Mengenal Sindrom Capgras, Gangguan Psikotik Langka

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sindrom Capgras banyak ditemukan pada wanita, kulit hitam dan penderita skizofrenia
Ilustrasi Sindrom Capgras.foto.ist

Jakarta - Sindrom Capgras, juga disebut sebagai 'Capgras delusion' adalah gangguan kejiwaan di mana seseorang mulai percaya bahwa seseorang, terutama orang yang mereka cintai seperti pasangan, anggota keluarga (kakak, adik, bahkan orangtuanya sendiri), atau sekelompok orang telah digantikan oleh penipu yang mirip. Dalam kasus langka, seseorang yang mengidap sindrom ini bahkan sama sekali tidak mengenali bayangannya sendiri saat bercermin percaya bahwa cerminan yang dilihatnya adalah orang lain yang berpura-pura sebagai dirinya. 

Nama sindrom capgras berasal dari psikiater Perancis Joseph Capgras, yang pertama kali menerbitkan laporan tentang gangguan tersebut pada 1923. Sindrom capgras juga dikenal sebagai “sindrom imposter” atau “delusi Capgras".  Sindrom ini termasuk cukup langka, namun lebih banyak ditemukan pada wanita.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sindrom Capgras banyak ditemukan pada wanita, kulit hitam dan penderita skizofrenia. Berikut adalah pembahasan detail tentang sindrom Capgras, penyebab dan cara perawatannya.


Penyebab Sindrom Capgras 

Belum ada pejelasan yang pasti mengenai penyebab sindrom capras, namun ada beberapa teori yang menduga mengapa gangguan psikologis ini bisa terjadi. Salah teori menyebut bahwa delusi capras mungkin disebabkan oleh terputusnya koneksi antara bagian otak visual dengan daerah otak yang memproses reaksi pengenalan wajah.

Putusnya bagian ini bisa diakibatkan oleh cedera otak pasca trauma (terutama di sisi otak kanan), setelah stroke, atau akibat penggunaan obat yang berlebihan, sehingga menyebabkan seseorang tidak bisa mengidentifikasi seseorang yang mereka kenal.

Kondisi ini mirip dengan kondisi lain yang disebut prospagnosia alias face blindness, yang sama-sama tidak mampu mengenali wajah orang terdekat. Namun pengidap face blindness masih mengalami reaksi emosional terhadap wajah-wajah yang mendadak asing tersebut. Artinya, meski mereka merasa asing dengan wajah tersebut, mereka tahu bahwa mereka mengenal orang-orang itu.

Yang terjadi pada sindrom capgras justru kebalikannya. Pengidap sindrom ini mengenali wajah, namun merasa asing dan yakin bahwa orang tersebut benar-benar orang asing karena tidak mengalami reaksi emosional (misalnya rasa sayang pada saudara kandung atau orangtua, atau rasa cinta pada pasangannya)


Pengobatan Sindrom Capgras

Sindrom Capgras terutama diobati dengan obat neurologis atau psikiatris karena sebagian besar kasus sindrom Capgras dikaitkan dengan beberapa jenis gangguan kesehatan mental yang mendasarinya. Oleh karena itu, diagnosis yang tepat (baik secara fisik maupun mental) dilakukan untuk mengetahui penyebab pastinya dan karenanya, obat-obatan diresepkan.

Sebuah penelitian berbicara tentang pengobatan pasien skizofrenia dengan clozapine, yang juga memiliki gejala delusi Capgras. Jika penyebab kondisi adalah beberapa penyakit psikotik, obat antipsikotik atau antidepresan atau penstabil suasana hati diberikan untuk jangka waktu tertentu dan kemudian, hasilnya dievaluasi.

Orang dengan sindrom Capgras akibat penggunaan zat, alkohol akut, atau keracunan obat diberikan obat kombinasi seperti Aripiprazole dan Escitalopram untuk mengatasi gejala seperti kecemasan.

Namun, sampai saat ini perawatan yang paling baik untuk penderita sindrom capgras adalah dengan psikoterapi. Meski demikian diperlukan ketekunan dalam membangun empati penderita tanpa melawan anggapan kelirunya. Pada beberapa kasus, resep obat antipsikotik dapat menangani gejala delusinya sementara obat antikecemasan dapat menanggulangi rasa cemas dan gugup yang muncul ketika hidup dengan “orang asing” di sekitarnya. []


Baca Juga :

12 Makanan Kaya Vitamin A Terbaik untuk Kesehatan

7 Manfaat Keju Parmesan untuk Kesehatan Tubuh

Cornflakes, Makanan yang Baik untuk Penderita Diabetes

10 Bunga yang Bisa Jadi Makanan Sehat


Belum ada pejelasan yang pasti mengenai penyebab sindrom capras, namun ada beberapa teori yang menduga mengapa gangguan psikologis ini bisa terjadi. Salah teori menyebut bahwa delusi capras mungkin disebabkan oleh terputusnya koneksi antara bagian otak visual dengan daerah otak yang memproses reaksi pengenalan wajah.

Putusnya bagian ini bisa diakibatkan oleh cedera otak pasca trauma (terutama di sisi otak kanan), setelah stroke, atau akibat penggunaan obat yang berlebihan, sehingga menyebabkan seseorang tidak bisa mengidentifikasi seseorang yang mereka kenal.

Kondisi ini mirip dengan kondisi lain yang disebut prospagnosia alias face blindness, yang sama-sama tidak mampu mengenali wajah orang terdekat. Namun pengidap face blindness masih mengalami reaksi emosional terhadap wajah-wajah yang mendadak asing tersebut. Artinya, meski mereka merasa asing dengan wajah tersebut, mereka tahu bahwa mereka mengenal orang-orang itu.

Yang terjadi pada sindrom capgras justru kebalikannya. Pengidap sindrom ini mengenali wajah, namun merasa asing dan yakin bahwa orang tersebut benar-benar orang asing karena tidak mengalami reaksi emosional (misalnya rasa sayang pada saudara kandung atau orangtua, atau rasa cinta pada pasangannya).

Sampai saat ini perawatan yang paling baik untuk penderita sindrom capgras adalah dengan psikoterapi. Meski demikian diperlukan ketekunan dalam membangun empati penderita tanpa melawan anggapan kelirunya. Pada beberapa kasus, resep obat antipsikotik dapat menangani gejala delusinya sementara obat antikecemasan dapat menanggulangi rasa cemas dan gugup yang muncul ketika hidup dengan “orang asing” di sekitarnya.

Berita terkait
Jangan Stress Berlarut-larut, Tak Baik Buat Kesehatanmu
Stres adalah reaksi fisik dan mental yang alami terhadap aktivitas kehidupan sehari-hari. Jangan berlarut terlalu lama dalam stress demi kesehatan.
Musik Menolong Hilangkan Stres di Masa Pandemi Covid-19
Sebuah penelitian di Jerman ungkap musik telah membantu orang mengatasi stres emosional selama lockdown pada masa pandemi Covid-19
3 Hal yang Membuat Pria Lebih Stres Setelah Perceraian
Pria yang bercerai lebih rentan terhadap penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke.
0
Mitos-Mitos Seputar Nutrisi dan Pola Diet yang Menyesatkan
Menerpakan pola diat yang salah akan berdampak buruk bagi kesehatan Anda.