UNTUK INDONESIA
Pasien Kanker Berisiko Besar Terinfeksi Covid-19?
Covid-19 disebut mudah menyerang orang yang memiliki imun yang lemah, lantas bagaimana dengan penderita kanker? Berikut penjelasannya.
Ilustrasi Penderita Kanker. (Foto: www.newscientist.com/Sam Ogden/SPL)

Jakarta - Virus Corona atau Covid-19 disebut mudah menyerang orang yang memiliki penyakit penyerta sebelumnya lantaran daya tahan tubuhnya yang lemah. Lantas, seberapa besar risiko pasien kanker terinfeksi Covid-19?

Peneliti PhD dalam Epidemiologi, Institut Kesehatan Global Heidelberg, Jerman, Universitas Heidelberg, Melani Ratih Mahanani, seperti dimuat pada laman theconversation mengatakan pandemi Covid-19 memberikan dampak pada seluruh aspek kehidupan sehari-hari termasuk pada layanan kesehatan penderita kanker. 

Belum adanya vaksin dan obat menjadikan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang kini mulai dilonggarkan sebagai jalan keluar untuk mencegah terpuruknya sistem kesehatan di Indonesia.

Nyatanya, upaya tersebut bisa menghambat pelayanan pada pasien kanker di Indonesia karena mereka takut terinfeksi virus SARS-CoV-2 saat pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan tenaga kesahatan. Di satu sisi, sistem kesehatan melemah lantaran mayoritas sumber daya kesehatan dicurahkan untuk menangani pasien Covid-19 yang terus meningkat jumlahnya.

Padahal, keterlambatan diagnosis dan terapi dalam kasus kanker mampu menimbulkan penyebaran ke jaringan atau organ tubuh lain. Beberapa tumor ganas, (seperti kanker paru dan kanker pankreas) dan kanker darah (leukemia akut) butuh diagnosis dan pengobatan secepat mungkin.

Faktor Risiko Covid-19 pada Penderita Kanker

Sejauh ini belum ada bukti kuat yang mengatakan kanker meningkatkan risiko terinfeksi Covid-19. Meskipun sebuah penelitian di China menunjukkan sebanyak 18 pasien kanker (1 persen dari 1.590 orang yang diteliti) berisiko lebih tinggi mengalami Covid-19 yang ditunjukkan dengan peningkatan kebutuhan perawatan di Intensive Care Unit (ICU) dan penggunaan mesin bantu napas atau ventilator.

Perlu dicatat, jumlah pasien kanker dalam riset tersebut sangat sedikit (1 persen dari 1.590 sampel) dah hanya empat dari 18 pasien kanker tersebut yang sedang dalam pengobatan kanker. Selain itu, rata-rata usia yang diteliti juga berbeda antara pasien kanker dengan pasien non-kanker (63,1 tahun dan 48,7 tahun). Hal ini seolah-olah memberikan kesan jika pasien yang mengalami komplikasi akibat umur dianggap meningkatkan risiko terpapar Covid-19 dan bukan akibat kanker yang dideritanya.

Dalam penelitian tersebut 12 dari 18 pasien tersebut juga tidak memiliki riwayat terapi kanker dalam setahun terakhir dan mereka memiliki riwayat merokok lebih lama dibandingkan pasien non-kanker. Lantas bagaimana dengan pasien kanker yang sedang atau baru mendapatkan terapi kanker, seperti kemoterapi yang mengganggu sistem imun tubuh?

Sejauh ini belum terdapat bukti ilmiah terkait hal tersebut, sehingga hubungan antara risiko Covid-19 pada penderita dan survivor kanker masih belum jelas. Risiko tersebut bisa dipengaruhi oleh umur, tipe kanker, jenis terapi, jangka waktu setelah terapi terakhir, serta penyakit penyerta lainnya.

Pasien Kanker Terhambat Dapat Pengobatan

Tenaga medis, alat pelindung diri (APD), kapasitas ICU, dan ventilator yang terbatas di Indonesia terlebih di masa pandemi Covid-19 membuat akses layanan bagi pasien atau survivor kanker semakin terhambat. Akibatnya, terjadi gangguan terhadap pemantauan operasi, kemoterapi, serta radiasi bagi pasien lama atau survivor, dan keterlambatan diagnosis bagi pasien baru.

Selain itu, pasien atau survivor biasanya mendapatkan jadwal pemeriksaan darah secara rutin guna mendeteksi adanya potensi kambuh. Kanker menjadi penyakit yang membutuhkan pemantauan dan pengobatan secara rutin, untuk itu penting sekali edukasi terhadap pencegahan infeksi Covid-19 yang bisa dilakukan penderita kanker serta merawat diri di rumah untuk mencegah terjadinya pemburukan penyakit kanker yang diderita.

Upaya yang Bisa Dilakukan Tenaga Kesehatan

Panduan mengenai penanganan kanker selama pandemi Corona bagi seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang melayani kasus kanker di Indonesia sangat penting untuk menjamin pelayanan kesehatan yang merata. Ini penting agar bisa mengetahui adakah pasien yang harus ditunda perawatannya? Bagaimana proses pemantauan kondisi para survivor kanker dan tata laksana Covid-19 pada penderita kanker? 

Selain itu, panduan mengenai komunikasi berbasis daring antara dokter dan pasien juga hal penting agar dokter bisa mengetahui kondisi pasien. Ini bertujuan untuk menyaring hanya kasus gawat darurat yang memerlukan kunjungan ke rumah sakit guna mengurangi risiko terpapar Covid-19. 

Dibutuhkan adanya penilaian dari dokter untuk menentukan pasien sebaiknya diperiksa secara langsung atau tidak, pemantauan efek samping pengobatan, dan pemeriksaan bisa ditunda atau tidak. Di tengah pandemi sekarang ini, tenaga medis harus tetap berpikir dan bertindak secara ilmiah dan berbasis bukti, segala jenis studi ilmiah terkait kanker dan Covid-19 di Indonesia harus dipublikasikan agar menjadi bahan pelajaran serta dasar pengambilan kebijakan.

Upaya bagi Pasien

Bagi pasien atau survivor kanker dan orang yang dalam perawatan di rumah, upaya pencegahan virus Corona bisa dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir minimal selama 20 detik sesering mungkin, selalu menggunakan masker terutama saat keluar rumah, dan upaya pencegahan lainnya. 

Konsultasikan juga dengan dokter apakah perlu untuk melakukan self-isolation berdasarkan penilaian dokter dan risikonya masing-masing. Pasien yang sedang menjalani atau baru menerima kemoterapi harus lebih disiplin guna mencegah penularan Covid-19. Ini karena ada kemungkinan peningkatan risiko tertular virus Corona akibat salah satu efek samping terapi yang melemahkan sistem imun, walaupun bukti ilmiahnya terbatas.

Penderita kanker dan orang yang sedang dalam perawatan di rumah wajib mengikuti protokol pengobatan untuk mencegah penyakit semakin memburuk, perhatikan juga munculnya gejala baru. Jika terjadi, segera mungkin lapor ke dokter yang merawat melalui telepon atau media komunikasi daring yang tersedia agar cepat ditangani.

Baca Juga:

Berita terkait
Bisa Tidak Akurat, Ini Cara Kerja Rapid Test
Dalam mengatasi pandemi virus Corona, Indonesia menggunakan rapid test. Namun tak sedikit masyarakat mempertanyakan akurasi dari rapid test itu.
8 Perlengkapan yang Wajib Dibawa Selama New Normal
Selama new normal, masyarakat harus menjalankan protokol kesehatan. Ketika harus ke luar rumah, disarankan membawa perlengkapan pribadi.
7 Tempat yang Harus Diwaspadai Bisa Menularkan Corona
Ada beberapa tempat yang perlu diwaspadai karena berisiko menjadi tempat penularan virus Corona. Berikut tempat yang bisa menularkan Corona.
0
Calon Pengantin Pria Kabur, Gadis Dairi Ini Batal Menikah
Kamis, 22 Oktober 2020, seyogianya dilangsungkan pemberkatan pernikahan sekaligus pesta adat Dedi Sitohang dan kekasih hatinya di Kabupaten Dairi.