Nyali Berbalut Asa Pemanjat Pohon Kelapa di Cilacap

Seorang pemetik kelapa di Cilacap, Jawa Tengah, Sudarno mengisahkan pengalaman memanjat pohon setinggi puluhan meter. Ada asa dan nyali di sana.
Sudarno, 45 tahun, seorang pemetik kelapa di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sedang memanjat pohon kelapa, Selasa, 24 November 2020. (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

Cilacap – Sebilah golok menemani langkah kaki Sudarno siang itu, Selasa, 24 November 2020. Topi lusuhnya dengan warna yang sudah memudar bertengger di kepala, menjadi peneduh dari terik matahari yang bersinar. Celana pendek selutut berwarna biru serasi dengan topi yang dikenakannya.

Langkah pria berusia 45 tahun itu terhenti di bawah sebatang pohon kelapa yang menjulang tinggi. Sesekali dia menengadah untuk memperhatikan buah di antara pangkal pelepah, kemudian dengan sigap dia mulai memanjat pohon setinggi kurang lebih 20 meter tersebut.

Otot-otot pada lengannya yang berkulit gelap terlihat jelas saat dia memeluk batang pohon kelapa. Sementara telapak kaki kanan dan kirinya menjepit batang pohon kelapa dari dua sisi, untuk menjadi tumpuan saat dia memanjat, sekaligus penahan agar tubuhnya tidak jatuh.

Semakin tinggi dia memanjat, tubuhnya tampak semakin kecil mendatangi lambaian daun-daun kelapa yang tertiup angin. Ada aroma nyali yang diselimuti harapan dalam setiap jengkal batang yang dipanjatnya.

Panjat 30 Pohon Sehari

Warga Desa Tegalsari, Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap ini sudah 25 tahun menjadi pemanjat pohon kelapa, tepatnya sejak tahun 1995 atau setelah menikah dengan Saringah, perempuan yang saat ini menjadi istrinya.

Cerita Pemetik Kelapa (2)Sudarno, 45 tahun, saat hampir mencapai pucuk pohon kelapa yang dipanjatnya, Selasa, 24 November 2020. (Foto: Tagar/Mia Setya NIngsih)

Hari itu Saringah menemani suaminya memetik kelapa. Sambil menunggu sang suami selesai bekerja, Saringah menceritakan suka duka mereka dalam memetik kelapa. Dalam sehari Sudarno bisa memanjat 25 sampai 30 puluhan pohon.

Kadangan kalo metik di tempat orang kaya yang tanahnya luas bisa sampai 50 pohon.

Menjadi istri seorang pemetik kelapa, tentu membuat hati Saringah selalu diliputi kekhawatiran. Saat suami bekerja tak jarang dia mengkhawatirkan terjadi hal buruk pada suaminya di sana.

“Biasanya jam 12 pulang, kalo jam segitu belum pulang ya melang–melang (khawatir), mbok (jika) ada apa –apa,” ucap Sari dengan mata berkaca–kaca.

Terlebih Sudarno tidak pernah membawa ponsel saat pergi memetik kelapa. Lokasi pemetikan juga tak jarang berada di dalam kawasan hutan yang jauh dari rumah.

“Apalagi metik kaya gitu kan di karangan (hutan-hutan) yang gak mesti dekat dengan rumah orang. Pegaweane penekan ya wedilah (pekerjaannya memanjat pohon, ya takutlah),” ujar Sari.

Sari mengaku memiliki keinginan untuk membuka usaha lain demi menambah penghasilan. Terlebih saat bisnis kelapa sedang sunyi atau usia kelapa belum layak petik.

Dia juga berharap agar Darno bisa selalu sehat. “Diparingi waras selamet (sehat), bisa nyukupi keluarga kabeh. Bisa nyukupi anak, nyukupi bojo,” ujarnya. 

Cerita Pemetik Kelapa (3)Sudarno, 45 tahun, pemetik kelapa di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sedang mengupas sabut kelapa dan memisahkannya dari tempurung, Selasa, 24 November 2020. (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

Dia mengaku bangga dan bersyukur memiliki suami yang bertanggung jawab pada keluarga. Menurutnya apapun yang dimiliki, jika disyukuri pasti akan bahagia dan damai.

Setelah memetik beberapa butir kelapa, Darno turun dan berbagi pengalaman melalui ceritanya. Menurutnya, pohon–pohon kelapa yang dipanjat dan dipetik buahnya itu bukan miliknya, melainkan milik orang lain yang kelapanya telah dibeli oleh Darno. Kelapa-kelapa itu nantinya dijualnya kembali pada pengepul dengan harga yang lebih tinggi.

Dalam mencari buah kelapa ia bisa menempuh jarak puluhan kilometer. Hal itu ia lakukan untuk mencari pemilik pohon kelapa yang bersedia menjual kelapanya pada Sudarno. Bahkan dulu dia bisa bersepeda sangat jauh untuk mencari pemilik pohon kelapa yang mau menjual kelapanya. Beruntung, saat ini dia sudah memiliki sepeda motor untuk menempuh jarak yang jauh.

Harga jual buah kelapa bervariasi, tergantung dari musim dan banyaknya permintaan. Di saat tertentu harga jual kelapa bisa mencapai lima ribu rupiah per butir. Namun Sudarno tidak mengambil untung yang terlalu besar. Jika per butirnya ia beli dari pemilik pohon seharga dua ribu rupiah, maka ia akan menjual ke pengepul dengan harga dua ribu lima ratus rupiah.

Harga jual sebutir kelapa tidak selalu sama, tergantung pada ukuran kelapa. Jika kelapa yang diperoleh berukuran kecil, bisa saja dihargai sepertiga atau setengah butir kelapa berukuran standar, sehingga tiga butir kelapa kecil hanya dihargai sama dengan sebutir kelapa berukuran normal.

Dalam sehari Sudarno bisa menjual hingga 100 butir kelapa ke pengepul. Kelapa–kelapa yang telah ia kupas kulit luarnya, langsung ia serahkan ke pengepul. Setelah dihitung jumlahnya, barulah pengepul akan membayar tergantung jumlah kelapa yang Darno dapatkan.

Menjadi pemetik kelapa bukan sepenuhnya keinginan Sudarno. Namun, tidak ada pilihan lain yang bisa ia lakukan. Dia yang sejak kecil memang sudah memanjat pohon mengaku tidak memiliki keterampilan lain, sehingga pekerjaan itu menjadi pilihan satu–satunya bagi Darno untuk menghidupi keluarganya

Jatuh dari Pohon

Meskipun sudah puluhan tahun menjadi pemetik kelapa, Sudarno mengaku bahwa terkadang ia terjatuh dari pohon. Bahkan belum lama ini ia baru saja jatuh dari pohon kelapa. Namun, ia bersyukur belum pernah jatuh yang mengakibatkan cedera serius.

Mbiyen (Dahulu), pertama–tama manjat pas rumah saya ini baru dibangun pernah jatuh dari ketinggian 4 meter,” ujar Darno dengan logat Jawa “ngapak” yang kental.

Ia terjatuh karena daun kelapa kering yang ia jadikan pegangan patah. Namun, hal tersebut tidak membuat Darno takut. Ia tetap menjalani profesinya sampai sekarang.

Cerita Pemetik Kelapa (5)Sudarno, 45 tahun, seorang pemetik kelapa di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, memeluk batang pohon kelapa agar tak terjatuh, Selasa, 24 November 2020. (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

Mengenai kekhawatiran sang istri karena Darno sulit dihubungi saat pergi memanjat kelapa, Darno membenarkan bahwa dia dan istrinya sama-sama tidak memiliki ponsel dan tidak bisa mengoperasikannya.

Orang yang memegang ponsel di rumahnya hanya kedua anaknya, yakni Deni, 25 tahun, dan Nur, 19 tahun.

Alasan Darno dan istrinya tidak menggunakan telepon genggam adalah mereka tidak bisa mengoperasikan telepon tersebut. Keduanya juga menyatakan tidak ingin belajar mengoperasikan ponsel.

“Sekarang belum pergi semua ya ga belajar, nggak tahu besok kalau Nur sudah ikut pergi. Mungkin ya terpaksa akan belajar pakai handphone,” ujar Darno, yang dibenarkan oleh Sari dengan anggukan.

Di daerahnya hanya tinggal Sudarno yang masih menggeluti pekerjaan pemetik kelapa. Terkadang ia juga merasa sepi karena tidak ada teman ketika ia memanjat kelapa. Namun, sampai sekarang belum berfikir untuk berhenti. “Tetap saja, sambilan apa pun, ujung–ujungnya kembali ke kelapa, saya tidak bosan karena itu sudah pekerjaan saya,” kata Darno.

Dari hasil menjual kelapa, Darno berhasil menyekolahkan kedua anaknya dan membangun rumah yang layak untuk keluarganya. Meskipun Deni, anak pertama Darno hanya lulus SD, ia mengaku itu semua bukan karena ia tidka mampu menyekolahkan. Tetapi pilihan Deni sendiri yang tidak mau sekolah.

Mertua Sudarno, Painem, 80 tahun, menyebut alasan cucunya tidak ingin sekolah karena sekolah itu susah. “Katanya pusing sekolah, jadi nggak mau sekolah,” kata Painem yang sudah sekitar dua tahun tinggal bersama keluarga Sudarno.

Berbeda dengan Saringah, Painem mengatakan ia tidak pernah merasa khawatir saat Sudarno pergi bekerja. Wanita yang cara jalannya sudah membungkuk ini percaya dengan kemampuan Darno membaca situasi. Meski demikian, dia tetap merasa khawatir jika sampai pukul 15.00 Wib Sudarno belum sampai di rumah.

Sambil asyik mengunyak jeruk, ia mengaku bangga memiliki menantu Sudarno, sebab selama ini dia bertanggung jawab dan bisa hidup sederhana demi menafkahi istri dan anaknya. “Khawatir ya ada tapi ya percaya saja,” ucapnya menambahkan. []

(Mia Setya Ningsih)

Berita terkait
Melihat Desa Para Perajin Sangkar Burung di Yogyakarta
Dusun Jaten, Desa Rejosari, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, merupakan sentra pembuatan sangkar burung. Ini bahan pembuatannya.
Filosofi Tanaman Bonsai dan Edukasi dari Seniman Pembuatnya
Bonsai bukan sekadar tanaman yang dikerdilkan. Ada filosofi yang terkandung dalam setiap tanaman mini ini, yang perlu diedukasikan pada pehobi.
Tempat Belajar Segala tentang Kopi di Yogyakarta
Kopi menjadi salah satu minuman wajib untuk beberapa orang, tapi tidak semua orang paham tentang kopi. Ini cerita tentang pembelajaran kopi.
0
Pasokan Vaksin Covid-19 di Indonesia Capai 75,9 Juta Dosis
Dengan kedatangan vaksin tahap ke-14 ini, maka jumlah pasokan vaksin yang ada mencapai 75,9 juta dosis vaksin