Rocky menjadi pintu masuk untuk konsolidasi kelompok-kelompok radikal, sehingga tidak berdiri sebagai seorang pengkritik yang independen

Jakarta, (Tagar 1/3/2019) – Ketua Progres 98 Faizal Assegaf mengaku geram dengan ocehan Rocky Gerung yang kerap menarasikan kedunguan. Sebab, label dungu acap kali disangkakan dan ditujukan bagi orang-orang yang bertentangan pendapat dengan eks dosen UI itu.

Bagi Faizal, peran Rocky dalam talkshow di salah satu televisi swasta nasional sama halnya dengan badut. Menurut dia, narasi dungu dan akal sehat yang kerap dikemukakan Rocky justru berbahaya bagi kalangan penggemarnya, yang sudah kadung terhipnotis dengan propaganda.

“Ya berbahaya pada kelompok mereka sendiri yang sudah merusak akal sehat mereka yang kita lihat depan mata. Pandangan-pandangan Rocky itu merusak, ‘menyodomi akal sehat’. Jadi bahaya itu sudah memakan diri mereka (penggemar Rocky). Bagaimana dengan mayoritas rakyat semua melihat (Rocky) sebagai badut aaja,” ucap Faizal saat dijumpai Tagar News di Menteng, Jumat (3/1).

“Mengapa saya sebut 'sodomi' akal sehat, sebab narasi yang diciptakannya di berbagai media sosial dan tayangan televisi, di luar kepatutan sosial dan politik yang hidup di negeri Pancasila ini,” tegasnya.  

Ia melanjutkan, Rocky membuat narasi seolah-olah dengan ideologi Pancasila yang demokratis, atheis menjadi tidak dilarang di Indonesia. Padahal, kewajiban warga negara Indonesia memeluk agama yang diakui negara adalah suatu kewajiban.

Baca Juga: Said Aqil Siroj Tegaskan Perbedaan Kafir dengan Non Muslim

Dalam konteks ini, mantan alumni PA 212 itu justru melihat protes-protes yang kerap Rocky layangkan akan menghidupkan kelompok radikal dan intoleran di Indonesia.

Menurut dia, akal sehat Rocky sudah jauh dari independensi dan logikanya tidak mencerdaskan publik dalam memperkaya unsur demokrasi di momen Pilpres 2019. Sebab, kata dia, bermacam tudingan Rocky selalu dialamatkan ke kubu petahana, dengan misi menggerus elektabilitas.

“Rocky menjadi pintu masuk untuk konsolidasi kelompok-kelompok radikal, sehingga tidak berdiri sebagai seorang pengkritik yang independen yang mengarahkan publik dalam memperkaya demokrasi. Tapi yang dilakukan Rocky Gerung itu adalah memantik solidaritas radikalisme intoleran untuk menghadang elektabilitas Pak Jokowi yang semakin tidak bisa terbendung. Kan semakin tinggi itu,” urainya.

“Ini membuka ruang diskusi, saya nggak masuk di ruang pribadi. Rocky Gerung berhak bicara bebas, tapi jangan melanggar norma kepatutan, kepanikan, penghinaan-penghinaan di atas harus dihentikan,” tutup Faizal. []