Menavigasi Perubahan Tarif Pajak Kripto hingga Nasib Bitcoin Pasca ETF

Pajak aset kripto di Indonesia telah resmi diterapkan sejak Mei 2022. Kebijakan ini dinilai memiliki dampak positif terhadap ekonomi Indonesia.
Menavigasi Perubahan Tarif Pajak Kripto hingga Nasib Bitcoin Pasca ETF. (Foto: Tagar/iSt)

TAGAR.id, Jakarta - Pajak aset kripto di Indonesia telah resmi diterapkan sejak Mei 2022. Kebijakan ini dinilai memiliki dampak positif terhadap ekonomi Indonesia, yaitu meningkatkan penerimaan pajak dan mendorong transparansi industri kripto.

Namun, beban tarif pajak yang terlalu besar dan belum dijalan secara komprehensif memberatkan industri kripto di Tanah Air. Hal ini dinilai menjadi salah satu penyebab di balik penurunan volume transaksi aset kripto.

Berdasarkan data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), jumlah transaksi kripto di Indonesia telah mencapai Rp 122,8 triliun per November 2023. 

Sementara di tahun sebelumnya, hingga November 2022 sebesar Rp 296,66 triliun. Sehingga terjadi penurunan sebesar 58% secara year-on-year (YoY).

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO), Yudhono Rawis, mengatakan penyesuaian tarif pajak yang tidak membebani pengguna dapat meningkatkan pendapatan pajak secara bertahap dan menjadi solusi yang menguntungkan bagi pertumbuhan industri kripto domestik. 

Ia juga menyoroti bahwa jumlah total pajak yang dibayarkan pada setiap transaksi dapat melebihi biaya perdagangan yang dibebankan oleh platform exchange.

“Ini jadi win-win solution untuk meningkatkan pertumbuhan industri kripto dalam negeri dan peningkatan pendapatan pajak dari sektor ini. Salah satu solusi mungkin dapat dipertimbangkan adalah mengurangi tarif pajak PPN untuk transaksi kripto. Hal ini akan membuat skema pajak kripto lebih komprehensif, tetapi tidak terlalu membebani pelaku usaha kripto,” kata Yudho.

Yudho memberikan solusi lainnya seperti implementasi program Tax Amnesty khusus untuk subyek pajak yang memiliki aset kripto di luar negeri. 

Banyak investor Indonesia saat ini memegang aset kripto di exchange luar negeri karena berbagai alasan, termasuk faktor regulasi dan pilihan aset.

Dengan adanya program Tax Amnesty ini, pemerintah dapat mendorong repatriasi dana serta deklarasi aset kripto yang dimiliki warga negara Indonesia di luar negeri. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kepatuhan pajak tetapi juga potensial pendapatan pajak dari sektor kripto.

"Penyesuaian tarif pajak dan implementasi Tax Amnesty adalah langkah yang realistis dan strategis untuk mendorong pertumbuhan industri kripto di dalam negeri, sekaligus meningkatkan penerimaan pajak. Dengan pendekatan yang tepat, Indonesia dapat menjadi pemimpin dalam adopsi dan regulasi aset kripto di kawasan Asia Tenggara," jelas CEO

Selain itu, Yudho juga berpendapat bahwa perlakuan terhadap kripto sebagai sekuritas, bukan komoditas, akan mengurangi beban pajak bagi pengguna. 

Skema pajak kripto seharusnya mirip dengan saham, di mana pajak PPh hanya dikenakan saat menjual. Ini didasarkan pada kesamaan karakteristik antara saham dan kripto sebagai aset keuangan digital yang diperjualbelikan dengan potensi keuntungan.

“Pertama kesamaan karakteristik antara saham dan kripto, yaitu keduanya merupakan aset yang dapat diperjualbelikan dan memiliki potensi keuntungan, menurut UU PPSK, sudah masuk kategori aset keuangan digital bukan komoditi, sehingga PPN tidak berlaku lagi seharusnya. Oleh karena itu, penerapan pajak yang sama untuk kedua instrumen investasi ini akan lebih adil dan konsisten,” kata Yudho.

Pemerintah Indonesia perlu menimbang berbagai aspek terkait pajak aset kripto. Di satu sisi, pemerintah perlu meningkatkan penerimaan pajak dari sektor ini. Di sisi lain, pemerintah juga perlu menjaga agar industri kripto tetap tumbuh dan berkembang di Indonesia. 

"Oleh karena itu, kami selalu terbuka untuk berdialog dengan pemerintah dan berbagi pandangan kami tentang bagaimana sistem pajak kripto dapat diperbaiki dan disempurnakan sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi semua pihak yang terlibat," tutup Yudho.

Dinamika Bitcoin Pasca-Persetujuan ETF SEC: Analisis dan Prediksi

Pada awal tahun 2024, pasar Bitcoin (BTC) mengalami fluktuasi yang signifikan. Harga Bitcoin sempat mencapai puncaknya di $48.000, yang menyebabkan lonjakan besar dalam kapitalisasi pasar kripto. Namun, tidak lama setelah itu, harga kembali turun ke kisaran $42.000, menandakan volatilitas yang tinggi di pasar.

Persetujuan Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) atas ETF Bitcoin spot telah menarik perhatian para pelaku pasar kripto. Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, yang mengamati dampak jangka pendek dari persetujuan ini terhadap volatilitas harga Bitcoin. Fyqieh mengutarakan kekhawatirannya tentang potensi reaksi "sell the news" di pasar Bitcoin.

Menurutnya, pasar mungkin membutuhkan waktu untuk mengkonsolidasikan keuntungan setelah pengumuman penting seperti persetujuan ETF.

"Pasar Bitcoin saat ini masih memberikan sinyal bearish. Persetujuan ETF oleh SEC membuka jalan bagi lebih banyak investor institusional, tetapi kita juga harus waspada terhadap volatilitas yang bisa terjadi sebagai reaksi pasar. Konsolidasi harga saat ini bisa menjadi momen penting sebelum kita melihat pergerakan besar berikutnya," ujar Fyqieh.

Tren Sideways dan Prospek Kenaikan 

Meskipun harga Bitcoin cenderung menurun setelah lonjakan awal, masih ada kemungkinan tren naik. Analisis terkini menunjukkan bahwa BTC sedang menuju ke zona permintaan yang penting, yang bisa menjadi titik balik bagi tren harga selanjutnya.

Baru-baru ini, kita melihat penurunan drastis dalam volatilitas harga Bitcoin. Harga cenderung datar, bergerak di sekitar level support $41.600. Kondisi ini diikuti oleh konsolidasi di sekitar level tersebut, yang berpotensi memicu kenaikan signifikan bila terjadi pemantulan harga dari area support ini.

"Likuiditas BTC masih mungkin menuju $40.000, dan akan menimbulkan reaksi berantai di seluruh pasar, FUD, sentimen negatif dan semacamnya. Bitcoin diperkirakan bakal berlabuh paling rendah di angka $38.500. Dari sana, kemudian harga akan mengalami rebound ke angka $39.000 hingga $43.000. Meskipun ada antisipasi akan koreksi pasar, tapi optimis peluang beli yang ada," jelas Fyqieh.

Fyqieh menyambut baik keputusan SEC dan melihatnya sebagai pendorong bagi adopsi Bitcoin yang lebih luas. Namun, dia juga menyadari bahwa mencapai adopsi luas mungkin memerlukan waktu lebih lama.

Menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve di akhir Januari mendatang, Fyqieh memprediksi pasar Bitcoin akan menjadi lebih aktif. 

Selain itu, komunitas kripto juga menantikan peristiwa halving Bitcoin yang diharapkan akan memberikan dampak signifikan terhadap harga.

Tahun 2024 menjadi tahun yang penting bagi Bitcoin, dengan volatilitas yang tinggi dan berbagai faktor yang mempengaruhi pasar. Keputusan SEC, reaksi pasar, serta peristiwa penting seperti FOMC dan halving, semuanya akan berperan dalam menentukan arah harga Bitcoin ke depan. 

Meskipun ada ketidakpastian, prospek jangka panjang tetap positif, dengan adopsi yang terus berkembang dan peningkatan minat dari berbagai pihak. []

Berita terkait
7 Rekomendasi Situs Mining Bitcoin Terbaik
Mining merupakan cara untuk menambang bitcoin tanpa perangkat khusus dengan memecahkan teka-teki komputasi.
Waspada! Inilah Berbagai Modus Penipuan Bitcoin
Banyak oknum yang memanfaatkan kepopuleran Bitcoin sebagai alat untuk melakukan kejahatan maupun penipuan alias Scam.
Dialog Akhir Tahun OJK hingga Harga Bitcoin $45K Semakin Dekat?
Aset kripto telah memainkan peran kunci dalam evolusi sektor keuangan digital di Indonesia, membantu meningkatkan inklusi keuangan.