OMG! Emiten Tambang Ini Rugi Rp 3,7 T Sebulan

Kinerja bisnis PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi salah satu emiten tambang yang terdampak dari terbitnya kebijakan pelarangan ekspor batu bara.
Sejumlah tongkang batu bara terlihat sedang antre di sepanjang Sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur, 31 Agustus 2019 (Foto: voaindonesia.com - REUTERS/Willy Kurniawan)

Jakarta - Kinerja bisnis PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi salah satu emiten tambang yang terdampak dari terbitnya kebijakan pelarangan ekspor batu bara dari Indonesia ke luar negeri.

Direktur Utama BYAN, Dato Low Tuck Kwong menegaskan, usahanya mengalami kerugian sebesar USD260 juta selama satu bulan pertama tahun 2022 yang dialami anak usahanya, yakni PT Bara Tabang, PT Fajar Sakti Sakti Prima, PT Firman Ketaun Perkasa, PT Teguh Sinarabadi dan PT Wahana Baratama Mining.

Saat ini pihak BYAN sendiri tengah melakukan pembicaraan dengan pelanggan batu bara perseroan untuk melakukan penjadwalan ulang atas pengiriman batu bara yang tidak dapat dikirimkan selama bulan Januari 2022.

”Anak usaha kami telah mengeluarkan pemberitahuan tentang keadaan kahar kepada pembeli batu bara-nya pada tanggal 13 Januari 2022,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Dijelaskan, larangan penjualan ekspor yang dilakukan oleh pemerintah tersebut disebabkan adanya laporan dari PT PLN perihal krisis pasokan batu bara untuk PLTU PLN dan IPP.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan kuartal I 2021, emiten batu bara itu membukukan pendapatan sebesar USD501,03 juta.

Dengan kehilangan pendapatan bulan Januari 2022 itu, setara 51,89%. Sebagai informasi, perseroan berhasil membukukan laba bersih dikuartal tiga 2021 sebesar USD650,32 juta atau melonjak 501,85% dibanding periode sama tahun 2020 sebesar USD108,22 juta.

Hasil itu membuat laba per saham dasar melambung menjadi USD 0,2. Sedangkan di akhir September 2020 berada pada USD0,03.

Sementara pendapatan perseroan naik 74,3% menjadi USD1,749 miliar.

Pendapatan itu disumbang dari penjualan batu bara senilai USD 1,745 miliar atau naik 74,84% secara tahunan. Tapi pendapatan selain batu bara turun 17,55% menjadi USD ,833 juta. Kemudian aset perseroan tumbuh 15,44% menjadi USD1,869 miliar.

Hal itu dipicu utang pajak penghasilan badan yang membengkak 677,7% menjadi US$ 140,95 juta. Bahkan, kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai US$ 843,87 juta, atau melonjak 200% dibandingkan kuartal III 2020, yang tercatat sebesar US$ 281,08 juta.

Untuk diketahui, Dato Low Tuck Kwong menguasai sebanyak 55,16% porsi saham BYAN, PT Sumber Surya Prima mengempit 10%, Engki Wibowo punya 5,96% dan sisanya dikuasai masyarakat.[]

Baca Juga:

Berita terkait
Ini Kata Luhut Soal Solusi Suplai Batu Bara PLN
Terkait solusi jangka menengah, Menko Luhut juga meminta tim lintas K/L menyiapkan solusi Badan Layanan Umum (BLU) untuk pungutan batu bara.
Jepang Protes RI Larang Ekspor Batu Bara, Ini Alasannya
Beberapa pembangkit listrik dan manufaktur Jepang masih mengandalkan pasokan batubara dari Indonesia sekitar 2 juta ton per bulan.
Strategi PLN Amankan Pasokan Batu Bara
PLN terus berupaya menjaga stabilitas pasokan energi primer khususnya batu bara agar dapat memenuhi standar minimal 20 HOP untuk seluruh PLN.
0
OMG! Emiten Tambang Ini Rugi Rp 3,7 T Sebulan
Kinerja bisnis PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi salah satu emiten tambang yang terdampak dari terbitnya kebijakan pelarangan ekspor batu bara.