UNTUK INDONESIA
Merger Bank Syariah BUMN, Harga Wajar BRIS Cuma Rp 781/Unit
Nilai wajar efek bersifat ekuitas PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) dalam merger bank syariah BUMN adalahj Rp 781,29 per saham.
BRI syariah. (Foto: https: brisyariah.co.id)

Jakarta -  Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), Suwendho, Rinaldy dan Rekan menyebutkan bahwa nilai wajar efek bersifat ekuitas PT Bank BRI Syariah Tbk dalam merger bank syariah BUMN adalah sebesar Rp781,29 per saham. Hal itu, berdasarkan rancangan pengabungan usaha atau merger Bank BRISyariah (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah dalam pengumuman Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kamis, 22 Oktober 2020.

Dalam pengumuman itu disebutkan bahwa setiap pemegang saham minoritas dari BRIS yang tidak setuju terhadap keputusan rapat umum pemegang saham terkait penggabungan akan diberikan kesempatan untuk meminta sahamnya dibeli oleh BRI dan/atau pihak lain yang akan ditunjuk oleh BRI dengan harga Rp781,29  per saham. Ini  merupakan nilai pasar wajar BRIS sebagaimana dinilai oleh KJPP Suwendho, Rinaldy dan Rekan.

” Harga wajar itu akan digunakan untuk membeli dari pemegang saham minoritas BRIS yang tidak setuju terhadap keputusan pengabungan BRIS, Bank Syariah Mandiri dan Bank BNI Syariah,” tulis pengumuman KSEI, seperti dikutip dari emitennews.com.

Selanjutnya, bagi pemegang saham minoritas BRIS yang berhak untuk dibeli sahamnya oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI adalah yang tercatat dalam daftar pemegang saham (DPS) tanggal 19 November 2020. Ada pun pembayaran hasil penjualan saham BRIS tersebut akan diterima pemegang saham tanggal 5 Maret 2021.

Sedangkan jadwal rencana pengabungan bank syariah BUMN itu, tanggal 19 November 2020, menjadi penentuan daftar pemegang saham (DPS) yang berhak mengikuti rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) tanggal 15 Desember 2020.

Diharapkan, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) memberi pernyataan efektif rencana pengabungan bank syariah BUMN pada tanggal 25 November 2020. Terakhir, pengabungan ini diharapkan efektif tanggal 1 Februari 2021.

Sebelumnya diberitakan bahwa bank hasil penggabungan akan tetap menjadi perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ticker code BRIS. Komposisi pemegang saham pada bank syariah hasil penggabungan adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) 51,2 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) 25 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,4 persen, DPLK BRI – Saham Syariah 2 persen dan publik 4,4 persen. Struktur pemegang saham tersebut adalah berdasarkan perhitungan valuasi dari masing-masing bank peserta penggabungan.

Dokumen ringkasan rencana merger telah disampaikan kepada seluruh regulator terkait baik regulator pasar modal dan perbankan. Tahapan dan proses-proses selanjutnya akan sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan regulasi dan perundang-undangan yang berlaku. 

Hery Gunardi, Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN yang juga  Wakil Direktur Utama Bank Mandiri mengatakan seluruh proses dan tahapan-tahapan setelah ringkasan rencana merger tersebut akan terus dikawal hingga tuntasnya integrasi ketiga bank peserta penggabungan.  Integrasi ini lebih dari sekadar corporate action. Mengawal dan membesarkan bank syariah terbesar di negeri ini merupakan amanah yang besar. []


Berita terkait
Alasan Bank BTN Syariah Tidak Ikut Dimerger
Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menilai BTN Syariah tak ikut dimerger karena masih berupa Unit Usaha Syariah dari Bank BTN.
Merger dan Sejarah Lahirnya Bank Syariah di Indonesia
Kementerian BUMN menyiapkan skema penggabungan usaha atau merger tiga bank syariah BUMN, yakni Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, dan BNI Syariah.
Analisa Yusuf Mansur Soal Merger Bank Syariah
Tentang merger tiga Bank Syariah, sebagai pemegang saham BRIS, Yusuf Mansur menganalisa sahamnya akan terdilusi.
0
Pria Botak di Sumut Diancam 15 Tahun Penjara, Ini Kasusnya
Pria botak di Deli Serdang, Sumatera Utara, nodai adik ipar. Penjara 15 tahun menantinya.