan kesehatan semua dapat mengarah pada pelepasan antibiotik, patogen yang resisten dan gen resistensi ke dalam reservoir lingkungan, sehingga meningkatkan tingkat resistensi antimikroba.

Residu dari pembuatan antimikroba juga harus ditangani dengan hati-hati untuk mengurangi risiko pencemaran lingkungan dan melepaskan tingkat antimikroba yang berbahaya ke dalam ekosistem.

Penyalahgunaan dan penggunaan antimikroba yang berlebihan pada manusia dan hewan, seringkali tanpa pengawasan profesional, mempercepat proses resistenti.

Penyalahgunaan termasuk orang yang menggunakan antibiotik untuk infeksi virus seperti pilek dan flu dan hewan sehat diberi antimikroba untuk meningkatkan pertumbuhan atau untuk mencegah penyakit (Bahan dari: WHO dan sumber-sumber lain).

Berita terkait
Antibiotik Tak Bisa Dikonsumsi Sembarangan
Tidak semua penyakit harus diobati dengan antibiotik, karena jika digunakan secara sembarangan akan menimbulkan masalah baru
WHO: Hentikan Penggunaan Antibiotik Pada Hewan Sehat
WHO pada Selasa mendesak peternak menghentikan penggunaan antibiotik untuk mendorong pertumbuhan dan mencegah penyakit pada hewan sehat.
Sidak Toko Obat, Wali Kota Tegal Dapati Obat Ilegal
Sejumlah toko obat di Tegal, Jawa Tengah kedapatan Wali Kota Dedy Yon Supriyono menjual obat tidak punya izin edar dari BPOM.
0
Total 346 Kasus Virus Corona di Korea Selatan
Dengan demikian seluruh kasus virus corona di Korea Selatan menjadi total 346 kasus di seluruh Negeri Gingseng tersebut.