UNTUK INDONESIA
Masker Sudah Langka Sebelum Ada Suspect Corona
Temuan suspect virus corona jenis COVID-19 di Depok, membuat masker menjadi barang yang paling diburu masyarakat dan menajdi langka.
Pasca Presiden Jokowi mengumumkan dua orang suspecet virus corona di Depok, masyarakat panic buying dengan memborong masker dan peralatan proteksi lain, termasuk sembako, membuat barang menjadi langka. Foto diambil di sebuah supermarket. (Windy Swastika).

Jakarta - Temuan suspect (orang yang terinfeksi) virus corona jenis COVID-19 di Depok, membuat masker menjadi barang yang paling diburu masyarakat dan menjadi langka. Namun menurut Atikah, seorang apoteker dari Apotek Roxy di Jakarta, masker sudah langka sebelum beredarnya informasi dua orang yang terinfeksi virus mematikan itu.

"Sejak ramai berita virus corona, orang banyak yang mencari masker di apotek. Persediaan masker di apotek kami juga sudah lama habis," ucap Atikah kepada Tagar, Rabu, 4 Mei 2020.

Menurutnya, setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan dua orang yang terinfeksi virus corona, semakin banyak orang yng mencari masker. Banyak masyarakat yang datang ke apoteknya kecewa karena tidak dapat masker. "Ya mau bagaimana. Kami sudah menceritakan yang sebenarnya, mulai dari masker N-95 sampai masker bedah, kami sudah tidak punya stok lagi," tuturnya.

Ia bisa memahami kekecewaan masyarakat, karena mereka khawatir dengan penularan wabah virus corona. Menurut Atikah, mungkin apotek-apotek yang lain seperti halnya Apotek Roxy sudah kehabisan stok.

MaskerBarang bukti masker dan antiseptic hasil pemimbunan warga Semarang yang diamankan polisi Jawa Tengah. Penimbunan memicu kelangkaan, membuat harga jual masker dan antiseptic melambung tinggi. (Foto: Tagar/Sigit Aulia Firdaus)

Hal senada juga dikatakan Puspita, apoteker K24 di wilayah Depok. Menurutnya, persediaan 5 box maker habis diburu hanya dalam waktu singkat. Pencuci tangan antiseptik, hand sanitizer juga ikut dibur orang. "Kami tidak bisa memberikan janji kepada mereka yang ingin memesan masker," tuturnya kepada Tagar.

Selain masker dan hand sanitizer, ucap Puspita, masyarakat juga mencari suplemen. "Suplemen juga banyak diburu karena mereka ingin menjaga kekebalan tubuh," tuturnya.

Perburuan barang-barang proteksi di pasar swalayan juga tak kalah seru. Hal itu diakui Ady, karyawan Alfamidi di bilangan Jakarta. Menurut ia, biasanya Alfimidi tempatnya bekerja menyediakan sekitar 6 hingga 15 lusin masker serta hand sanitizer.

"Selama ini nggak pernah habis, tapi kini habis diborong masyarakat," ucap Ady. Ia belum tahu apakah perusahaan menambah stok mengingat produk masker ini semakin langka dan harganya melonjak selangit.

Berdasarkan pantauan Tagar di sejumlah minimarket dan supermarket di Jakarta dan Depok, terjadi lonjakan permintaan masker, hand sanitizer, hingga sembako pasca pengumuman Presiden Jokowi. Dari beberapa supermarket yang dipantau, sejumlah barang, mulai dari beras, minyak, gula, makanan instan, minuman kemasan, hingga tisu sudah habis diborong masyarakat.[]

(Windy Swastika)

Baca Juga:

Berita terkait
Kronologi Polisi Bongkar Penimbun Masker di Makassar
Polsek Panakkukang kembali berhasil membongkar rumah penimbunan Face Mask (Masker) dan menangkap tiga pelaku.
Warga yang Tak Sakit Jangan Pakai Masker
Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel mengimbau warga yang tidak sakit agar tdak menggunakan masker, supaya masker tetap terjaga stoknya.
Masker Bukan Cara Satu-satunya Cegah Corona
Masker bukan cara satu-satunya untuk melakukan pencegahan atas wabah virus corona tapi menjaga pola hidup sehat dengan baik dari diri sendiri.
0
Gempa 5,6 SR Guncang Tapanuli Bagian Selatan Sumut
Gempa dengan kekuatan 5,6 Skala Richter mengguncang wilayah Tapanuli Bagian Selatan, Sumatera Utara.