UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Masjidil Haram Kurang Apa Berkahnya, Toh Ditutup Juga
Bupati Lombok Timur berkata Masjidil Haram itu kurang apa berkahnya, toh ditutup juga saat pandemi Covid-19. Sedang banyak pemimpin daerah ragu.
Ilustrasi - Masjid. (Foto: Pixabay/SuzyT)

Oleh: Syafiq Hasyim*

Saya senang sekali menonton bagaimana Bupati Lombok Timur memberikan arahan atas hal-hal yang harus ia lakukan sebagai pemimpin daerah tersebut, terutama untuk menghindarkan rakyatnya dari penularan wabah virus corona penyebab penyakit Covid-19. Ia mengatakan bahwa mereka tidak bisa lockdown secara langsung dan menyeluruh, tapi mereka bisa melaksanakan lockdown antarkecamatan. Dan menariknya, yang di-lockdown dalam hal ini termasuk penyelenggaraan salat Jumat, atau masjid-masjid.

Kita tahu bahwa sementara ini banyak pemimpin daerah yang masih ragu soal penutupan masjid. Tindakan Bupati ini memang yang sangat berani. Bupati meminta aparat berwenang berdiri di depan masjid. Masjid yang masih melaksanakan ibadah Jumat harus dihentikan menurutnya.

Dia berkata, Masjidil Haram itu kurang apa berkahnya, toh ditutup juga. Dengan ini Bupati ingin mengatakan bahwa Masjidil Haram dan Masjid Madinah sebagai simbol masjid tertinggi bagi umat Islam saja ditutup, apalagi masjid-masjid kita. Toh penutupan ini memang dikarenakan adanya virus yang berbahaya.

Dia juga mengutip pandangan ulama Al-Azhar yang memang menyetujui adanya penutupan masjid untuk salat Jumat. Bahkan dia memesan kepada para polisi agar mereka yang masih ngeyel untuk salat Jumat di masjid agar dibawa ke kantor polisi.

Pernyataan Bupati Lombok Timur ini menuai kontroversi. Bagi mereka yang tidak sepaham, mereka menganggap bahwa Bupati Lombok Timur ini terlalu sombong, arogan. Namun bagi yang sepaham, pernyataan Bupati Lombok Timur ini merupakan pernyataan yang harus diambil oleh seorang pemimpin sejati.

Tugas ulil amri memang untuk memimpin dan mengambil keputusan demi kemaslahatan bersama. Apa itu kemaslahatan bersama? Yaitu kemaslahatan yang diberikan dan ditujukan untuk rakyat yang dipimpinnya.

Dalam kaidah Usul Fiqih ada ungkapan yang mengatakan, "Tasharruf al-imam manathun bi al-maslahah," bahwa melaksanakan kekuasaan, kepemimpinan itu harus diikutkan pada kepentingan bersama.

Kita tahu bersama bahwa urusan dengan ibadah publik itu memang perkara yang tidak mudah untuk di-handle para pemimpin kita, terutama para pemimpin di daerah. Apalagi jika hal itu terkait dengan urusan ibadah kaum mayoritas. Namun yang lebih sulit lagi apabila sebagai pemimpin mereka gagal mencegah infeksi Covid-19, akibat dibukanya masjid dan tempat-tempat ibadah yang lainnya.

Masjidil Haram itu kurang apa berkahnya, toh ditutup juga. Dengan ini Bupati ingin mengatakan bahwa Masjidil Haram dan Masjid Madinah sebagai simbol masjid tertinggi bagi umat Islam saja ditutup, apalagi masjid-masjid kita. Toh penutupan ini memang dikarenakan adanya virus yang berbahaya.

Apa yang dikatakan Bupati Lombok Timur itu sebenarnya bukan larangan beribadah, namun larangan untuk beribadah di masjid dan tempat publik lain yang bisa menjadi penular virus Covid-19.

Bagi yang ngeyel mereka tetap berkata, pasar dan mal saja masih dibuka, kok masjid yang ditutup?

Dalam keadaan normal, suasana di mana tidak ada ancaman yang nyata akan adanya kematian, menutup rumah ibadah jelas tidak bisa ditolerir. Namun dalam keadaan yang mengancam kematian, masjid ditutup untuk menghindarkan kita semua dari marabahaya virus Covid-19.

Tempat-tempat menjual kebutuhan makanan memang tetap dibuka, karena kita tetap butuh mempertahankan hidup kita dengan adanya makanan tersebut. Sementara untuk masjid, kita masih bisa beribadah di dalam rumah. Sudah ada tuntunan dari banyak ulama di Indonesia tentang bagaimana melakukan ibadah di rumah dalam keadaan pandemi seperti ini.

Di sinilah sebetulnya implementasi dari kaidah usul fiqih yang mengatakan darurat yang konsekuensinya lebih ringan itu lebih didahulukan daripada darurat yang konsekuensinya lebih berat.

Di sinilah sekali lagi, kepemimpinan itu merupakan hal yang penting dan tak terhindarkan dari kita. Pemutus akhir keadaan darurat itu sendiri adalah seorang pemimpin.

Di dalam Islam, peran pemimpin dalam berbagai levelnya apalagi dalam era yang sangat sulit ini memang harus berkarakter decisive, tegas mengambil keputusan, namun tetap memperhatikan kepentingan publik.

Begitu kehadiran pemimpin itu dianggap sangat penting. Rasulullah pernah mengatakan, "Pemimpin itu adalah bayang-bayang Allah di bumi. Al-sultan dhill allahi fi al-ardii. Sultan adalah payung Allah di bumi." Hadis ini diriwayatkan Imam Baehaqi.

Ibn taymiyyah, seorang ulama dari kalangan mazab Hanbali mengatakan, "Situna sanatan min amamin jairin ashlahu min lailatin wahidatin bila shultonin, watajrubah tabayana dzalika. Enam puluh tahun di bawah pemimpin yang lacur itu lebih baik dari satu malam tanpa ada pemimpin dan pengalaman telah membuktikannya."

Pernyataan ibn Taymiyyah di atas jangan dipahami secara letterlijk (harfiah), tapi ambil makna implisitnya bahwa kepemimpinan itu memang tidak bisa ditiadakan. Bukannya kita rela dipimpin pemimpin yang lacur dan zalim. Hal ini jelas bukan inti pesan dari pernyataan ibn Taymiyyah di atas.

Ibn Taymiyyah mengibaratkan tanpa ulil amri keadaan akan jauh lebih kacau. Tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas segala kekacauan yang terjadi di antara manusia, kecuali pemimpin tersebut.

Jelas, kita tidak menghendaki semalam pun dipimpin pemimpin yang zalim, namun kita tidak mau juga adanya kekacauan karena hidup tanpa kepemimpinan di atas.

Kembali ke masalah pentingnya mematuhi kepemimpinan, pada dasarnya pentingnya mengikuti anjuran pemimpin adalah khas dari konsep kekuasaan, yang selama ini diyakini di dalam tradisi Islam Ahlu Sunah Wal Jamaah.

Saya kutipkan perkataan Sayyidina Hasan, beliau mengatakan bahwa "Ada lima hal yang menjadi urusan para pemimpin dengan kita, yaitu salat Jumat, perkumpulan, adanya hari raya, hari libur dan soal batas-batas. Sungguh demi Allah, agama ini tidak akan tegak kecuali dengan adanya mereka. Apabila mereka lari dan zalim, sungguh Allah tidak akan berdamai dengan para pemimpin ini, kecuali membalas mereka sampai batas tertinggi dari kerusakan yang telah mereka perbuat."

Sebagai catatan, pemimpin siapa pun itu orangnya adalah hal yang esensial bagi hidup kita, terutama di era pandemi seperti ini. Karenanya mari kita respek kepada para pemimpin kita. Caranya adalah patuhi segala hal yang baik dari mereka, dan ingatkan, serta kritik hal yang buruk dari mereka.

*Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), MA dari Leiden University, Belanda. Ph.D dari Freie University, Jerman.

Baca juga:

Berita terkait
Pandemi Corona dan Kisah Wabah Penyakit Zaman Nabi
Pandemi corona Covid-19 menyerang nyaris seluruh negara di dunia saat ini, ternyata peristiwa serupa pernah terjadi pada zaman kenabian.
Raja Salman, Tak Ada Umrah dan Haji Saat Wabah Corona
Salman bin Abdulaziz meminta muslim di seluruh dunia menunda umrah dan haji di tengah pandemi corona. Ini profil Raja Arab Saudi tersebut.
Meninggal Sakit Covid-19 Kenapa Disebut Mati Syahid
Kenapa orang meninggal karena wabah penyakit, pandemi Covid-19 saat ini disebut masuk surga sebagaimana orang yang meninggal karena jalan syahid.
0
Waspadai Efek Makanan Santan yang Selalu Dipanaskan
Makanan santan khas lebaran yang dipanaskan berulang kali bisa mempengaruhi kesehatan tubuh dan meningkatkan risiko penyakit jantung dan strok.