UNTUK INDONESIA
Mengenang 40 Tahun Perang Iran vs Irak
Perang Iran-Irak jadi salah satu konflik militer terkelam di Timur Tengah, yang berlangsung delapan tahun menewaskan ratusan ribu orang
Penggunaan senjata kimia (Foto: dw.com/id).

Jakarta - Perang Iran-Irak jadi salah satu konflik militer terkelam di Timur Tengah. Berlangsung delapan tahun menjadi saksi penggunaan senjata kimia, menewaksn ratusan ribu orang, termasuk warga sipil, serta mengubah wilayah dan situasi politik global.

Konflik teritorialKonflik teritorial (Foto: dw.com/id).

Konflik teritorial. Pada 22 September 1980, diktator Irak Saddam Hussein mengirim pasukannya ke negara tetangga Iran. Ini jadi awal mula perang mematikan selama delapan tahun yang menewaskan ratusan ribu orang. Konflik perbatasan wilayah berlarut-larut jadi pemicu perselisihan dua negara mayoritas Muslim Syiah ini.

Perjanjian AljazairPerjanjian Aljazair (Foto: dw.com/id).

Perjanjian Aljazair. Lima tahun sebelumnya, pada Maret 1975, Saddam Hussein, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Irak, dan Raja Iran saat itu Shah Pahlevi menandatangani perjanjian di Aljazair, untuk menyelesaikan sengketa perbatasan. Baghdad menuduh Teheran merencanakan serangan dan memutuskan mengevakuasi tiga pulau strategis di Selat Hormuz, yang diklaim milik Iran dan UEA.

Sumber airSumber air (Foto: dw.com/id).

Sumber air. Pada 17 September 1980, Baghdad menyatakan Perjanjian Aljazair batal demi hukum dan menuntut kendali atas semua wilayah perbatasan Shatt al-Arab, sungai sepanjang 200 kilometer pertemuan sungai Tigris dan Sungai Efrat yang bermuara di Teluk Persia.

Pemboman pelabuhan dan kotaPemboman pelabuhan dan kota (Foto: dw.com/id).

Pemboman pelabuhan dan kota. Pasukan Irak meledakkan bandara Iran, termasuk yang ada di Teheran, serta fasilitas militer dan kilang minyak Iran. Pada pekan pertama pasukan Irak berhasil merebut kota Qasr-e Shirin dan Mehran, serta pelabuhan Khorramshahr di barat daya Iran, di mana posisi Sungai Shatt al-Arab bermuara.

Musuh bersamaMusuh bersama (Foto: dw.com/id).

Musuh bersama. Banyak negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Kuwait, mendukung Baghdad dalam perang melawan Iran. Hal ini didasari kekhawatiran atas perlawanan Syiah di Timur Tengah yang dipelopori oleh Ayatollah Khomeini dalam Revolusi Iran. Negara-negara Barat juga mendukung Baghdad dan menjual senjata kepada Saddam Hussein.

Dipukul mundur IranDipukul mundur Iran (Foto: dw.com/id).

Dipukul mundur Iran. Serangan balik Iran mengejutkan Irak ketika Teheran berhasil menguasai kembali pelabuhan Khorramshahr. Baghdad mengumumkan gencatan senjata dan menarik kembali pasukannya, tetapi Teheran menolaknya dan terus membom kota-kota Irak. Sejak April 1984, kedua belah pihak terlibat dalam "perang kota", di mana sekitar 30 kota di kedua belah pihak dihujani serangan rudal.

Penggunaan senjata kimiaPenggunaan senjata kimia (Foto: dw.com/id).

Penggunaan senjata kimia. Salah satu yang jadi sorotan dalamperang ini adalah penggunaan senjata kimia. Teheran pertama kali melontarkan tuduhan tahun 1984 - dikonfirmasi oleh PBB - dan juga pada tahun 1988. Juni 1987, pasukan Irak menjatuhkan gas beracun di kota Sardasht, Iran. Maret 1988, Iran mengklaim Baghdad menggunakan senjata kimia kepada penduduk sipilnya di kota Halabja di utara Irak yang dikuasai Iran.

Gencatan senjataGencatan senjata (Foto: dw.com/id).

Gencatan senjata. Pada 18 Juli 1988, Khomeini menerima resolusi Dewan Keamanan PBB untuk mengakhiri perang. Meskipun jumlah pasti dari mereka yang tewas dalam perang tidak diketahui, sedikitnya 650.000 orang tewas dalam perang tersebut. Gencatan senjata diumumkan pada 20 Agustus 1988.

Lembaran baruLembaran baru (Foto: dw.com/id).

Lembaran baru. Penggulingan rezim Saddam Hussein oleh AS pada tahun 2003 membuka era baru di Timur Tengah. Hubungan antara Irak dan Iran telah membaik sejak saat itu dan kedua negara meningkatkan kerjasamanya dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya. (Ed: rap/hp)/Shamil Shams/dw.com/id []

Berita terkait
Diembargo Amerika Serikat, Iran Minta Bantuan China
Kementerian Keuangan AS umumkan sanksi terbaru membidik 18 bank besar Iran, embargo berpotensi memutus akses transaksi internasional warga Iran
Covid-19, Korsel Pulangkan 293 Warganya dari Irak
Dua pesawat militer Korsel membawa pulang 293 warganya yang berada di Irak di tengah kekhawatiran melonjaknya kasus Covid-19 di negara itu.
Siapa Capres AS yang Diinginkan Rusia, China dan Iran Menang
Kalangan intelijen di Amerika Serikat (AS) dihantui pertanyaan tentang keinginan Rusia, China dan Iran terhadap pemenang pilpres AS
0
Jokowi Ingatkan Kepala Daerah Jaga Daya Beli Masyarakat
Jokowi meminta pemerintah daerah menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran agar daya beli masyarakat lekas pulih.