Semarang - Anda sedang pulang kampung atau singgah di Semarang, Jawa Tengah? Jika iya, jangan lupa membawa salah satu kuliner unik ini sebagai oleh-oleh Lebaran.

Namanya kue moachi atau kebanyakan disebut mochi. Asalnya dari Jepang, menjadi camilan pelengkap warga setempat di perayaan tahun baru. Kue ini bertekstur lembut saat masuk ke mulut dan berubah kenyal saat dikunyah. Berbahan dasar beras ketan sehingga ada nuansa rasa gurihnya.

Kue mochi dikenalkan pedagang asing, khususnya Cina ke Nusantara. Makin populer di Indonesia saat masa pendudukan Jepang. Seiring waktu, di Semarang, kue ini telah mengalami penyesuaian dengan kearifan lokal tanpa meninggalkan jejak keasliannya.

"Sejarah lampau ceritanya dari Jepang, sekarang sudah diadaptasi di Asia Tenggara. Di Indonesia mulai dari Jawa Barat ada mochi dari Sukabumi yang packing-nya pakai besek, di Semarang sudah modern dengan pakai kotak dus," ungkap pemilik Toko Moaci Gemini Kentangan, Semarang Tengah, Dewi Puspawati, Jumat 7 Juni 2019.

Satu hal yang menjadi khas dari mochi Semarang adalah inovasi taburan wijen di permukaan kue. Tambahan wijen merupakan yang pertama kali di Indonesia. Itulah yang menjadi ciri khas mochi asal Kota Atlas.

"Ini yang membedakan moachi Semarang dengan kota lain, yakni adanya variasi taburan wijen sebagai balutan. Kalau dulu hanya dengan balutan tepung," ujar dia.

Kreasi taburan wijen merupakan hasil kreasi moyangnya. Dalam tradisi budaya Tiongkok, wijen merupakan rempah penghangat badan. Wijen juga jadi aroma pewangi agar dinikmati lebih gurih dan harum.

"Itu kan salah satu jajanan pasar, lalu dimodifikasi kasih wijen, sebagai pewangi dan penghangat badan saat dinikmati," jelas Dewi.

Di musim libur Lebaran tahun ini, kue mochi masih menjadi primadona untuk dibawa pemudik sebagai buah tangan. Kue tersebut bisa menjadi teman enak saat ngopi maupun ngeteh bersama keluarga di kampung. Atau jadi camilan lezat di perjalanan mudik atau balik Lebaran.

"Dapat kabar ada mochi enak di Semarang ini dari kawan di Bandung. Ya, mumpung lagi di Semarang, kami mampir ke sini beli mochi. Buat oleh-oleh, sekalian dicicipi saat di perjalanan," kata Harry, pemudik Kudus yang hendak balik ke Bandung.

Di Toko Oleh-Oleh Moaci Gemini Kentangan, Dewi merupakan generasi ke dua moaci Gemini Kentangan. Dewi hanya membuka outletnya yang sekaligus sebagai rumah leluhurnya yang ada di Jalan Kentangan Barat No 101, Semarang Tengah.

"Kami memang tidak membuka cabang, untuk jaga kualitas citra rasa. Tapi ada beberapa agen yang bantu penjualan. Seperti di pusat oleh-oleh, di Bandara Ahmad Yani, Stasiun Tawang dan kafe-kafe," tutur dia.

Hingga saat ini, sekitar 30 tahun, mochi Gemini Kentangan masih bertahan dan menjadi oleh-oleh pilihan para wisatawan atau pemudik. Tiap Lebaran tiba, para pemudik pasti mendatangi outlet Moachi Gemini.

Letak outlet di tengah perkampungan padat khas kawasan kota tidak menyurutkan pemudik memburu mochi. Malah banyak yang jadi pelanggan tetap lantaran sudah paham rasa.

"Pemudik ada dari Jawa Barat, Jakarta, Bandung, Jawa Timur, Surabaya ke sini. Kami juga banyak saling kenal sama pelanggan pemudik tersebut karena sudah datang berkali-kali saat mudik Lebaran," sambung dia.

Aneka varian filling (isian) di dalam mochi bisa menjadi pilihan sesuai selera. Tak hanya rasa original moachi berisi kacang, kini moaci Gemini Kentangan ada isi red been, durian, cokelat, green tea, dan strowbery. Dengan harga mulai dari Rp 23 ribu sampai Rp 25 ribu per kotak.

"Pilihan moaci original ada jumlah isi 25 biji harga Rp 45 ribu, isi 16 harga Rp 30 ribu, dan isi 10 biji harga Rp 19 ribu," katanya.

Untuk pemudik atau wisatawan, tak usah khawatir tidak kebagian moaci Gemini Kentangan. Saat momen Lebaran seperti saat ini, Dewi menyediakan tiga sampai lima kali stok dari hari biasanya.

"Stok setiap hari bisa 100 dus tiap varian, kalau Lebaran bisa tiga sampai lima kali persediaan. Mulai ramai sejak H-7 sampai nanti H+7," pungkas dia. []

Artikel lainnya: