Untuk Indonesia
Loser Prabowo, Kenapa Tak Mau Jadi Pecundang Keren?
theaustralian.com.au menyindir Prabowo sebagai loser atau pecundang, karena mengklaim menang dalam Pilpres 2019.
Di atas sunroof mobil capres nomor urut 02 Prabowo Subianto menyapa para pendukungnya. (Foto : Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Jakarta - Media Australia, theaustralian.com.au, dalam judul beritanya menyindir capres Prabowo Subianto sebagai loser atau pecundang, karena mengklaim menang dalam Pilpres 2019, kendati terbukti kalah dalam proses hitung cepat atau quick count yang dipublikasi oleh mayoritas lembaga survei nasional.

"Loser Prabowo claims victory on Indonesia," itulah judul berita yang ditulis oleh jurnalis Amanda Hodge dan Nivell Rayda, Sabtu 20 April 2019. Jika dialihbahasakan makna harfiah dari judul tersebut adalah 'Pecundang Prabowo Mengklaim Kemenangan di Indonesia.'

Media Australia itu menulis, soal informasi Prabowo Subianto yang masih ngotot melenggang sebagai pemenang yang sah dari Pilpres Indonesia 2019 yang digelar 17 April lalu.

Mantan Danjen Kopassus menganggap, hasil real count BPN lebih akurat ketimbang lembaga survei Indonesia, yang mayoritas mengungguli paslon 01 Jokowi-Ma'ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden yang mendapat mandat dari mayoritas rakyat Indonesia.

Sejauh ini, justru Prabowo sudah mendeklarasikan kemenangannya sebanyak 4 kali, bahkan telah melakukan sujud syukur mengulang kejadian serupa pada Pilpres 2014 silam, dimana ia bersama Hatta Rajasa harus mengakui keunggulan Jokowi-Jusuf Kalla.

Seperti diwartakan Tagar News, pada Sabtu 20 April 2019, Wakil Sekretaris TKN Raja Juli Antoni (Toni) mengatakan, alangkah baiknya bagi seorang pemimpin yang kalah, untuk segera mengucapkan selamat kepada sang pemenang dalam pesta demokrasi ini.

"Setelah pemilu selesai, semua calon pemimpin melakukan concession speech pidato kekalahan. Biasanya mereka saling telepon ucapkan selamat. Jadi itulah demokrasi menjadi pemenang yang baik, maupun pecundang yang keren. Cuman nampaknya di kita (Indonesia) belum ada," ucap Toni dalam wawancaranya dengan Tagar News, Jumat 19 April 2019.

Oleh sebab itu ia berharap, mantan suami Titiek Soeharto dapat legowo menerima realitas hasil Pilpres 2019, sekalipun kenyataan itu amatlah pahit baginya.

Menurut Toni, bila Prabowo menyatakan kekalahannya, maka namanya akan harum dan tercatat dalam sejarah sebagai seorang negarawan yang kalah secara terhormat dalam pesta demokrasi 5 tahunan ini.

"Jadi terus terang ini sebenarnya soal elit ya, soal Pak Prabowo sebenarnya. Kalau Pak Prabowo bisa legowo, bisa menunjukkan diri sebagai seorang patriot, negarawan, sebenarnya lebih cepat ia mengakui kalah, pastinya itu akan menjadi kekalahan yang terhormat. Dan sejarah akan mencatatkan Pak Prabowo sebagai seorang negarawan," tandasnya.

"Bahwa sebenarnya memang semua orang paham secara konstitusional, hasil real count itu yang akan menentukan, siapa yang menjadi pemenang," tutup Sekjen PSI. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Mahfud MD Sarankan Jokowi Mengundang Agus Rahardjo cs
Mahfud MD menjelaskan tidak tepat pimpinan KPK menyerahkan mandat ke Presiden. Walau demikian ia menyarankan Jokowi mengundang mereka untuk bicara.