UNTUK INDONESIA
Nasib Karyawan dan Satwa Semarang Zoo di Pandemi
Pandemi corona membuat pengelola Semarang Zoo kelimpungan untuk membiayai pakan dan obat satwa peliharaannya. Puluhan karyawan juga dirumahkan.
Pandemi corona berdampak pada operasional Semarang Zoo. Puluhan karyawan dirumahkan dan ratusan satwa menunggu bantuan makanan, obat-obatan dari masyarakat. (Foto: Tagar/Yulianto)

Semarang - Operasional Semarang Zoo benar-benar terdampak pandemi Covid-19. Objek wisata yang dikenal dengan sebutan Kebun Binatang (Bonbin) Mangkang ini terpaksa merumahkan puluhan karyawan dan menggantungkan donasi untuk bisa memberi makan ratusan satwa.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Indriyasari mengatakan saat ini dilakukan penutupan sementara di sejumlah tempat wisata guna mencegah penyebaran virus corona. , Tidak hanya tempat hiburan dan objek wisata yang dikelola swasta, penutupan juga menyasar objek wisata pelat merah.

Kebijakan penutupan ini menaati Peraturan Wali Kota Semarang (Perwal) Nomor 28 Tahun 2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) yang berlaku mulai 27 April 2020 sampai 24 Mei 2020. Sehingga seluruh kegiatan yang berpotensi terjadi kerumunan warga dibatasi, termasuk Semarang Zoo.

Sejak pandemi corona, sekarang tinggal 32 karyawan yang masih aktif masuk, termasuk para keeper yang tiap hari harus merawat satwa.

Kondisi demikian, diakui Indriyasari, berimbas pada nasib sejumlah pegawai, pekerja hiburan hingga pelaku usaha di lingkungan objek wisata. Membantu meringankan beban hidup mereka, Pemerintah Kota Semarang telah memberi bantuan sembako.

"Untuk karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan saat ini kami sudah menyalurkan bantuan. Baik pekerja sektor informal, seperti pelaku UMKM, pelaku seni dan budaya serta lainnya. Bantuan itu berupa sembako," kata Iin, sapaan Indriyasari, Senin, 4 Mei 2020.

Terpisah, Manager Keuangan, Personalia dan Operasional Semarang Zoo Acti Evan Anthadona menuturkan pihaknya terpaksa merumahkan 21 karyawan dari total sebanyak 53 karyawan. 

"Sejak pandemi corona, sekarang tinggal 32 karyawan yang masih aktif masuk, termasuk para keeper yang tiap hari harus merawat satwa," ujarnya.

Sementara untuk operasional Semarang Zoo, Evan tidak menampik ketiadaan pemasukan dari tiket imbas penutupan tempat wisata membuat pihaknya harus berkreatif di sumber pendanaan.

"Selama ini untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan operasional mengandalkan dari pendapatan tiket masuk. Dengan adanya penutupan sementara seperti saat ini otomatis tidak ada pemasukan, padahal kebutuhan untuk biaya operasional dan pakan satwa jalan terus," tutur dia.

Apalagi, semenjak status Bonbin Mangkang berubah menjadi badan usaha milik daerah (BUMD), dari sebelumnya merupakan unit pelaksana teknis dinas (UPTD), pihaknya tidak lagi mendapatkan suntikan dana dari APBD.

"Padahal di dalam taman satwa seluas sekitar delapan hektare ini, ada lebih dari 200 satwa yang harus dipenuhi kebutuhan pakan serta tambahan gizi tiap harinya," katanya.

Evan menyebut pengeluaran untuk pakan dan gizi satwa koleksi di Semarang Zoo mencapai Rp 120 juta per bulan. "Setiap hari, kami harus memberikan pakan berbagai jenis seperti daging sapi, daging ayam, rumput, buah-buahan, sayur-sayuran, ketela dan pakan tambahan lainnya untuk asupan gizi satwa," terang Evan.

Karenanya, Semarang Zoo melakukan langkah penggalangan dana untuk memenuhi kebutuhan tersebut. "Kami tetap berusaha untuk memenuhi seperti biasanya, dengan cara menggalang bantuan, harapannya dengan adanya donasi ini dapat menekan pengeluaran biaya perusahaan," ucapnya.

Penggalangan dana untuk pakan ternak ditujukan kepada siapapun yang berniat membantu. Bisa dari perusahaan, komunitas pecinta hewan hingga masyarakat umum. Mereka dapat menyumbangkan bantuan donasi, makanan ataupun obat untuk satwa.

"Kami juga telah membuat surat resmi permohonan bantuan PT Taman Satwa Semarang, tertanggal 2 Mei 2020. Di dalam surat tersebut berisi permintaan bantuan dengan dilampirkan jenis satwa koleksi yang ada serta kebutuhan makanan dan obatnya," kata dia.

Jika masyarakat ingin memberikan bantuan tersebut bisa menghubungi pengelola dan ataupun bisa mengantarkan langsung bantuan ke Semarang Zoo, terbuka selama 24 jam.

Evan menambahkan sebelum pandemi, pendapatan sampai bulan Maret 2020, rata-rata Rp 580 juta per bulan. "Kami cukup terbantu dengan adanya event Tahun Baru tanggal 1 Januari 2020 kemarin," ucap dia. []

Baca juga: 

Berita terkait
Es Degan Pak Ambon, dari Krismon ke Pandemi Covid-19
Es degan Pak Ambon menjadi bukti usaha kecil di Semarang yang mampu melewati tantangan krismon 1998 hingga pandemi Covid-19.
Keringanan Retribusi untuk Pedagang Semarang
Pemkot Semarang membebaskan retribusi untuk PKL dan memberi diskon 50 % retribusi pedagang pasar.
Curhatan Emak Pedagang Pasar Tradisional di Semarang
Pandemi corona membuat omzet usaha kecil di Kota Semarang terjun bebas. Seperti apa keluhan mereka?
0
Nasib Karyawan dan Satwa Semarang Zoo di Pandemi
Pandemi corona membuat pengelola Semarang Zoo kelimpungan untuk membiayai pakan dan obat satwa peliharaannya. Puluhan karyawan juga dirumahkan.