Untuk Indonesia

Opini: Bukan Omon-omon, Swasembada Nyata di Depan Mata

Program ini menjadi titik balik, jawaban apatisme sebagian kalangan tentang krisis pangan. Dan Indonesia terbebas dari hantu paceklik.
Bukan Omon-omon, Swasembada Nyata di Depan Mata. (Foto: Tagar/Dok istimewa)


Zaki Nabiha


TAGAR.id, Jakarta - Dalam pidato pelantikannya di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD, Minggu, 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto dengan tegas menyampaikan komitmennya untuk mewujudkan swasembada pangan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dengan nada yang tegas dan gestur khasnya, Presiden berkata, “Saya telah mencanangkan bahwa Indonesia harus segera swasembada pangan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita tidak boleh bergantung dari sumber makanan dari luar,”!”

Kalimat itu singkat, tetapi gaungnya terasa sampai ke pelosok pun para petani bisa dipastikan mengetahuinya. Di Kementerian Pertanian, pesan itu langsung diterjemahkan dalam serangkaian kerja nyata. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selaku komandan tertinggi, tancap gas mengejawantahkan satu per satu kerja-kerja tersebut, tentu dengan kecepatan tinggi.

Ambisus?. Sudah pasti., Makanya, tidak sedikit kalangan yang mencibir bisa berhasil, Namun, petuah Bugis “pura babbarasompe’ku’, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellenngé nato’walié” sudah mengalir deras di nasinya maka tak heranketika dalam setiap kunjungannya ke daerah ia kerap membakar semangat khalayak, ““Petani tidak menunggu musim, ia menciptakan musim.”.

Juta-an petani di berbagai daerah yang dulu hanya bisa menatap langit, berharap hujan segera turun. Kini, hal seperti itu tidak mereka lakukan lagi setelah Mentan Amran menggulirkan program pompanisasi. Program ini menjadi titik balik, jawaban apatisme sebagian kalangan tentang krisis pangan. Dan Indonesia terbebas dari hantu paceklik.

Sepanjang tahun 2024, kurang lebih, sebanyak 62.388 unit pompa air ukuran 3 hingga 8 inci disalurkan ke kelompok tani, lengkap dengan selang penyalur air. Total bantuan pompa mencapai 71.875 unit, dengan target Perluasan Areal Tanam(PAT) padi seluas 1,14 juta hektar. Dan realisasi PAT justru melampaui target, 1,2 juta hektar atau 105,91 persen!. Provinsi-provinsi seperti Sumatera Selatan, Papua Barat, dan Maluku Utara bahkan mencatat PAT di atas 200 persen. Ketersediaan air menjadi kunci produksi.

Kerja nyata lainnya yang dilakukan Mentan Amran bersama jajarannya yaitu mengurai permasalahan pupuk subsidi. Isu pupuk selalu menjadi perbincangan hangat setiap musim tanam. Mungkin, ada masa di mana menyalurkan pupuk bersubsidi lebih rumit daripada mengikuti ujian SIM. Namun, sejak terbitnya Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 4 Tahun 2025, skemanya kini jauh lebih sederhana. Pemerintah juga meningkatkan anggaran pupukber subsidi menjadi Rp 54 triliun, untuk volume 9,55 juta ton.

Variabel lain yang mendasar dan jika varibel satu ini musnah, kita mustahil bisa menikmati nasi produksi dalam negeri, yaitu sawah. Meskipun sudah ada jaminan UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang bertujuan untuk mencegah alih fungsi lahan pertanian. Kementan melakukan upaya ekstensifikai dengan memperluas sawah.

Memperluas sawah melalui program cetak swah bukan sekadar urusan menambah hektare di peta. Tapi tentang menghidupkan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, dan menumbuhkanharapan. Program Cetak Sawah Baru dan Optimasi Lahan(Oplah) jadi langkah konkret untuk memperkuat basis produksi. Melalui Oplah, tata kelola air diperbaiki, lahan ditata, dan pola tanam dibuat lebih intensif. Tujuannya sederhana tapi strategis: meningkatkan produktivitas dan Indeks Pertanaman (IP).

Semakin tinggi IP, semakin sering berproduksi. Semakin sering lahan panen, semakin tebal kantong petani. Dan jika petani makmur, daya beli meningkat dan roda perekonomian bergerak.

Sebagai gambaran, berdasarkan data BPS, Produksi beras tahun 2019 sampai 2024 mengalami fluktuasi, 2019 produksi beras nasional mencapai 31,31 juta ton, meningkat 0,6 persen di tahun 2020 menjadi 31,50 juta ton, di tahun 2021 turun 0,44 persen menjadi 31,36 juta ton, naik lagi sekitar 0,57 persen di tahun 2022 menjadi 31,54 juta ton, turun lagi di tahun 2023 sekitar 2,03 persen menjadi 30,90 juta ton, dan di tahun 2024 kembali turun 1,71 persen menjadi 30,37 juta ton.

Produksi beras periode Januari–November 2025 menurut BPS diperkirakan mencapai 33,19 juta ton. Lembaga internasional pun mencatat tren serupa. FAO memperkirakan produksiIndonesia mencapai 35,6 juta ton, sementara USDA memproyeksikan 34,6 juta ton. Cadangan Beras Pemerintah(CBP) kini mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, menyentuh angka 4,2 juta ton per Juni 2025. Indonesia sudah bisa mengklaim Swasembada.

Setelah, urusan di hulu selesai, pemerintah mencoba melakukan intervensi di hilir melalui menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp 6.500/kg any quality. Naiknya HPP gabah ini disambut positif di berbagai daerah.Kebijakan ini menunjukkan keberpihakan dan penghargaan Pemerintah kepada petani agar terus bersemangat berproduksi. Selama ini, mereka adalah garda terdepan ketahanan pangan. Maka sudah sepatutnya mereka tidak terus-menerus berjuang dalam tekanan harga rendah. Lantas, apakah kebijakan HPP ini berdampak?. Tentu saja!. Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami peningkatan menjadi 124. Artinya, tingkat kesejahteraan petani pun terkerek.

Lantas, bagaimana respon public setelah Kementan bekerja sedemikian rupa agar sumber pangan tersedia?.Tak dipungkiri, era digital memudahkan masyarakat memantau dan mengikuti program pemerintah yang tengah dilakukan. Selain kritik tajam, apresiasi positif pun dipanen Kementan, , masyarakat memperhatian dan memberikan apresiasi positif terhadap kinerja sektor pertanian. Buktinya apa?.

Berdasarkan hasil Survei Litbang Kompas, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Kementan mencapai 71,5 persen. Satulagi, survei Strategic and Political Insight Network (SPIN) menempatkan Mentan Amran sebagai menteri berkinerja terbaik secara nasional dengan tingkat apresiasi 67,3 persen. Mentan Amran menempati posisi kedua setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

Eits, masih ada lagi. Prestasi pertanian Indonesia juga tembus panggung internasional. Dalam peringatan 80 tahun FAO di Roma, Indonesia menerima rekognisi global atas kontribusi dalam Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST).Penghargaan itu tidak main-main: Indonesia masuk dalam dua kategori Country-Level Recognition dan Institutional-Level Recognition. Pada tingkat institusi, Balai Besar InseminasiBuatan (BBIB) Singosari di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dinobatkan sebagai Centre of Excellence di bidang reproduksi ternak. BBIB Singosari menyuplai lebih dari 60 persen semen beku nasional, membuka ribuan lapangan kerja, serta melatih lebih dari 300 profesional dari 36 negara.

Setahun berlalu sejak Presiden Prabowo menyampaikan visinya tentang swasembada pangan. Kini, visi itu bukan lagi omon-omon. Ia sedang terjadi, di depan mata kita semua. Kementerian Pertanian, di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman, telah menunjukkan bahwa pertanian bukan sektor yang lamban, tapi sektor yang bisa berlari kencang bila diberi arah dan kepercayaan.

*ASN di Kementerian Pertanian

Berita terkait
PGN Dorong Digitalisasi Petani Karet Pagardewa, Pencatatan Hasil Panen Karet Makin Praktis dan Akurat
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung kesejahteraan petani Desa Pagardewa secara berkelanjutan.
Presiden Prabowo Subianto Lakukan Panen Raya Bersama Petani di 14 Provinsi di Majalengka
Di Kabupaten Majalengka, Presiden Prabowo akan melakukan panen raya padi bersama di Desa Randegan Wetan, Kecamatan Jati 7
Presiden Prabowo Ikut Panen di Majalengka, Petani Keluhkan Hama Tikus
Presiden Prabowo Subianto mengikuti acara panen rakyat di Desa Randegan Wetan, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.