Lukman Hakim, Sejak Kecil Ditanamkan Tradisi Ajaran Nahdlatul Ulama

Pria usia 56 tahun itu tumbuh dan berkembang dalam keluarga besar NU.
Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin (Foto: Nuranisa)

Jakarta, (Tagar 20/3/2019) - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin belum bersuara terkait sejumlah uang yang disita penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari ruangannya buntut Operasi Tangkap Tangan (OTT) Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Rommy belum lama ini.

Lukman menyebut tidak ingin melangkahi lembaga antirasuah dalam memberikan keterangan terkait sejumlah uang yang disita KPK dari ruang kerjanya. Lukman menegaskan siap diperiksa KPK soal kasus suap atau jual-beli jabatan di instansinya yang ikut membelit Rommy.

Di balik itu, mengenal perjalanannya, Lukman identik dengan Nahdlatul Ulama (NU). Pria usia 56 tahun itu tumbuh dan berkembang dalam keluarga besar NU.

Lukman kecil sudah ditanamkan tradisi-tradisi NU oleh ayahnya yang pernah mengemban jabatan sebagai menteri agama tahun 1962-1968, Saifudin Zuhri.

Lukman sempat mengenyam pendidikan pesantren. Ketertarikannya pada pesantren diawali cerita ayahnya yang mengisahkan tentang kehebatan orang-orang yang telah lulus pesantren. Sejak itulah dirinya semakin tertarik dengan lingkungan pesantren.

"Pendidikan pesantren memang luar biasa. Pendidikan pesantren membekali santrinya dengan ilmu hidup, mengajari mereka berinteraksi dengan berbagai budaya, dan bahkan belajar tentang perbedaan," kata Lukman di situs pribadinya, Lukmansaifuddin.com.

Dari pesantren, pria kelahiran Jakarta itu memahami nilai-nilai agama dalam menyatukan keberagaman. Sebagai anak menteri, Lukman ingin meneruskan perjuangan ayahnya, menjaga religiusitas dan kerukunan bangsa.  

"Menjadi Menteri Agama merupakan kehormatan, sekaligus  amanah yang penuh tantangan," ucap dia.

Anak bungsu dari 10 bersaudara ini, sejak muda memang dikenal aktif berkecimpung di lingkungan keagamaan. Dia pernah sebagai wakil sekretariat pimpinan pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU) pada 1985-1988. Dia juga lama berkecimpung dalam Lajnah Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU periode 1988-1999 dengan peran sebagai wakil sekretaris, kepala bidang administrasi umum, koordinator program kajian dan penelitian, koordinator program pendidikan dan pelatihan, hingga menjadi ketua badan pengurus.

Lukman juga dikenal sebagai sosok yang supel dan mudah bergaul di semua kalangan. Dia mengaku tidak terlalu ambisius terhadap jabatan. Ini dibuktikannya ketika digadang-gadang sebagai menteri dari PPP di periode pemerintahan 2009-2014. Namun, dia justru memilih mengambil posisi sebagai Wakil Ketua MPR, yang bertugas mengurus empat pilar bangsa.

Namanya juga sempat disebut-sebut menjadi calon wakil presiden di Pilpres 2014. Ini berdasarkan pinangan dari Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie dulu. Namun dia juga tak lantas menerima tawaran itu, karena menurut dia jabatan tersebut memerlukan kapasitas dan kemampuan tertentu.

Baca juga: 

Berita terkait
0
Jalan Tol Serpong-Cinere Bayar Rp 11.000 Mulai 2 Juni
Jalan Tol Serpong-Cinere, ruas Seksi I Serpong-Pamulang mulai dikenakan tarif sebesar Rp11.000 untuk golongan 1 mulai Rabu, 2 Juni 2021.