UNTUK INDONESIA

Malam dan Ketelitian, Rahasia Keindahan Batik di Yogyakarta

Ada sejumlah bahan yang harus ada dalam proses pembuatan kain batik. Salah satunya adalah malam dan canting. Selain itu juga perlu ketelitian.
Tiga perempuan pebatik sedang bekerja di Adhinata Batik, di Bergan, Wijirejo, Pandak, Kabupaten Bantul, Senin, 11 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Bantul – Tiga perempuan paruh baya duduk di kotak kayu pada semacam paviliun rumah. Masing-masing tampak serius dengan selembar kain yang dipegang. Jemari mereka memegang canting, alat yang digunakan untuk menorehkan malam di atas kain mori.

Di antara ketiganya, satu tungku api kecil berbahan logam menyala memanasi wajan yang juga berukuran kecil di atasnya. Di dalam wajan berisi malam cair berwarna cokelat. Malam adalah semacam lilin yang digunakan untuk membatik.

Sesekali mereka meniup lubang canting yang ada pada genggaman jemarinya, kemudian menorehkannya pada kain. Asap putih tipis mengepul dari malam cair itu, menebarkan aroma khas. Beberapa canting lain tergeletak tidak jauh dari tempat ketiganya duduk siang itu, Senin, 11 Januari 2021.

Beberapa meter dari tempat pembuatan batik itu, seorang perempuan paruh baya lain duduk di kursi. Di mejanya tergeletak beberapa peralatan tulis menulis dan satu alat pembaca kartu untuk pembayaran digital.

Cerita Pebatik 2Mujinah, 59 tahun, pengelola Adhinata Batik, di Bergan, Wijirejo, Pandak, Kabupaten Bantul, menunjukkan koleksi kain batik miliknya, Senin, 11 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tumpukan kain batik yang tertata rapi di dalam rak mengelilingi perempuan itu, Mujinah. Perempuan berusia 59 tahun tersebut adalah pemilik sekaligus pengelola usaha batik yang dinamai Adhinata Batik, di Bergan, Pandak, Kabupaten Bantul.

Batik Cap dan Tulis

Mujinah mengaku baru enam tahun mengelola usaha batik warisan dari orang tuanya itu. Namun untuk pengalaman membatik, Mujinah mengaku sudah puluhan tahun bergelut dengan kain khas Jawa Tengah tersebut.

“Itu warisan dari ortu (orang tua) saya. Jadi ortu saya dulu juga seorang perajin batik, cuma karena kesibukan, saya baru enam tahun bisa melanjutkan. Sebetulnya sejak kecil, dari SD saya sudah terbiasa membatik,” ucap perempuan yang berprofesi sebagai guru di salah satu SMPN di Kabupaten Bantul ini.

Mujinah menjelaskan, proses membatik sebenarnya tidak terlalu rumit. Proses paling rumit dalam membatik adalah membuat pola, khususnya jika mendapatkan pola baru. Untuk membuat batik dengan pola yang baru memang membutuhkan sedikit energi ekstra.

Untuk membuat selembar kain batik dibutuhkan beberapa tahapan, dimulai dari menggambar pola pada kain. Setelah itu pola yang sudah digambar menggunakan pensil tersebut ditorehi malam menggunakan canting.

 Kalau pakai 6B tindesannya langsung kelihatan.

Biasanya penggambaran pola di atas kain menggunakan pensil. Yang terbaik adalah pensil 6B, sebab arangnya lebih empuk dan terlihat jelas saat digambar di kain.

“Pensil yang bagus adalah 6B, itu yang empuk. Kalau 2B bisa, cuma agak atos (keras), kurang membantu pekerjaan, karena kan tindesannya tidak begitu kelihatan. Kalau pakai 6B tindesannya langsung kelihatan.”

Cerita Pebatik 3Seorang perempuan pebatik karyawan Adhinata Batik, di Bergan, Wijirejo, Pandak, Kabupaten Bantul, Senin, 11 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Penggunaan malam dalam proses produksi, lanjut Mujinah merupakan ciri khas kain batik. Ada dua cara menorehkan malam pada kain mori atau kain putih. Pertama, dengan cara ditulis manual, dan kedua, dengan cap.

“Proses pembatikan cap itu dari kain mori langsung dicap, kemudian diwarnai sekali. Kalau mau diwarna sogan dikasih hitam, kemudian dibironi, kemudian warna terakhir. Kalau warna pelangi, ya warna awalnya dibuat pelangi, disemprot dengan kompresor,” dia menjelaskan.

Sementara pembuatan batik tulis, proses penorehan malam lebih rumit dan memakan waktu. Sebab, penorehan malam pada kain setelah digambari pola batik yang diinginkan harus teliti dan hati-hati. Para perajin harus jeli dan terampil mengikuti pola yang ada, termasuk pada pembuatan cecek atau motif titik-titik halus di kain.

“Sebetulnya prosesnya sama, cuma kalau batik tulis itu manual. Ditulisnya pakai canting satu-satu. Kalau cap kan tinggal teplek-teplek, begitu, lebih cepat. Kalau batik tulis membutuhkan ketelitian, lama, butuh waktu lama,” tuturnya.

Proses pembuatan selembar batik tulis membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan. Biasanya antara dua hingga tiga bulan, tergantung pada motif atau pola yang dibuat. Dari motif-motif yang ada saat ini, yang paling rumit dan sulit adalah pola batik klasik.

Sementara pola atau motif batik kontemporer atau modern disebutnya membutuhkan waktu pembuatan yang lebih cepat, yakni antara dua hingga empat minggu.

“Selembar bisa dua sampai empat minggu. Tapi kan produksiya tidak hanya satu, jadi dalam sebulan itu bisa produksi 30 atau berapa. Kan estafet dari pola, dibatik, disemprot, dll,” ujarnya melanjutkan.

Sedangkan untuk batik cap, proses produksinya hanya memakan waktu antara seminggu hingga dua minggu.

Selain proses produksi yang lebih rumit, harga batik tulis pun selisihnya cukup jauh dari harga batik cap. Selembar batik cap dijual seharga Rp 75 ribu hingga Rp 150 ribu. Sedangkan selembar batik tulis dibanderol dengan harga antara Rp 200 ribu hingga Rp 2,5 juta.

Cerita pebatik 4Perempuan pebatik karyawan Adhinata Batik, di Bergan, Wijirejo, Pandak, Kabupaten Bantul, mengambil malam menggunakan canting, Senin, 11 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Kalau batik tulis mulai Rp 200 ribu sampai Rp 2,5 juta. Yang klasik itu paling murah Rp 800 ribu.”

Pemasaran kain batik buatan Adhinata Batik bukan hanya di sekitar Yogyakarta saja, tetapi ke seluruh provinsi di Indonesia. Tak sedikit juga wisatawan mancanegara yang datang ke showroom Adhinata Batik untuk membeli batik dan membawanya ke negara mereka.

“Kami juga buka di Shopee, ada juga turis asing yang datang ke sini, ada Malaysia, Singapura, Belanda, Amerika, Jepang. Pandemi ini pengaruhnya ada, cuma alhamdulillah toko kami juga masih ada pesanan seperti seragam dll,” ucapnya melanjutkan.

Tren Motif Kombinasi

Sementara, seorang anggota keluarga Mujinah yang juga bekerja di Adhinata Batik, Isti Rokhayati, 43 tahun, menambahkan penjelasan Mujinah.

Kata Isti, sapaan akrabnya, saat ini pola batik yang sedang tren adalah kombinasi antara motif modern dan klasik. “Misalnya (motif) parang dikombinasi dengan bunga-bunga atau yang lagi tren. Jadi tidak fokus pada pakem pola batik.

Motif batik tradisional, lanjut Isti, cukup banyak jumlahnya, di antaranya motif truntum, parang, kawung, wahyu tumurun, sidomukti, sidoluhur, sidoasih, dan beberapa lainnya.

Saat ditanya mengenai kemampuannya menggambar pola bermotif klasik, Isti mengaku dirinya bisa mereproduksi motif-motif tersebut. Hanya saja, menggambar motif klasik disebutnya membutuhkan waktu lebih lama karena lebih rumit.

“Proses menggambarnya lebih lama yang pola klasik, karena butuh ketelitian. Kalau wahyu tumurun itu lama, kadang lebih dari dua minggu. Kalau yang kontemporer modern bisa sehari hingga dua hari.”

Berbeda dengan Isti dan Mujinah, seorang karyawan Adhinata Batik yang bertugas menorehkan malam, Isa, 60 tahun, mengatakan proses paling rumit dalam menorehkan malam pada kain adalah proses nyecek. Siang itu Isa sedang dalam membatik pada tahap penguatan warna.

Cerita Pebatik 5Seorang pebatik karyawan Adhinata Batik, di Bergan, Wijirejo, Pandak, Kabupaten Bantul, menorehkan malam menggunakan canting, Senin, 11 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Yang paling rumit adalah proses nyecek, memberi titik-titik kecil pada motif batik, karena harus benar-benar teliti,” ucapnya sambil memraktekkan proses nyecek pada kain yang dipegangnya.

Selain membutuhkan ketelitian dan keterampilan pembuatnya, proses nyecek juga membutuhkan canting dengan lubang yang lebih kecil daripada canting yang digunakan pada proses lain.

“Itu tergantung sama lubang canting juga. Canting ada ukurannya sebdiri-sendiri. Ada untuk nyecek, untuk membatiknya, untuk menembok, untuk ngengreng (Awal membatik).”

Isa yang berasal dari Jakarta mengaku sudah cukup lama bergelut dengan batik, tepatnya pada tahun 1985.

“Dulu saya masuk Jogja itu tahun 1981, mulai membatik tahun 1985 sampai 1990. Sesudah itu saya jualan sayur keliling karena waktu itu ada krismon, sebagian pada tutup. Sekarang saya membatik lagi setelah bu haji buka,” ucapnya menambahkan. []

Berita terkait
Pesanan Tas Rumahan di Sleman yang Mampet Saat Pandemi
Seorang perajin tas skela industri rumah tangga mengeluhkan tidak adanya pesanan tas sekolah dari pelanggan saat pandemi.
Jaket Kuning Pemberian Keluarga Penumpang Sriwijaya SJ 182
Seorang keluarga penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ-182 menceritakan saat-saat terakhirnya bertemu dengan kelima keluarganya itu melalui video call
Kulit Kerbau Toraja Jadi Kuliner Khas di Yogyakarta
Seorang pemilik usaha krecek, kuliner khas Jawa di Bantul, Yogyakarta, menggunakan bahan baku kulit kerbau yang dikirim dari Toraja dan Makassar.
0
Malam dan Ketelitian, Rahasia Keindahan Batik di Yogyakarta
Ada sejumlah bahan yang harus ada dalam proses pembuatan kain batik. Salah satunya adalah malam dan canting. Selain itu juga perlu ketelitian.