Untuk Indonesia

Opini: Pesantren dan Musik, Sebuah Pengalaman

Sebagian netizen mengatakan bahwa para santri yang menutup kuping agar tidak terdengar suara musik itu adalah sikap radikal. Mukti Ali Qusyairi.
Ilustrasi - Alat musik. (Foto: Tagar/Pesantren)

Oleh: Mukti Ali Qusyairi


Baru-baru ini viral video yang menayangkan sejumlah santri penghafal Al-Quran yang sedang mengantri untuk vaksin dengan menutup kupingnya ketika mendengarkan musik. 

Sebagian netizen mengatakan bahwa para santri yang menutup kuping agar tidak terdengar suara musik itu adalah sikap radikal dan sebagian lain mengatakan bahwa itu sikap yang lebay alias berlebihan. 

Pernyataan para netizen tersebut dibantah oleh Ibu Yenny Wahid agar tidak mudah menstigma radikal, dan para santri tersebut adalah para penghalap Al-Quran yang membutuhkan konsentrasi dan fokus yang tinggi.

Deddy Corbuzeir pun baru-baru ini meminta maaf atas komentarnya yang pejoratif terhadap para santri yang ada di video tersebut akibat kebodohannya. Ini luar biasa sekelas Deddy Corbuzeir selebritis yang memiliki followers jutaan ikut nimbrung, menjadikan video itu semakin bertambah viral.


Pesantren tempat uzlah bagi santri

Apakah seorang atau sekumpulan santri yang menutup kuping dari suara musik adalah indikator radikalisme? Mungkin pertanyaan ini bisa dijawab berdasarkan pengalaman sebagai santri. 

Bagi kalangan yang tidak pernah pesantren, mungkin kaget melihat fenomena para santri menutup kuping dari suara musik, berfikir macam-macam yang akhirnya menganggap radikal. Akan tetapi berbeda dengan cara pandangan seseorang yang pernah pesantren. 

Karena itulah penting melihat fenomena berdasarkan pengalaman. Sebab pengalaman bersifat empiris, nyata, dan aksiomatik, dan saya akan mencoba menjawab dan menganalisanya berdasarkan pengalaman saya menjadi santri di sebuah pesantren.

Boleh dikatakan bahwa hampir semua pondok pesantren salaf tradisional memiliki peraturan sendiri yang wajib dipatuhi para santri. Di antara salah satu peraturan pesantren adalah melarang para santri menyimpan tape, radio atau televisi untuk mendengarkan musik atau menonton film. Di era membludaknya HP (Handphone), para santri pun dilarang menggunakannya.

Peraturan tersebut berlaku di saat pesantren aktif belajar dan mengaji. Sedangkan di saat pesantren libur para santri bebas dari peraturan tersebut. Sekurang-kurangnya libur dua kali dalam setahun, yaitu libur bulan Maulid selama dua minggu dan libur panjang selama 2,5 bulan, yakni bulan Rawah, Ramadhan, dan pertengahan bulan Syawal. Di saat liburan, para santri diperbolehkan mendengarkan radio, tipe, televisi, dan diperbolehkan memegang HP.

Pesantren benar-benar bagaikan tempat uzlah bagi para santri yang serius tafaqquh fi al-din (mempelajari ilmu-ilmu agama) dan khusyuk beribadah dalam hidup sederhana. Sunyi dari hiruk pikuk. Sepi dari hiburan. Senyap dari suara musik.


Pelampiasan jiwa musik

Di saat pesantren aktif, jiwa musik para santri terlampiaskan dalam ritme aktivitas kepesantrenan. Seperti ketika mendemonstrasikan nadzham Qawa’id al-Sharfiyah, al-‘Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik, al-Jauhar al-Maknun, ‘Uqud al-Juman, dan yang lain secara kolektif dengan menggunakan berbagai langgam lagu-lagu dangdut, pop, dan sejenisnya. Seperti langgam lagu ‘Ku Menangis’ Evie Tamala, dan sejenisnya. 

Nadzhaman tersebut didemonstrasikan secara kolektif selama 20 menit ketika masuk lokal kelas madrasah sambil menunggu guru datang dan katib (penulis) selesai menulis pelajaran di papan tulis, dan seminggu sekali didemonstrasikan secara lebih besar yang dilaksanakan seluruh lokal dalam Gedung khusus al-muhafadzhah (Hapalan), ini disebut dengan lalaran.

Jika di lokal kelas, biasanya nadzhaman yang didemonstrasikan dengan langgam lagu dangdut atau pop diiringi dengan ‘alat musik’ sajadah yang dilipat-lipat lalu dipukul bak kendang yang disesuaikan dengan iramanya. 

Sedangkan jika di Gedung khusus al-muhafadzhah (Hapalan) diiringi dengan ‘alat musik’ berupa gentong tandon air plastik yang berukuran jumbo dipukul sesuai dengan irama dan kecerkan yang terbuat dari tutup lemon atau fanta yang digepengkan dan dipaku ke kayu. Lalaran terasa semakin nikmat.

Alat musik dengan tanda kutip, sebab bukan alat musik yang sesungguhnya. Tiada rotan akar pun jadi. Tiada gendang, gentong tandon air pun jadi. Kreativitas sering kali muncul di saat terpepet. Sehingga ada yang bilang, kreatif singkatan dari ‘kere aktif’, orang kere yang aktif untuk survival dan meraih sesuatu yang diinginkan. 

Tentu saja gotal-gatuk-matuk dan dalil cocokologi itu kok endilalahe selaras dengan keadaan para santri yang ingin bermusik tapi terhalang peraturan pesantren dan tak punya uang cukup untuk membeli alat-alat musik, sehingga apapun yang bisa menghasilkan suara yang mirip alat musik pun digunakan.

Jiwa musik para santri terlampiaskan pada barang-barang yang dapat digunakan sebagai pengganti dari alat musik, yang menghasilkan bunyi-bunyian yang mirip kendang dan sejenisnya. 

Jangankan gentong tandon air, mulut pun bisa menghasilkan suara kendang, seruling, kecrek, dan gitar. Ternyata soal musik adalah soal bunyi.

Di hari Jumat libur ada saja sebagian santri yang berkumpul ngopi-ngopi, gorengan ote-ote, dan sebagian juga sambil menghisap rokok nyanyi-nyanyi dangdut atau pop dengan memukul gentong tandon air, bantal, dan bahkan tumpukan sajadah dan baju sehingga menghasilkan suara seperti gendang, serta kecrekan terbuat dari tutup sirup atau fanta atau coca-cola, juga memukul potongan besi seadanya atau kadang tiang bangunan yang terbuat dari besi pun dipukulnya sehingga bisa menghasilkan suara. Terkadang ada saja santri yang gatal untuk berjoget, ya joget juga goyang mang.

Mungkin hanya itulah hiburan satu-satunya bagi para santri untuk mengusir suntuk dan bete. Sebab pesantren pun melarang mereka keluar dari lingkungan pesantren. Sehingga tak bisa mencari hiburan di luar pesantren.

Dulu Ketika saya mesantren di Lirboyo, para santri hanya diperbolehkan keluar pesantren sebulan sekali di hari Jumat pertama yang disebut “Jumat Muda”. Jika sebulan ada 30 hari, maka 29 hari para santri di lingkungan pesantren dan 1 hari di hari Jumat Muda itu para santri diperbolehkan keluar dari pesantren.

Jumat Muda adalah hari yang dinanti-nanti para santri untuk jalan-jalan ke kota, makan pecel di klemprakan pinggir jalan, belanja, nongkrong ngopi di kota, menikmati pemandangan Sunga Brantas yang setelah saya angan-angan mirip Sungai Nil di Kairo Mesir.


Demi fokus belajar

Alasan yang paling mendasar mengapa pesantren salaf tradisional menetapkan peraturan bagi para santrinya untuk tidak mendengarkan musik dan nonton TV serta tidak memegang HP? 

Saya mendapatkan jawaban dari beberapa kiyai yang pernah menjadi pengurus pesantren atau memiliki pesantren yang menerapkan peraturan tersebut. Seperti Kiyai Asnawi Sonodikromo. Para kiyai menjawab, agar para santri bisa fokus dan khusyuk dalam belajar dan mengaji. 

Sebab jika diperbolehkan mendengarkan musik dan nonton TV, dikhawatirkan mengganggu belajar dan mengaji, kurang fokus, pikiran bisa bercabang, dan menyita waktu. Belajar dan mengaji adalah di atas segalanya, sebab itulah tujuan para santri dikirimkan orangtua/walisantri ke pesantren.

Ternyata alasan para santri dilarang mendengarkan musik karena demi fokus, khusyuk, dan mempeng belajar dan mengaji. Bukan karena haramnya musik. Sehingga jauh dari asumsi sebagian orang yang mengaitkan dengan radikalisme. 

Tentu saja para santri dan walisantri sudah mengetahui peraturan tersebut dan menerimanya dengan senang hati. Sehingga peraturan pesantren tersebut sejatinya sudah menjadi kesepakatan bersama antara pesantren, walisantri, dan santri yang bersangkutan.

Bagi para santri pun tidak mendengarkan musik demi menghormati dan mematuhi peraturan pesantren. Apalagi jika para santri di hadapan para guru, pengasuh, dan para kyai, maka mereka akan mengekspresikan kepatuhannya secara jelas. 

Boleh jadi, para santri di video yang viral itu sedang mengekspresikan kepatuhannya kepada peraturan pesantren, terlebih di hadapan para pengasuhnya.

Para santri ditanamkan doktrin patuh kepada guru, kyai, dan peraturan pesantren. Peraturan pesantren ditetapkan oleh kyai dan pengasuh, dan dijalankan oleh pengurus, dan dipatuhi oleh para santri.

Para santri berkeyakinan bahwa jika mematuhi kyai dan guru maka akan futuh (terbuka) akal dan pikirannya sehingga dimudahkan dalam memahami dan menghapal pelajaran/menghapal Al-Quran, serta mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah.

Aktivitas sekolah madrasah, mengaji Al-Quran, mengaji kitab kuning, musyawarah kitab setiap hari, bahtsul masail dalam sebulan sekali, menghafal nadzhaman dan bagi penghafal Al-Quran ditambah dengan menghafal Al-Quran, lalaran nadzham bersama-sama, menghafal dan memahami pelajaran, menulis pelajaran yang wajib ditulis, belajar dan membaca. Boleh dibilang full beraktivitas. Para santri hanya beristirahat untuk shalat, makan, mandi, dan istirahat tidur. Setidaknya ini gambaran pengalaman saya mesantren di Lirboyo.

Boleh jadi pengalaman di pesantren lain agak sedikit berbeda atau berbeda sama sekali--mungkin menarik ditulis tentang perbedaan peraturan antar pesantren tentang musik sebuah studi banding. Akan tetapi perbedaannya mungkin agak sedikit atau tipis.

Sehingga, miliu dan keadaannya memang menuntut untuk benar-benar serius, fokus, dan mempeng hanya untuk belajar dan mengaji; totalitas waktunya hanya untuk tafaqquh fi al-din. Tanpa ada jedah waktu leha-leha untuk menikmati musik atau nonton TV.

Salah satu doktrin kunci bagi para santri adalah mempeng dalam belajar, mengaji, membaca, memahami, menulis, dan menghapal. Mempeng adalah Bahasa Jawa yang artinya antusias, sungguh-sungguh, dan fokus.

Seingat saya, ketika saya sowan ke almarhum Romo KH. Idris Marzuqi, pengasuh pesantren Lirboyo, memberi nasehat agar saya mempeng, istiqamah shalat berjamaah dan selama belajar tidak boleh untuk tirakat puasa yang aneh-aneh. Ada lagi salahsatu guru yang menasehati, “Makan enak. Tidur nyenyak. Belajar dan membaca yang banyak. Mengaji yang banyak.”


Musik di bilik-bilik pesantren

Di saat aktif, keadaan bilik-bilik pesantren sunyi senyap, dan yang ada suara lirih bacaan Al-Quran, dan perdebatan kecil atau obrolan singkat, sebab seluruh santri sibuk belajar dan mengaji. Tentu tak ada suara musik.

Di waktu libur panjang di bulan Maulid dan akhir tahun, keadaan lingkungan pesantren berbeda dengan pada saat aktif. Berubah drastis. Saya sendiri sering tidak pulang kampung dan memilih menikmati suasana liburan di lingkungan pesantren. 

Dari bilik-bilik pesantren terdengar suara musik, dangdut, rok, pop, gambusan, dan yang lain. Seperti sedang saingan menyetel musik saja. Suaranya pun kencang dalam volume tinggi. Terdengar jelas dari luar bilik.

Saya punya banyak teman yang suka sekali musik. Di antaranya Wajhuddin, teman karib saya, yang suka sekali dengan musik India. Ketika menjelang liburan datang, ia meminta kepada keluarganya di kampung halaman untuk mengirimkan paket tipe dan kaset-kaset India ke pesantren. 

Tidak tanggung-tanggung, Wajhuddin memiliki berkardus-kardus kaset-kaset lagu-lagu India. Setiap saat tipenya selalu memtura lagu-lagu India. Dari biliknya terdengar dengan jelas lagu-lagu India. 

Ia pun hapal dengan lagu-lagu tersebut. Seringkali ia membersamai lagu India di saat sedang diputar. Sampai ia pun mengerti arti isi dari lagu-lagu yang didengar. Sehingga, terkadang ia meneteskan air mata ketika mendengarkan lagu India yang sedih nan menyayat hati. Saya tahu itu, sebab ia meneteskan air mata di hadapan saya. Luar biasa!!

Wajhuddin adalah pecinta lagu-lagu India kelas berat ini cukup fenomenal dan dikenal oleh para santri. Ia pun seringkali mengeluarkan kata-kata India kepada sahabatnya, yang tentu membikin kagum sekaligus tidak paham apa artinya. Bikin penasaran juga. 

Lalu ia jelaskan artinya, terkadang juga ia menyanyikan lagu India dengan suaranya yang merdu sambil tangannya mengekspresikan gerakan macam Amitabacan, Amir Khan, atau Sahru Khan.

Selain itu, langgam lagu India pun dicoba digunakan untuk mendemonstrasikan hapalan hadzham. Wajhuddin tergolong santri jago gramatika Arab, Nahwu-Sharaf. Dari Wajhuddin lah saya mengetahui kitab-kitab Nahwu yang aneh-aneh, seperti kitab al-Nahwu al-Wafi, kitab Yasin Faqhihi, al-Kitab Imam Sibawaihi, dan yang lainnya.

Selain lagu-lagu India, Wajhuddin juga punya hobi bersepeda. Saya sering dibonceng bersepeda dengannya untuk mencari kitab atau buku ke toko-toko buku yang ada di kota Kediri berpuluh-puluh kilo. Wajhuddin dan saya sering sekali ziarah kubur Gus Mik dan KH. Ahmad Shiddiq minimal sebulan sekali dengan bersepeda dari Lirboyo ke Ploso.

Di pesantren, ada lagi sahabat saya bernama Hasbullah seorang Gus anak kyai yang hobinya lagu-lagu Iwan Fals. Ia hapal semua lagu-lagu Iwan Fals dari lagu percintaan sampai lagu kritik sosial. Lagu-lagu yang diputar pun seluruhnya Iwan Fals.

Sahabat saya Asnawi Ridwan suka dengan lagu-lagu Kla Poject, Katon Bagaskara, seperti lagu Yogyakarta, Tak Bisa Kelain Hati, dan yang lain. Ada juga sahabat Murtaqi yang suka dengan lagu Nasyid. Sedangkan teman-teman yang lain suka dengan lagu dangdut, pop Indonesia dan Malaysia, dan lagu-lagu Barat.

Ada juga sahabat senior saya, Kang Said Salmin yang suka lagu-lagu Ebiet G Ade, khususnya lagu Camelia. Ia sering menyitir kata-kata Ebiet G Ade, bahwa “Janganlah engkau berlari mengejar impian tak pasti, hari ini juga mimpi….” 

Rupanya kata-kata Ebiet G Ade itu sangat membekas dan berkesan baginya, sehingga menjadi bagian dari prinsip hidupnya. Ia sering memahami kata-kata Ebiet G Ade itu, bahwa hidup harus realistis dan menghadapi apa yang ada di depan mata secara maksimal dan tak perlu berangan-angan sesuatu yang tak pasti. 

Saat ini kita menjadi santri, ya kita belajar dan mengaji dengan fokus dan maksimal. Tak usah repot-repot apa yang akan terjadi nanti. Artinya apa yang terjadi pasca selesai dari pesantren, kita harus siap dan menghadapinya dengan maksimal, siap menjadi apapun. Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Akan tetapi, meski bebas musikan, lagi-lagi para santri terhalang oleh aktivitas ngaji pasaran yang meminta banyak waktu. Namun ngaji pasaran tidak diwajibkan bagi semua santri. Sehingga sebagian santri memilih untuk ikut pengajian pasaran, dan menikmati musik di saat beristirahat. 

Sebagian santri yang lain memilih untuk tidak ikut pengajian pasaran, dan memilih mengisi waktu liburan dengan menulis pelajaran untuk tahun depan atau sebagian lain lagi memilih membaca kitab dan buku sambil musikan dan nyeruput kopi. Uwenak tenan!

Ada juga sebagian yang lain lebih memilih kursus Bahasa Inggris di kota Kediri, dan pulang-pulang belajar Bahasa Inggris atau ikut pengajian di waktu tertentu, lalu menikmati musikan di bilik sambil menyeduh kopi. Mak nyus!

Saya sendiri di waktu libur memilih ikut ngaji pasaran. Di waktu istirahat baru mendengarkan musik. Atau membaca sambil nyeruput kopi dan mendengarkan musik. Asyik tenan!

Pada akhirnya kebutuhan mendengarkan musik pun tertata dengan rapi disesuaikan dengan jadwal kesibukan masing-masing. Sesuai dengan kebutuhan. Seperlunya saja.

*Ketua LBM PWNU DKI Jakarta


Berita terkait
Jokowi Berikan Apresiasi Vaksinasi Covid-19 di Pesantren
Presiden sampaikan apresiasi dan penghargaan kepada pondok pesantren yang telah mendukung para santri dapat suntikan vaksin Covid-19
Wujud Komitmen Besar Pemerintah ke Pesantren
Presiden Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren
Menag: Pemda Diharapkan Bisa Alokasikan Dana Bagi Pesantren
Menag Yaqut Cholil Qoumas menyatakan Peraturan Presiden Nomor 82/2021 akan membuat pemerintah daerah bisa mengalokasikan dana pesantren.
0
Transformasi Digital, Pemerintah Modernisasi Layanan Pertanahan
Sekjen Kementerian ATR/BPN Himawan Arief Sugoto mengapresiasi CSDILA atas komitmen kementerian terhadap transformasi digital khusus pertanahan.