Indonesia
Maraknya Pernikahan Dini Dipicu oleh Seks Bebas
Seks bebas kerap bergonta-ganti pasangan tanpa dilandasi norma.
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Bengkulu, (Tagar 19/1/2019) - Seks bebas kerap bergonta-ganti pasangan tanpa dilandasi norma di wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu marak terjadi.

Pengadilan Agama (PA) Curup yang membidani kabupaten tersebut menyebutkan seks bebas menjadi alasan banyaknya kasus pernikahan dini di wilayahnya.

"Pernikahan usia muda atau dini tersebut akibat pengaruh dari pergaulan bebas atau kecelakaan, di mana anak perempuannya telah hamil duluan sehingga harus dinikahkan," kata Ketua PA Curup, Ahmad Nasoha di Rejang Lebong, disitat Antara, Jumat (19/1).

Bahaya pergaulan bebas dikalangan anak muda ini, tambah dia selain kurangnya pengawasan dari orangtua, juga pengaruh dari penggunaan alat-alat elektronik maupun internet.

Akibatnya banyak anak dibawah umur yang harus dinikahkan lantaran pasangannya hamil akibat melakukan hubungan layaknya pasangan suami-isteri.

Berdasarkan catatan pihaknya sepanjang 2018 lalu setidaknya ada 30-an kasus pernikahan dini yang terjadi di wilayah hukum PA Curup yang meliputi Kabupaten Rejang Lebong dan Kepahiang, dengan status masih sekolah di tingkat SMP maupun SMA sederajat serta ada juga yang tidak sekolah.

Kalangan anak dibawah umur ini diketahui manakala mereka dan keluarganya mengurus rekomendasi dari PA setempat untuk bisa dinikahkan setelah ditolak oleh KUA karena mereka masih berusia dibawah umur.

"Karena jika pasangan ini dinikahkan tanpa rekomendasi dari PA maka petugas KUA nya bisa dikenai sanksi pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak atau UUPA," tambahnya.

Sebagai pertimbangan dalam memberikan rekomendasi kepada pasangan dibawah umur tersebut, sebutnya hakim memberikan pertimbangan berdasarkan mashalat dan mudorotnya, karena anak perempuannya sudah hamil duluan sehingga harus dinikahkan.

Dia mengimbau kalangan orang tua di daerah itu, agar memerhatikan pergaulan anak-anaknya, kemudian memberikan pemahaman agama sehingga mereka bisa menyaring pengaruh negatif yang masuk ke daerah itu baik melalui pergaulan sehari-hari maupun kemajuan teknologi dan informasi.

Berita terkait
0
Kedamaian dan Kehangatan Orang-orang Papua di Bali
Mereka memakai topi kebanggaan Suku Asmat Papua, bertutur hangat dan akrab dengan para pecalang dan turis di Bali, berfoto dalam suasana bahagia.