UNTUK INDONESIA
Menunggu Badai Corona Segera Berlalu
Pada masa social distancing, anak belajar di rumah, pegawai kerja di rumah, kegiatan ekonomi menurun. Semua berharap badai corona segera berlalu.
Andi Dara Melda berfoto bersama rekan-rekan sebelum masa libur kampus karena merebaknya wabah corona di Indonesia. (Foto: Andi Dara Melda/Tagar/Muhammad Ilham)

Makassar - Seperti daerah-daerah lain pada umumnya pada masa penerapan social distancing untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19, semua sekolah dan kampus di Makassar, Sulawesi Selatan, juga libur. Pelajar dan mahasiswa belajar di rumah dengan sistem online. Masyarakat Makassar berharap badai corona segera berlalu.

Social distancing adalah menjaga jarak sosial, menghindari kerumunan di tempat-tempat umum, belajar di rumah, bekerja di rumah. Kalaupun harus ke luar rumah, menjaga jarak dengan orang lain minimal satu meter. 

Pada hari-hari penerapan social distancing ini, para pekerja sektor informal di Makassar menjadi sulit mencari uang. Karena besar kecilnya penghasilan mereka sangat tergantung kehadiran orang-orang di jalan, pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lain.

Mila, wanita paruh baya, seorang pengemudi ojek online, dengan wajah lesu mengatakan makin jarang yang memesan ojek online sejak ada kebijakan libur sekolah dan kampus per Senin, 15 Maret 2020.

“Biasanya ramai orderan pagi hari karena banyak anak sekolah dan mahasiswa yang mengorder." ujarnya kepada Tagar, Kamis, 19 Maret 2020.

Pada hari normal ia mendapat 20-23 penumpang, kini bisa dihitung dengan jari. Walaupun demikian ia memaklumi kondisi saat ini. Ia tahu bahayanya virus corona.

Tapi dalam kondisi saat ini, menangkal penyebaran virus corona, saya memaklumi kebijakan kampus.

Corona MakassarPara siswa Sekolah Dasar Ujung Pandang Makassar sesaat sebelum diliburkan karena merebaknya wabah virus corona di Indonesia, pertengahan Maret 2020. (Foto: Tagar/Muhammad Ilham)

Mila pun berusaha mengikuti anjuran social distancing dengan berkumpul keluarga di rumah, menanti pesanan ojek online di rumah.

“Selama libur sekolah, saya lebih banyak di rumah mendampingi anak belajar. Paling saya dapat orderan hanya 10. Itu pun, dari pagi hingga sore," tuturnya.

Nurhayati Syam Daeng Bulaeng, pengemudi taksi online, mengalami hal sama, sepi pesanan.

“Orderan turun. Biasanya 15 trip. Sekarang saya keluar dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore, cuma 10 trip," kata perempuan berusia 25 tahun ini.

Kadang lulusan jurusan kebidanan ini menunggu orderan hingga larut malam, tapi tetap saja sepi. Karena biasanya mahasiswa yang paling banyak memesan taksi online.

“Keluar dari jam 6 pagi sampai jam 8 malam hanya dapat 11. Kadang sampai jam 12 malam hanya dapat segitu juga. Pokoknya selama libur ini penerimaan orderan menurun,” ujarnya.

Ia tahu, situasi ini tidak terjadi di Indonesia saja, tapi juga hampir seluruh negara di dunia. Ia pun memaklumi tindakan social distancing yang ditempuh pemerintah.

Corona MakassarMila (tengah) bersama rekan komunitas ojek online. (Foto: Tagar/Muhammad Ilham)

Anak Belajar di Rumah, Orang Tua Senang

Andi Uchi Ichank, seorang ibu, pegawai di sebuah kantor pemerintahan di Makassar. Ia senang anak-anak sekolah diliburkan, belajar di rumah. Ia mengatakan sangat mendukung kebijakan pemerintah ini. Begitu pula ia juga bisa bekerja di rumah.

“Anak-anak belajar di rumah, saya sebagai orang tua bisa lebih dekat, bisa komunikasi dengan anak-anak. Pokoknya ada hikmah di balik semua ini,” ujar Uchi.

Hal sama disampaikan Priyanto, yang juga anaknya sekolahnya diliburkan, diganti dengan belajar di rumah. Ia khawatir kalau anaknya sekolah terus tertular virus corona entah di mana.

“Kami sebagai orang tua siswa ya cukup khawatir dengan virus corona ini. Apalagi kalau di sekolah mereka tidak terpantau dengan baik, bisa saja terkena virus corona. Untuk itu libur selama dua minggu ini sebagai langkah yang benar dari Pemkot Makassar,” kata Priyanto.

Kepala SD Ujung Pandang Makassar, Debora Hursepuny, mengatakan pada saat sekolah libur diharap para orang tua siswa, mengawasi anak-anaknya selama berada di rumah. Memastikan anak-anaknya belajar.

“Pengumuman libur sekolah selama dua minggu oleh Pemerintah Kota Makassar diharapkan tidak menghentikan secara total proses belajar siswa. Absensi dan pembelajaran akan tetap dilakukan oleh pihak sekolah melalui belajar online,” ujarnya.

Corona MakassarNurhayati Syam Daeng Bulaeng (jilbab cokelat) bersama rekan-rekan komunitas driver taksi online. (Foto: Nurhayati Syam Daeng Bulaeng/Tagar/Muhammad Ilham)

Andi Dara Melda, 21 tahun, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Hasanudin Makassar, tetap bertahan di Makassar, tidak pulang ke rumah orang tuanya di Kendari. 

“Selama diliburkan, saya tetap di rumah. Niat pulang kampung ada, tapi saya berusaha mematuhi kebijakan kampus yang melarang pulang kampung,” ujarnya.

Ia sebenarnya lebih senang belajar di kampus, ketemu dosen, bisa bertanya langsung apabila ada yang ia tidak mengerti.

“Proses belajar mengajar dengan tatap muka langsung lebih efektif, mahasiswa dapat memahami mata kuliah yang diberikan dosen," ujarnya. "Tapi dalam kondisi saat ini, menangkal penyebaran virus corona, saya memaklumi kebijakan kampus,” tuturnya

Andi Melda berharap seluruh warga negara Indonesia memahami kondisi saat ini, agar badai corona segera berlalu. []

Baca juga:

Berita terkait
Keterbukaan 3 Wanita Cantik Pasien Positif Corona
Seorang ibu dan dua putri, Maria Darmaningsih, Sita Tyasutami dan Ratri Anindyajati, pasien positif corona yang sembuh. Mereka membuka diri.
Kesaksian Tiga Pasien Sembuh dari Corona Covid-19
Tiga pasien positif corona Covid-19 dinyatakan sembuh. Mereka dengan kode pasien 01, pasien 02, pasien 03. Ini kesaksian dan harapan mereka.
Kisah Relawan Peramu Cairan Pencegah Corona di Jakarta
Siang itu di bawah lampu neon yang bergantung di langit-langit laboratorium Salemba, 12 relawan berjas putih meramu cairan pencegah corona.
0
Menunggu Badai Corona Segera Berlalu
Pada masa social distancing, anak belajar di rumah, pegawai kerja di rumah, kegiatan ekonomi menurun. Semua berharap badai corona segera berlalu.