UNTUK INDONESIA
Lima Kesalahan Menggunakan Tas Carrier Saat Naik Gunung
Menggunakan tas carrier ketika mendaki gunung tidak dapat dipisahkan. Namun, masih banyak pendaki belum mengetahui memakai carrier dengan benar.
Ilustrasi pendakian. (Foto: dok. Tagar).

Jakarta - Menggunakan tas carrier ketika mendaki gunung tidak dapat dipisahkan. Tanpanya, perlengkapan pendakian, mulai dari logistik, peralatan pendakian dan keperluan lainnya tidak dapat terbawa.

Namun, banyak pendaki sering melakukan kesalahan dalam penggunaannya, fungsi dari beberapa fitur tas carrier sering tidak digunakan. Karena banyak dari mereka belum paham akan fungsi yang sudah dibuat untuk kenyamanan penggunaan tas carrier.

Tidak bisa dipungkiri, kini pendakian sudah menjadi gaya hidup. Pendaki sudah mulai menjamur, dari kisaran umur yang bervariasi. Sayangnya, mereka asal mendaki tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan.

Nah, berikut Tagar kutip dari akun Instagram pendaki_tangerang lima kesalahan yang sering dilakukan pendaki saat menggunakan tas carrier.

1. Tidak Menggunakan Hipbelt 

HipbeltHipbelt. (Foto: gossamergear)

Penggunaan hipbelt menjadi kunci utama kenyamanan sebuah carrier. Karena, 80 persen beban harus di transfer ke pinggul. 

Pendaki masih banyak yang tidak mengetahui fungsi dari hipbelt. Hal itu membuat mereka banyak yang tidak menggunakan atau memakainya. Kadang hal ini dianggap sepele atau tidak terlalu penting. 

Padahal bila tidak menggunaan hipbelt akan memberikan efek yang luar biasa bagi tubuh. Beberapa efeknya, yakni tulang bahu bisa bergeser, cedera, hingga patah.

2. Tali shoulder straps ditarik terlalu kencang

shoulder strapsShoulder Straps. (Foto: kelty)

Tali shoulder yang ditarik terlalu kencang akan membuat beban carrier berpindah ke bahu. Hal ini akan membuat bahu mendapatkan beban berlebih dan membuat cepat lelah. Kadang hal ini luput dari perhatian para pendaki.

Seharusnya, beban carrier ditanggung pinggul. Untuk itu harus mengingat aturan dua jari, harus ada jarak dua jari antara shoulder straps dengan bahu. Tandanya, bahu dan dan tangan bisa bergerak bebas.

3. Torso carrier lebih pendek dari torso badan pendaki

Torso CarrierTorso Carrier. (Foto: sectionhiker)

Bila hal ini terjadi akan berdampak pada beban ransel ditanggung bahu, seharusnya beban dari carrier itu ditanggung pinggul. 

Torso kepanjangan membuat carrier tidak menempel sempurna dengan pendaki dan akan bergoyang-goyang ketika melakukan pendakian.

4. Load lifter straps ditarik terlalu kencang

Load Lifter StrapsLoad Lifter Straps. (Foto: kurgo)

Seharusnya load lifter straps posisinya di atas shoulder straps yang menyambungkan kepala carrier dengan shoulder straps. Posisi load lifter straps yang benar adalah membentuk sudut 45 derajat, tidak kurang dan lebih. 

Bila posisinya terlalu kencang akan membuat beban carrier ke bahu dan dada. Sedangkan terlalu kendur akan menarik tubuh ke belakang. Hal ini tentunya akan membuat beban semakin berat dan tidak merasa nyaman saat melakukan pendakian.

5. Sternum straps ditarik terlalu kencang

Sternum StrapsSternum Straps. (Foto: trakke)

Tali di bagian dada, dibuat agar shoulder straps sebelah kiri dan kanan tidak bergoyang saat dipakai dengan mengunci backpack menempel ke badan. Namun, jika terlalu kencang akan menyebabkan beban pindah ke area dada.

Untuk itu, harus mengatur sternum straps sedemikian rupa, agar tidak terlalu kencang ataupun kendur. Hal ini perlu dilakukan untuk kenyamanan saat mendaki. []

Berita terkait
Jurang Kandang Babi Momok Pendaki Carstensz Papua
Puncak Carstensz di Papua memiliki jalur dengan jurang selebar 15 meter, Kandang Babi sebutannya. Terkenal paling mengerikan.
Empat Trik Mengatasi Kelelahan Saat Mendaki Gunung
Mendaki gunung salah satu jenis olah raga yang membutuhkan tenaga ekstra. Untuk itu dalam mengatasi kelelahan perlu melakukan ritual tersendiri.
Semeru dan Empat Gunung Mempesona di Malang
Semeru di Malang, Jawa Timur salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa, memiliki ketinggian 3.676 mdpl.
0
Orang Batak Sudah Mulai Malu Berbahasa Batak
Trisna Pardede menggelar diskusi soal bahasa Batak bersama Saut Poltak Tambunan, penulis novel berbahasa Batak Si Tumoing Manapu Nipi.