UNTUK INDONESIA
Merawat UMKM, Cara Pertamina Mendukung Ekonomi Kerakyatan
UMKM binaan Pertamina didorong produktif di masa pandemi agar ekonomi masyarakat terus tumbuh, meski dalam keadaan sulit.
Sulaman tangan yang dirawat perajin Sulaman Putri Ayu, UMKM binaan Pertamina di Bukittinggi. (Foto: Tagar/Dok.Istimewa)

Padang - Pandemi Covid-19 nyaris melumpuhkan semua sektor perekomian masyarakat. Namun, eksistensi sejumlah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Sumatera Barat (Sumbar) tetap masih terjaga, meski pendapatannya merosot tajam dibanding hari-hari sebelumnya.

Salah satu UMKM yang tetap menggeliat di tengah wabah virus corona adalah Sulaman Putri Ayu di Pasar Ateh, Kota Bukittinggi. Produksinya tetap berjalan. Hanya saja, keinginan pemilik untuk membuka cabang tertunda gara-gara menurunnya omzet sejak pandemi Covid-19.

"Rencana mau buka cabang. Tapi karena pandemi, orang-orang jarang belanja," kata pemilik usaha Sulaman Putri Ayu, Desi Oktavia, memulai perbincangan dengan Tagar.id, Senin, 17 Oktober 2020.

Perempuan 46 itu mengisahkan, toko sulaman itu milik turun temurun yang lahir sekitar tahun 80-an. Ibundanya, Mislaili yang merintis awal usaha tersebut. "Dulu itu, ibu jahit sendiri, jualnya dititik di toko kain orang," katanya.

UMKM yang menjadi mitra binaan Pertamina juga mendapatkan pengembangan usaha melalui pelatihan dan promosi pemasaran.

Berangsur-angsur, sulamannya pun mulai mendapat tempat dihati para pemesan. Banyak konsumen yang kemudian mencari pembuat sulaman itu untuk memesan dalam jumlah tertentu. "Nah, karena permintaan sudah mulai banyak, orang tua berfikir untuk membuka toko sendiri dan inilah yang ada hari ini," tuturnya.

Sebelum krisis moneter, kata Desi, harga pakaian jadi sulamannya hanya berkisar Rp 50 ribu. Namun hari ini, harga satu style sulamannya bisa tembus Rp 1,5 juta atau rata-rata paling rendah Rp 600 ribu. Menurutnya, tinggi-rendahnya harga sulaman tergantung dengan tingkat kesulitan motifnya sendiri.

Sulaman Putri Ayu menjual beragam produk dengan desain sendiri. Mulai dari pakaian pengantin, selendang, mukena, sendal dan sebagainya. Motif unggulannya antara lain, sulaman suji kaia, kapalo samek, terawang, dan sulaman kerancang. "Saya tetap turun tangan untuk menyulam. Pengerjaannya lama karena menyulam kan dengan ketelitian tangan," katanya.

Selain peminat lokal di Sumatera Barat, pemesan sulamannya kini juga banyak datang dari Jakarta. Nama sulamannya semakin dikenal sejak menjadi mitra binaan Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I. "Alhamdulillah. Kalau untuk pemasaran sudah sering ke Jakarta. Ini tidak terlepas dari promosi yang dibantu Pertamina," katanya.

Sulaman milik Desi mulai menjadi mitra binaan Pertamina sejak tahun 2018. Setahun bergabung, Sulaman Putri Ayu langsung berpartisipasi di ajang International Handicraft Trade Fair (Inacraft) pada April 2019 di Jakarta. Sebuah kesempatan emas yang jarang dinikmati UMKM dari Ranah Minang. Apalagi, pameran Inacraft itu dibuka langsung Presiden Joko Widodo dan dihadiri oleh ratusan ribu orang.

Menurut Desi, Pertamina memberikan ruang promosi yang justru di luar ekspektasi para pelaku UMKM. Baginya, pameran Inacraft merupakan ajang bergengsi yang sangat berpotensi meningkatkan sasaran pemasaran. Bahkan ketika itu, omzet usahanya tembus hingga ratusan juta rupiah.

"Pertamina betul-betul memberi ruang untuk mempromosikan diri, bahkan di pameran paling bergengsi. Branding produk ini bagian yang paling mahal dan lama untuk dijalani. Dan saya bersyukur bisa menjadi bagian UMKM yang dipromosikan Pertamina," katanya.

Saat ini, kata Desi, omzetnya usahanya memang mengalami penurunan hingga angka 50 persen. Semua tidak terlepas dari pandemi Covid-19 yang masih berlangsung di tanah air. Apalagi, Sumbar termasuk daerah yang angka positif corona-nya terus mengalami penambahan positif hingga hari ini.

"Biasanya pesanan baju pengantin banyak, sekarang kan masih dilarang pesta. Baju wisuda juga, sekarang kuliah online. Begitu juga baju pegawai yang kini juga banyak bekerja dari rumah. Intinya sangat terganggu karena pandemi ini," kata Desi yang enggan menyebutkan angka omzetnya per bulan.

Desi tak pernah mengeluh di tengah kesulitan pasar penjualan produk sulaman. Dia mengaku akan terus berdagang dan memproduksi pakaian hingga masa-masa sulit ini terlewati. Baginya, menyulam tak sekadar untuk mencari hidup, namun juga merawat tradisi agar tak hilang ditelan zaman. "Sekarang karyawan saya sekitar 25 orang dan itu rata-rata bekerja dan menyulam di rumah masing-masing," katanya.

SulamSulaman Putri Ayu di Kota Bukittinggi yang menjadi salah satu UMKM binaan Pertamina. (Foto: Tagar/Dok.Istimewa)

Saat ini, kata Desi, minat belajar menyulam gadis dan ibu rumah tangga (IRT) sangat rendah. Setiap tahun pemerintah daerah memberikan pelatihan, tapi peminatnya hanya satu dan dua orang. "Padahal ini budaya kerajinan yang harus kita jaga. Saya akan berupaya terus merawat sulaman," katanya.

Dia berharap Pertamina terus memberikan perhatian kepada pelaku UMKM. Sebab, banyak pelaku usaha potensial yang justru tersendat karena masalah biaya dan dukungan promosi. "Semoga jaringan mitra binaan Pertamina semakin banyak. Selain membantu, dukungan Pertamina juga membangkitkan semangat untuk terus berkarya," tuturnya.

Bantuan Modal Usaha

Selain membesarkan UMKM dengan ruang promosi hingga ke tingkat nasional, Pertamina juga mendorong pelaku usaha untuk terus tumbuh dengan sokongan modal usaha. Manfaat bantuan modal ini dirasakan betul oleh seorang petani serai wangi (citronella oil) asal Kabupaten Pesisir Selatan.

Namanya Khadir Pamangku Malin Rahim, 52 tahun. Dia mengaku telah menekuni budidaya serai wangi sejak tahun 2017. Namun, usahanya kian melonjak setelah mendapat sentuhan dan modal usaha dari Pertamina.

"Alhamdulillah, kelompok tani kami menjadi binaan Pertamina sejak 2018. Kami dibantu modal usaha yang cukup meringankan. Sebab, bunganya hanya 0,2 persen," katanya.

Budidaya serai wangi ini bernaung di bawah kelompok tani Talang Jaya yang berlokasi di Lunang Silaut, Pesisir Selatan dengan jumlah anggota 25 orang. Semula, jumlah lahannya baru sekitar 2 hektare. Setelah disokong bantuan modal Pertamina, luas areal pertanian serai wangi kelompok tani yang diketuai Khaidir itu kini mencapai 6 hektare.

"Kami betul-betul bersyukur bisa menjadi mitra binaan Pertamina. Kalau tidak, darimana modal pengembangan yang jumlahnya cukup besar," katanya yang enggan menyebutkan besaran modal pinjaman itu.

Hanya saja, kata Khadir, produksi serai wanginya tidak berjalan efektif sejak sekitar 5 bulan terakhir atau sejak pandemi corona merebak di Indonesia. Kondisi ini dipicu rendahnya harga jual minyak serai wangi. Biasanya, satu kilogram minyak serai wangi itu dihargai Rp 350 ribu. Sedangkan hari ini, harganya berkisar di Rp 150 ribu.

"Kalau dipaksakan bisa rugi. Upah saja tidak dapat. Sulingan minyak serai kami baru bisa menampung 200 kilogram, masih kecil. Makanya bisa berjalan baik kalau harga stabil," katanya.

Serai wangiPetani serai wangi di Pesisir Selatan yang menjadi UMKM binaan Pertamina. (Foto: Tagar/Dok.Istimewa)

Menurut ayah empat orang anak itu, budidaya serai wangi sangat tidak rumit. Sebab, usia serai wangi mencapai puluhan tahun. Selama tujuh bulan setelah ditanam, serai wangi bisa langsung dipanen. Setelah itu, panennya satu kali per tiga bulan. "Hanya untuk yang pertama kita beli bibit, setelah itu kita bisa jual bibit," katanya.

Khadir mengatakan, salah satu yang membuat Pertamina tertarik membantu petani serai wangi ini adalah karena peluang bisnis dan kesejahteraan untuk petani cukup terbuka lebar. Sehingga, usaha tani di Pesisir Selatan tidak bicara sawit dan gambir. "Pasaran serai wangi ini ke luar negeri. Potensi petani berkembang sangat terbuka, makanya Pertamina bersedia membina kami," katanya.

Dia berharap, Pertamina terus memberikan dukungan kepada pelaku usaha, baik di bidang pertanian maupun perdagangan. Sebab, keberadaan UMKM di daerah secara otomatis membuka lapangan pekerjaan. Seperti budidaya serai wangi ini misalnya, setiap pekan memerlukan orang untuk merawat, begitu juga ketika panen.

"Dengan mendukung UMKM di daerah ini, Pertamina sama saja memberikan peluang kerja bagi masyarakat. Dukungannya menyentuh ekonomi kerakyatan dan kami petani merasakannya," katanya.

Inovasi di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 tidak menghalangi Pertamina untuk terus memberikan dorongan dan menciptakan peluang bagi UMKM agar terus produktif bangkit dari keterpurukan ekonomi secara nasional. Salah satu caranya dengan memberikan bantuan modal dan mengalihkan UMKM untuk memproduksi masker yang memang sangat dibutuh di era new normal.

Pertamina memastikan selalu siap mendukung pelaku UMKM di Sumatera Barat untuk tetap tumbuh di masa pandemi corona. Hal itu dilakukan melalui program kemitraan Pertamina yang memberikan bantuan permodalan bergulir lunak dan pengembangan usaha.

"Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan UMKM menjadi tangguh dan mandiri,” kata Unit Manager Communication & CSR MOR I, Roby Hervindo dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 25 September 2020.

Menurutnya, akhir Mei 2020, pihaknya menyalurkan permodalan bergulir bagi UMKM Ambun Suri, Seru Advertising dan Keripik Mami dengan nilai total Rp 430 juta. Program itu memberikan modal bergulir hingga Rp 200 juta, dengan masa tenor 3 tahun dan biaya administrasi tahunan sebesar 3 persen.

Ambun Suri sendiri merupakan UMKM yang bergerak di bidang sulaman, sama dengan Putri Ayu. Bedanya, Ambun Suri sudah menjadi mitra binaan Pertamina sejak 2015, sedangkan sulaman Putri baru sejak 2018. Keduanya juga sama-sama berada di Kota Bukittingggi.

"UMKM yang menjadi mitra binaan Pertamina juga mendapatkan pengembangan usaha melalui pelatihan dan promosi pemasaran," katanya.

PertaminaUnit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I, M Roby Hervindo. (Foto: Dok. Tagar/Rina Akmal)

Namun, di tengah pandemi corona, rumah sulaman Ambun Suri pun beradaptasi untuk memproduksi masker jenis kain. Hal ini dilakukan demi tuntutan pasar dan kebutuhan yang memang diperlukan hari ini. Lantas, hasil produksi masker UMKM binaan tersebut, juga kembali diberikan gratis oleh Pertamina ke pemerintah daerah dan masyarakat.

Pertamina terus memberikan perhatian kepada pelaku UMKM selaku penggerak ekonomi kerakyatan. Sebab, benteng pertahanan ekonomi negara juga berada di tangan usaha kecil yang tersebar di seluruh tanah air.

Perhatian yang diberikan Pertamina merata kepada semua bidang UMKM. Tidak melulu untuk pelaku usaha produk, namun juga pertanian. Seperti kelompok tani pengembangan serai wangi yang dimotori Khadir di Pesisir Selatan. Menurut Roby, budidaya serai wangi mulai digemari di Pesisir Selatan. Hal ini dampak dari meredupnya pamor kepala sawit sebagai usaha pertanian primadona di daerah tersebut.

"Pertamina mendorong pertumbuhan UMKM dengan memberikan akses peminjaman bantuan usaha dengan masa pengembalian 36 bulan," katanya.

Dia berharap, dorongan Pertamina kepada pelaku usaha, betul-betul bermuara pada terciptanya UMKM yang mandiri. Serta, membuka lapangan pekerjaan yang tentunya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. []

Berita terkait
Nicke Widyawati, Wanita Tasikmalaya yang Jadi Bos Pertamina
Nicke Widyawati, Dirut Pertamina masuk peringkat ke-16 dari daftar 50 wanita paling berpengaruh di dunia versi Fortune.
CORE Ungkap Alasan Harga Avtur Pertamina Termurah di Asia
Ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan harga bahan bakar Avtur yang ditawarkan Pertamina merupakan yang termurah di Asia.
Pertamina Klaim BBM Pertamax Laris di Masa Pandemi
Pertamina mengklaim selama masa pandemi masyarakat lebih cenderung beralih ke BBM jenis Pertamax.
0
Merawat UMKM, Cara Pertamina Mendukung Ekonomi Kerakyatan
UMKM binaan Pertamina didorong produktif di masa pandemi agar ekonomi masyarakat terus tumbuh, meski dalam keadaan sulit.