Tarutung - Dalam 10 tahun terakhir, hasil panen kebun durian di empat kecamatan di Luat Pahae (Pahae Julu, Pahae Jae, Purba Tua, dan Simangumban), Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, mengalami penurunan drastis.

Durian Pahae merupakan tanaman lokal hasil perkebunan masyarakat Pahae sejak turun temurun. Setiap musim panen durian dari daerah itu, Kota Tarutung jadi salah satu tempat menjajakan buah berbau tajam itu.

"Padahal produksi sepuluh tahun lalu bisa menghasilkan dua truk pick-up setiap pagi hari. Sekarang mengalami penurunan drastis," terang Lambok Panjaitan, Kepala Desa Silosung, Kecamatan Simangumban kepada Tagar, Jumat, 14 Juni 2019.

Baca juga: Warga Taput Menanti Optimalisasi Bendung Sigeaon

Masyarakat Silosung melalui suara Lambok Panjaitan meminta campur tangan pemerintah.

"Selain masalah durian kami berharap ada campur tangan pemerintah melakukan penelitian apa penyebab turunnya produksi pertanian warga seperti pisang, coklat, petai. Kemungkinan ada langkah penyesuaian varietas baru agar bisa berproduksi kembali," kata Lambok.

Menurut Lambok seperti biasanya bulan Juni sampai Agustus merupakan musim panen di Desa Silosung. Namun kali ini sama sekali tidak berbuah.

Adianto Pasaribu (36), warga Desa Silosung mengatakan setiap musim panen raya di Silosung bisa menghasilkan uang penjualan durian sampai 500 juta.

Baca juga: Pengacara Minta Guru Cabul di Taput Dibebaskan

"Biasanya harga jual di pokok (pohon) durian harga sekitar 5 ribu perbuah untuk ukuran normal dijemput langsung pengumpul di kebun warga," ujar  Adianto.

Warga petani Desa Silosung menduga adanya pengaruh perubahan iklim dan punahnya binatang yang membantu saat penyerbukan bunga durian.

"Jenis lebah dan kalong belakangan ini ada kelangkaan dalam musim bunga durian. Kemungkinan hal itu penyebabnya," terang Adianto Pasaribu. []