Misinformasi Marak Kasus Covid-19 di Amerika Naik 3 Kali Lipat

Kasus Covid-19 di AS meningkat tiga kali lipat dalam dua minggu terakhir ini di tengah-tengah gencarnya salah informasi vaksin Covid-19
Para pengunjung menikmati minuman di bar yang baru dibuka kembali setelah lockdown Covid-19 di Sunset Boulevard di Los Angeles, AS, 7 Juli 2021 (Foto: voaindonesia.com - Damian Dovarganes/AP)

Jakarta – Kasus Covid-19 di Amerika Serikat (AS) meningkat tiga kali lipat dalam dua minggu terakhir ini di tengah-tengah gencarnya salah informasi (misinformation) tentang vaksin Covid-19 yang membuat rumah sakit mulai kewalahan, melelahkan para dokter dan mendorong tokoh-tokoh agama kini bersuara.

“Staf kami, mereka frustrasi,” ujar Chad Neilsen, Direktur Pencegahan Penularan Penyakit di UF Health Jacksonville, sebuah rumah sakit di Florida. UF Health Jacsonville terpaksa membatalkan operasi dan prosedur elektif lain setelah melonjaknya jumlah pasien yang umumnya belum divaksinasi Covid-19 di dua kampus, dari 16 kasus pada pertengahan Mei lalu menjadi 134 kasus.

“Mereka lelah. Mereka pikir ini seperti deja-vu, dan ada kemarahan, karena kita tahu ini situasi yang umumnya dapat dicegah. Namun, orang-orang tidak memanfaatkan vaksin.” Ujar Neilsen.

John Hopkins Universitasy mencatat di seluruh Amerika Serikat (AS), rata-rata kasus harian baru selama dua minggu terakhir melesat dari kurang 13.700 kasus pada 6 Juli lalu menjadi lebih dari 37.000 kasus.

Sejumlah pejabat kesehatan menyalahkan varian Delta dan lambatnya laju vaksinasi sebagai penyebab lonjakan itu.

Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control/CDC), hanya 56,2% warga AS yang telah mendapatkan sedikitnya satu dosis vaksin.

1. Kalangan Muda

Di Louisiana, pejabat-pejabat kesehatan, 21 Juli 2021, melaporkan 5.388 kasus baru Covid-19 atau yang kasus harian baru ketiga tertinggi sejak mulai merebaknya virus mematikan ini pada Maret 2020. Jumlah layanan rawat inap di rumah sakit di seluruh AS uga naik, dari 600 pada pertengahan Juni, menjadi 844 kasus.

Brenda VargasBrenda Vargas, 14 tahun, menerima suntikan vaksin Covid-19 dari Pfizer di di sebuah klinik di Los Angeles, AS, 16 Juli 2021 (Foto: voaindonesia.com/AP)

Utah melaporkan 295 orang dirawat di rumah sakit karena virus ini, yang tertinggi sejak Februari lalu. Seminggu terakhir ini negara bagian itu memiliki rata-rata sekitar 622 kasus per hari atau sekitar tiga kali lipat dibanding penularan pada titik terendah awal Juni lalu. Data kesehatan menunjukkan lonjakan umumnya terjadi pada orang-orang yang tidak divaksinasi

“Ini seperti melihat kecelakaan mobil sebelum terjadi,” ujar Dr. James Williams, seorang profesor klinis kedokteran darurat di Texas Tech, yang baru-baru ini mulai merawat lebih banyak lagi pasien Covid-19.

“Tidak ada di antara kami yang ingin mengalami hal ini lagi," imbuhnya.

Ditambahkannya, sebagian besar pasien Covid-19 kali ini adalah mereka yang berusia 20, 30 dan 40 tahunan, dan tidak divaksinasi.

2. Tokoh Agama Bergerak

Sebagai pendeta utama di salah satu gereja terbesar di Missouri, Jeremy Johnson telah mendengar alasan mengapa sebagian jemaahnya tidak ingin divaksinasi COVID-19. Ia ingin mereka tahu bahwa vaksinasi tidak saja OK, tetapi juga dianjurkan dalam Alkitab.

“Saya pikir ada pengaruh ketakutan yang besar,” ujar Johnson yang gerejanya berkantor di Springfield dan memiliki kampus di Nixa dan lainnya di Republik.

“Ketakutan untuk mempercayai sesuatu selain yang berasal dari kitab suci, ketakutan untuk mempercayai sesuatu selain dari partai politik yang lebih nyaman mereka ikuti. Takut mempelajari sains. Kami mendengar 'saya percaya pada Tuhan, bukan sains.' Namun, yang benar adalah sains dan Tuhan bukan sesuatu yang harus Anda pilih,” paparnya.

iklan berisi imbauan vaksinasi Covid-19 di new yorkSebuah papan iklan berisi imbauan agar masyarakat segera vaksinasi Covid-19 di kawasan Brooklyn, yang mengalami kembali lonjakan kasus virus corona, New York, AS, 13 Juli 2021 (Foto: voaindonesia.com/Getty Images via AFP)

Kini banyak gereja di bagian barat daya Missouri, seperti Assembly of God yang berafiliasi dengan North Point Church membuka klinik-klinik vaksinasi.

Sekitar 200 pemimpin gereja juga telah menandatangani pernyataan yang menyerukan kepada umat Kristiani untuk divaksinasi, dan Rabu, 21 Juli 2021, mengumumkan kampanye layanan publik lanjutan.

Menurut laporan Pew Research Center pada 2019, kelompok yang menentang kuat vaksinasi umumnya adalah warga Evangelis-Protestan, yang mencakup lebih dari sepertiga warga Missouri.

Sementara itu Wali Kota New York Bill de Blasio, 21 Juli 2021, mengatakan para pekerja di rumah sakit dan klinik kesehatan yang dikelola pemerintah kota itu disyaratkan untuk divaksinasi atau diuji Covid-19 setiap minggu.

Aturan itu dikeluarkan ketika pejabat-pejabat kota itu kembali berjuang mengatasi lonjakan kasus. Perintah itu tidak berlaku untuk guru, polisi dan pegawai negeri sipil kota itu, tetapi merupakan bagian dari fokus untuk meningkatkan laju vaksinasi di tengah perebakan varian Delta (em/lt)/Associated Press/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Biden Klarifikasi Komentarnya Soal Misinformasi di Facebook
Biden katakan perusahaan-perusahaan itu seharusnya tidak menganggap pernyataannya sebagai serangan “secara pribadi”
Twitter Akan Tindak Cuitan Misinformasi Vaksin Covid-19
Pihak Twitter mengatakan telah mulai menandai cuitan yang berisi informasi menyesatkan tentang vaksin virus corona (Covid-19)
Biden Sebut Ada Media Sosial Jadi Pembunuh Terkait Covid-19
Biden sebut media sosial itu "membunuh orang-orang" dengan membiarkan misinformasi tentang vaksin Covid-19 merajalela
0
Misinformasi Marak Kasus Covid-19 di Amerika Naik 3 Kali Lipat
Kasus Covid-19 di AS meningkat tiga kali lipat dalam dua minggu terakhir ini di tengah-tengah gencarnya salah informasi vaksin Covid-19