UNTUK INDONESIA
Pantang Mengemis Meski Penghasilan Turun Drastis
Para pengepul sampah di TPST Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY terus mengumpulkan sampah plastik agar mendapatkan penghasilan di tengah Covid-19.
Perempuan pengumpul sampah, Sumajem, 45 tahun, sedang melepas stiker merk dari botol-botol plastik, di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Piyungan, Kabupaten Bantul, Kamis, 4 Juni 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana).

Bantul - Aroma khas timbunan sampah tercium di area tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Piyungan, Kabupaten Bantul, Kamis, 4 Juni 2020. Bau busuk terasa menyengat, bahkan sejak puluhan bahkan ratusan meter sebelum memasuki lokasi itu.

Ratusan ekor sapi berkerumun di atas tumpukan sampah menyerupai bukit. Sapi-sapi itu terlihat mengunyah sesuatu di dalam mulutnya yang sudah pasti itu adalah sampah, sebab tidak ada rumput atau dedaunan di situ.

Harganya bukan cuma turun tapi berubah harga Penghasilan juga menurun, jadi tinggal seperempat dari hasil biasanya.

Dua unit eskavator terparkir beberapa puluh meter dari rombongan sapi. Satu di antaranya mulai bergerak lambat menuju tengah-tengah bukit sampah. Suara mesinnya memecah sunyi pagi itu.

Dibagian sisi bukit sampah, belasan pengumpul sampah sudah memulai aktivitas mereka, meski waktu masih menunjukkan pukul 06.17 WIB. Beberapa terlihat duduk di bawah gubuk beratap terpal, sambil mulai memilah sampah yang bisa dijual untuk didaur ulang.

Sebagian mengumpulkan sampah-sampah dari tumpukan dan memasukkan ke dalam karung. Sementara, lainnya masih duduk-duduk sambil merokok.

Dua pengumpul sampah lainnya sedang saling membantu untuk membuat gubuk. Empat batang bambu dipasang sebagai tiang gubuk, bambu lain sudah dibelah dipasang sebagai rangka atap. Kulit kedua orang itu mengilap tertimpa sinar matahari pagi.

Seorang perempuan pengumpul sampah lainnya, Sumajem, 45 tahun, seperti tak peduli pada kegiatan orang lain di sekitarnya. Dia duduk di antara tumpukan sampah. Di depannya terdapat satu karung besar berisi botol-botol plastik.

Tangan kanannya memegang semacam pisau untuk membersihkan botol plastik di tangan kirinya. Dengan lincah dia membersihkan dan melepaskan merk menempel pada botol plastik itu.

Sementara, di samping kanannya, satu keranjang berukuran sedang, sudah siap menampung botol-botol plastik tanpa merk.

Sumajem mengaku, sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, penghasilannya menurun drastis. Penyebabnya adalah harga jual sampah plastik anjlok, bahkan ada jenis sampah plastik yang harganya merosot hingga dua pertiga harga awal.

Sumajem merinci penurunan harga jual sampah plastik. Botol plastik tipis, seperti botol air minum dalam kemasan yang tadinya dihargai Rp3.000 per kilogram, turun menjadi Rp1.000 per kilogram. 

Sementara, botol plastik tebal, seperti botol sampo yang tadinya dihargai Rp4.000 per kilogram, menjadi Rp2.000 per kilogram, dan plastik-plastik lembaran, tadinya Rp900 per kilogram menjadi Rp300 per kilogram.

Jika dirata-rata, dia mengaku penghasilannya menurun tinggal 25 persen dari penghasilan sebelum pandemi Covid-19 masuk di Indonesia.

"Harganya bukan cuma turun tapi berubah harga penghasilan juga menurun, jadi tinggal seperempat dari hasil biasanya," kata Sumajem, sambil terus melepaskan merk-merk pada botol-botol plastik di depannya.

Dalam sehari, dirinya bisa mengumpulkan sampah plastik sebanyak 20 kilogram. Jumlah itu merupakan sampah plastik dari berbagai jenis, mulao dari plastik lembaran hingga botol plastik tebal.

"Sehari bisa mengumpulkan sampai 20 kilogram botol plastik. Tapi, ya begitu Mas, penghasilannya jauh menurun," tuturnya.

Padahal, kata dia, dirinya memiliki tanggungan kredit beberapa barang, yang cicilannya harus dibayar setiap bulan. Beruntung pihak pemberi kredit bersedia memberikan dispensasi pembayaran. Dia hanya wajib membayar bunga kredit selama tiga bulan.

"Ditunda cicilannya lumayan agak membantu. Kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana cara bayarnya," lanjut Sumajem.

Pemulung BantulDua bersaudara pengumpul sampah plastik, Bejo, 50 tahun dan Sarinten, 45 tahun sedang memilah sampah di gubuk beratap terpal, di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Piyungan, Kabupaten Bantul, Kamis, 4 Juni 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dapat Bantuan dari Pemerintah

Senada dengan Sumajem, seorang pengumpul sampah lainnya, Bejo, 50 tahun, mengaku penghasilannya menurun drastis. Keluhan tentang berkurangnya penghasilan, menurutnya bukan hanya dari satu atau dua orang saja, tetapi hampir semua pengumpul sampah.

"Semua mengeluh, Mas. Tidak ada yang tidak mengeluh, yang ekonomi, semuanya. Terutama sekali memang ekonomi," kata dia.

Penghasilan Bejo bahkan merosot jauh lebih banyak daripada yang disampaikan Sumajem. Bejo mengaku sebelum pandemi dia bisa mendapatkan uang sebesar Rp6 juta per bulan, dari hasil mengumpulkan sampah. Tapi, saat ini penghasilannya hanya ada di kisaran Rp1 juta per bulan.

"Penghasilan turun semua. Biasanya satu bulan Rp6 juta, sekarang kadang-kadang cuma sekitar sejuta. Untuk hidup ya susah, Mas. Bukan cuma kurang untuk hidup, kurang sekali. Ya upayanya dicukup-cukupkan saja," ucapnya.

Beruntung, kata Bejo, pemerintah memberikan bantuan untuk warganya selama pandemi. Bantuan-bantuan yang diberikan tersebut, menurutnya sangat bermanfaaat dalam melanjutkan hidup.

Dengan bantuan yang diberikan, dia dan keluarganya masih bisa makan dan memenuhi kebutuhan pokok lainnya. Apalagi kredit barang-barang yang dimilikinya juga sudah ditangguhkan.

"Kan gimana, pemasukan enggak ada, pengeluaran tetap banyak. Untungnya ada bantuan-bantuan dari pemerintah. Bantuannya memang sangat bermanfaat. Saya sangat terima kasih," ucap pria yang mengaku berasal dari Wonosari, Kabupaten Gunungkidul ini.

Mengenai kekhawatiran dan harapannya terkait pandemi Covid-19, Bejo mengatakan, sebenarnya dirinya juga khawatir akan tertular virus berawal dari Wuhan, China. Tapi, tanggung jawabnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membuat dia mengesampingkan kekhawatiran itu.

Pemulung BantulSeorang pengumpul sampah plastik, Bejo, 50 tahun, mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan dari pemerintah di masa pandemi Covid-19, Kamis, 4 Juni 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana).

Terlebih di lokasi TPST Piyungan tersebut, sangat jarang ada orang luar yang datang, sehingga risiko tertular dinilainya lebih kecil daripada orang-orang di luar tempat itu.

Meski demikian, Bejo yang mengaku berprofesi sebagai pengumpul sampah sejak tahun 1993 ini, berharap agar pandemi segera berakhir. Sebab, selain merasa lebih aman dari penularan, dia juga berharap usainya pandemi dapat membuat harga sampah plastik untuk daur ulang kembali normal.

"Nek (kalau) harapannya ya itu sih Mas, Corona cepat selesai. Biar penghasilan kita juga kembali normal. Kan ndak mungkin terus-terusan berharap bantuan, walaupun memang kami semua di sini butuh itu," ucapnya sambil menginjak-injak sampah plastik agar lebih padat dan mudah dikemas.

Kisah yang hampir sama diceritakan oleh adik kandung Bejo, yang mengaku bernama Sarinten. Perempuan berusia 45 tahun ini juga mengeluhkan soal penghasilan yang terdampak pandemi.

Sarinten bahkan mengaku hampir menyerah dengan kondisi yang ada. Dia juga sempat berniat untuk pulang kampung ke Wonosari. Tapi, jika dia menyerah dan pulang kampung, dia tidak tahu harus bekerja apa di sana.

Apalagi sejak pandemi Covid-19, banyak wilayah di Wonosari yang melakukan karantina mandiri. Penduduk yang datang dari luar daerah itu harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu dan wajib melakukan karantina mandiri.

"Sempat ajeng wangsul teng ndeso (sempat mau pulang ke desa). Ning kulo mikir, nek teng ndeso njuk ajeng nyambut damel nopo (tapi saya berpikir kembali, kalau di desa terus saya mau kerja apa)," ucapnya.

Terlebih dia harus tetap memiliki penghasilan untuk membantu perekonomian keluarga. Akhirnya, dia memutuskan untuk tetap bertahan di lokasi itu sebagai pengumpul sampah plastik, meski penghasilannya jauh merosot.

"Kulo nggih sami kaliyan kakang kulo, angsal bantuan saking pemerintah (sama juga dengan kakak saya, saya dapat bantuan dari pemerintah). Alhamdulillah saged kagem ngurangi pengeluaran (alhamdulillah bisa sedikit mengurangi pengeluaran)," ujarnya bersyukur. []

Berita terkait
Muncikari Bongkar Data Pelanggan PSK Online di Aceh
Salah satu mucikari Pekerja Seks Komersial (PSK) online Aceh mengaku pelanggan banyak memakai jasa para PSK rata-rata kalangan pengusaha.
Penambang Pasir di Kali Kuning Sleman Masa Pandemi
Mboten kuatir, kula kaliyan rencang penambang liyane kan jarake langkung sedoso meter. Kisah penambang pasir di Kali Kuning Sleman masa pandemi.
Merajalela Waria Aceh Menjaja Cinta di Tengah Corona
Meski corona, prostitusi waria di Kabupaten Aceh Utara, Aceh terus berjalan demi mencapai kepuasan syahwatnya.
0
Pantang Mengemis Meski Penghasilan Turun Drastis
Para pengepul sampah di TPST Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY terus mengumpulkan sampah plastik agar mendapatkan penghasilan di tengah Covid-19.