UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Musuh Kita Virus Corona Bukan yang Tertular Corona
Ketakutan terhadap wabah virus corona dikait-kaitkan dengan ras dan negara asal wabah, padahal yang jadi musuh adalah virus corona
Staf memeriksa suhu pelanggan di pintu masuk pusat perbelanjaan di Yangon, Myanmar. (Man Yi/news.un.org).

Oleh: Syaiful W. Harahap

Unjuk rasa warga Natuna, Kepulauan Riau, menolak wilayahnya jadi tempat observasi WNI yang dievakuasi dari Wuhan, China, menunjukkan salah satu bentuk ketakutan publik terhadap virus corona (COVID-19). Yang dihindari adalah penularan virus corona bukan orang-orang yang datang dari daerah wabah.

Padahal, tempat observasi 285 yaitu WNI dan penjemput dari Wuhan, kota yang jadi awal wabah virus corona, dibuat di hanggar Lanud Raden Sadjad, Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau. Mereka akan diobservasi di sana selama 14 hari usai terisolasi di daerah wabah virus corona.

Sampai tanggal 25 Februari 2020 secara global kasus virus corona yang dikonfirmasi sebanyak 81.109 dengan 2.761 kematian yang tersebar di 36 negara di luar China. Kasus baru terus terkonfirmasi, seperti di Italia dan negara-negara di Timur Tengah. Laporan Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) menyebutkan sejak wabah COVID-19 muncul di Wuhan, China, muncul stigmatisasi (pemberian cap buruk) terhadap etnis dan negara. Ini merupakan stereotip (KBBI: konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat).

Di beberapa negara ada ketakutan terhadap etnis asal wabah virus corona, bahkan ada yang membawa tulisan “I am not a virus”. Stigmatisasi berpotensi membuat epidemi virus corona lebih parah terhadap kesehatan masyarakat sehingga sulit mengendalikan penyebaran virus corona. Tidak ada kaitan wabah virus corona dengan etnis dan negara karena virus itu bisa menginfeksi semua etnis yang berdiam di negara di luar China.

Bahkan, ketika penemuan kasus baru mulai turun di China di luar China justru infeksi virus corona mulai merebak. Di kawasan Timur Tengah, misalnya, Iran disebut sebagai hot spot wabah virus corona. Kasus di Iran sampai 27 Februari 2020 dilaporkan 95 kasus yang dikonfirmasi dengan 15 kematian. Arab Saudi sendiri menangguhkan visa umrah dan wisata, termasuk wisata religi.

ilus opini 2Orang-orang memakai masker di Bandara Internasional Chengdu Shuangliu, China. (Foto: Jing Zhang/ news.un.org).

Di Amerika Serikat risiko penyebaran virus corona rendah. Ini terjadi karena langkah cepat yang dilakukan oleh negara itu dalam menanggapi wabah virus corona. Tapi, dikabarkan banyak orang Amerika yang justru takut dan cemas jika melihat orang China atau orang Amerika keturunan Asia. Padahal, virus corona tidak menyerang target tertentu dari aspek populasi, etnis dan latar belakang ras.

Ini terjadi karena banyak orang yang mengait-ngaitkan COVID-19 dengan etnis atau bangsa tertentu,dalam hal ini China. Padahal, tidak semua orang berisiko terhadap virus corona, seperti orang Amerika atau Amerika keturunan China dan Asia yang tinggal di Amerika atau Eropa. Stigma seperti ini menyakitkan dan mendorong kebencian dan ketakutan terhadap orang-orang yang dikait-kaitkan dengan daerah wabah virus corona. Stigma yang dikaitkan dengan ras dan negara akan mendorong xenophobia yaitu ketakutan terhadap atau ketidaksukaan terhadap orang-orang dari ras atau bangsa tertentu. Sikap ini bersifat irasional.

Orang-orang pernah berkunjung ke China setelah wabah merebak tapi dalam 14 hari tidak menunjukkan gejala terinfeksi virus corona, maka kontak dengan mereka tidak akan menyebabkan tertular virus corona. Hal ini juga yang perlu diperhatikan terhadap orang-orang yang dengan berbagai alasan kemanusiaan pergi ke pusat wabah. Ketika mereka pulang dan dalam 14 hari tidak ada gejala, maka tidak ada alasan untuk menjauhi mereka.

Dari aspek kesehatan masyarakat hal ini justru menimbulkan masalah baru, seperti mendorong orang-orang yang tertular virus corona menyembunyikan diri. Ini membuat penyebaran virus tidak bisa ditangani.

Untuk itulah sangat penting menjaga privasi dan kerahasiaan orang-orang yang berobat terkait dengan virus corona. Termasuk juga orang-orang terkait dengan upaya mencari orang-orang yang pernah mengadakan kontak dengan seorang yang tertular virus corona perlu dijaga kerahasiaannya.

Meningkatkan kesadaran untuk mencegah penularan virus corona adalah penting, tapi tidak dalam bentuk yang menakutkan. Untuk itu informasi tentang virus corona harus disampaikan secara objektif sesuai dengan fakta medis. 

ilus opini 3Seorang lelaki Asia yang tinggal di sebuah hotel di Australia terpaksa memakai kaus dengan slogan "Aku bukan virus" setelah penyebaran virus corona. (Foto: internewscast.com)

Begitu juga dengan penyebaran informasi palsu (hoax), terutama di media sosial, perlu dilawan agar tidak mendorong stigma terhadap etnis atau bangsa tertentu terkait dengan virus corona. Selain itu hoax juga harus dilawan agar tidak menyuburkan ketakutan terhadap virus atau terhadap orang-orang yang terkait langsung dengan virus corona.

Dukungan sosial kepada orang-orang yang dikaitkan dengan wabah jadi bagian dari upaya melawan stigma dan memupus ketakutan yang berlebihan terhadap etnis atau bangsa yang terkait dengan virus corona. Yang jadi musuh ada virus corona agar tidak menular bukan orang-orang yang tertular virus corona dan etnis serta bangsa yang terkait langsung dengan wabah virus corona. []

Berita terkait
Pakistan Laporkan Dua Warga Pasien Virus Corona
Pakistan pada Rabu, 26 Februari 2020, membenarkan dua kasus pertama virus corona pada pasien yang baru saja pulang dari Iran
Tangkal Corona Arab Saudi Tangguhkan Visa Umrah
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menangguhkan pemberian visa umrah dan visa wisata dari negara wabah virus corona untuk tangkal virus corona
Gempar, Pasien Virus Corona Melarikan Diri di China
Militer, kepolisian dan petugas medis dalam skala besar dikerahkan untuk menjaga kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.
0
Ratusan Ojol dan Debt Collector Bentrok di Sleman
Ojol dan DC bentrok di sekitar Kantor Grab Yogyakarta. Kedua belah pihak saling lempar batu.